Bab 162

384 38 2
                                        

Alvan tersenyum di dalam kamar Apartemennya di Canada setelah mendengar rengekan manja istrinya tadi saat di telpon,  sungguh rasanya semakin hari istrinya itu semakin bertingkah manis saja sehingga membuatnya semakin jatuh ke dalam pesona istrinya itu. Rengekan Danisha yang isinya hanya bilang Rindu, nanyain kapan pulang dan banyak lagi ucapan manjanya yang membuat Alvan ingin segera pulang untuk memeluk istrinya itu.

Tadi juga Danisha cerita tentang kesulitannya dalam mengerjakan skripsinya, bukan karena ia menyerah Tidak! Istrinya itu orang yang paling pantang untuk menyerah, tapi hanya karena jengkel terhadap dosennya saja. Padahal kemarin-kemarin dia sudah menyuruh Danisha untuk membelikan hadiah ke dosennya itu untuk memuluskan bimbingan skripsinya tapi langsung ditolak mentah-mentah oleh Danisha malah bilangnya " sayang uangnya, bagus kasih ke aku aja mas!"  Kadang pemikiran Danisha yang seperti ini sangat membuat Alvan tidak habis pikir,  membelikan Dosennya hadiah tidak akan membuatnya miskin tapi Danisha tetap dengan sikap merakyatnya padahal uangnya adalah uang Danisha juga bahkan card yang ia kasih ke Danisha belum berkurang sedikit pun!


Kemudian Alvan teringat pada obrolannya tadi siang dengan Aliksa ayahnya yang mana menyinggung soal keturunan pada mereka. Bukan memaksa atau menyuruh hanya saja sebagai orangtua pastilah Aliksa maupun Briyanna menginginkan cucu mereka segera hadir tapi Danisha masih terlalu muda rasanya untuk menjadi seorang ibu, Alvan tidak pernah membahas tentang anak kepada Danisha, Dia ingin Danisha tidak terbebani dengan hal itu, apalagi mengingat saat ini Danisha tengah sibuk-sibuknya mengurus skripsinya bahkan dengan rencana S2nya.


Usia Danisha masih dua puluh tahun, dan pernikahan mereka juga baru beberapa bulan, Alvan  takut Danisha belum  mau memiliki anak dulu untuk sekarang ini, Alvan juga takut dengan penolakan Danisha yang berujung pertengkaran mereka, Alvan sangat takut hal itu terjadi. Biarlah untuk sekarang Danisha menikmati statusnya sekarang yang walaupun sudah menikah tapi tidak membuat impiannya terhambat.

"Oswald Kingdom akan semakin kuat jika memiliki calon Ahli waris Al, seperti Papa yang mewariskannya ke kamu, kamu juga nantinya harus memiliki pewaris, Papa tidak menuntut harus sekarang, tapi cobalah bicarakan dulu ke Danisha!" Ucapan Aliksa tadi semakin berkeliaran di kepala Alvan sehingga membuat rasa kantuknya hilang walaupun malam sudah semakin larut.




Berbeda dengan Danisha yang saat ini tengah memilih beberapa dress hitam yang akan ia pakai di acara Party nya Viya bersama Elisha dan Inggrid. Ketiga gadis itu seolah tidak ada capeknya mengelilingi mall dengan beberapa kantong belanjaan mereka yang sudah memenuhi kedua tangan mereka.


Besok Viya mengadakan party sebelum pernikahannya katanya untuk merayakan berakhirnya masa gadisnya. Ada-ada aja memang tapi ya terserah Viya, dia memang sangat suka suasana party bahkan dia sampai mengubah Lounge rumahnya menjadi seperti club lengkap dengan DJ nya. Dan jangan lupakan katanya dia mengundang semua mahasiswa satu jurusannya khusus yang perempuan saja. Cowok-cowoknya tidak dia undang sama sekali.

"Gimana jadinya Bimbingan Lo Danish?" Tanya Elisha di sela-sela langkah mereka menuju salah satu resto yang ada dalam mall.

"Jangan ingetin please! Gue hampir ribut sama Bu Rasty!" Kata Danisha mengingat kejadian tadi pagi.

"Parah banget emang Bu Rasty itu! Gue denger juga kemarin pada bahas Bu Rasty di kantin kampus yang semena-mena banget!" Ucap Inggrid menambahkan.

"Banyak juga yang kayak Lo Danish ganti pembimbing, tapi ada juga yang bertahan tapi ngasih gift gitu!" Tambah Inggrid lagi.

" Kemarin Alvan juga udah nyuruh gue untuk belikan Bu Rasti hadiah tapi gue nggak mau!"

"Kenapa?" Tanya Elisha dan Inggrid serempak.

"Sayang uangnya lah! Bagus kasih ke gue kan!"

"Yassalam... Danish! Uang laki Lo nggak akan habis kalau cuma belikan hadiah ke Bu Rasty!" Pekik Inggrid.

"Heh... Laki gue capek kerja siang malam nyari uang itu bukan untuk Bu Rasty ya!" Bantah Danisha tak mau kalah.

"Uang segitu mah nggak berarti apa-apa buat Alvan!

"Diiihhh...suka hati gue lah, gue udah keburu kesal sama tuh dosen males aja kalau sampai tuh dosen ikut menikmati hasil kerja laki gue!"  Kata Danisha lagi yang semakin membuat kedua sahabatnya itu mematung heran.


"Terus sekarang nasib skripsi Lo gimana?" Tanya Inggrid.

"Masih lanjut tapi ganti Dospem gue, gue udah ngomong tadi sama pak Satya mantan calon mertua Lo!" Jawab Danisha seenaknya sehingga membuat Inggrid mendelik tak suka.


"Mantan calon mertua nggak tuh!" Elisha tertawa jahat.

"Nyesal gue ikut Lo berdua!" Dumel Inggrid lalu berjalan duluan ke salah satu meja di dalam resto meninggalkan kedua sahabatnya yang masih sibuk menertawakannya.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang