Bab 71

1K 58 1
                                        


Dislokasi bahu yang merupakan bergesernya tulangnya atau terlepasnya tulangnya  dari sendi akibat cidera pada bahu yang terbentur dan Cidera di kepala berupa geger otak ringan  yang untungnya tidak sampai terjadi pendarahan pada otaknya!"....

Penjelasan Dokter tadi mengenai kondisi Danisha masing terngiang-ngiang di telinga Alvan. Dimana kondisi Danisha setelah operasi masih tergolong kritis  itu sebabnya dia harus berada di ruang ICU  sekarang.

Alvan menatap sendu pada tubuh Danisha dari balik dinding kaca, gadisnya yang terkulai lemas dengan segala peralatan medis  yang menempel di tubuhnya mungilnya  sungguh membuat hatinya hancur. Dari semalam dia tidak pernah meninggalkan Danisha, dia tidak mau melewatkan hal sekecil apapun  tentang kekasihnya itu. Tatapannya  tidak pernah lepas Dari Danisha yang masih betah menutup rapat kedua matanya.

"Al, Lo makan dulu sana, biar kita yang jagain Danisha!" Ucap Rion yang siang ini  berkunjung lagi ke rumah sakit bersama Inggrid.

"Gue nggak laper Rion!"

"Tapi tubuh Lo butuh makan Al,  Danisha pasti baik-baik aja!" Kata Rion lagi.

"Danish kapan bangunnya ya, udah sore padahal!" Kata Inggrid seraya menghapus air matanya.

"Kita berdoa saja supaya Danisha cepat bangun!" Ucap Rion.

Nggak lama kemudian Sandara datang  masih dengan jas dokternya pertanda ia baru saja ada jadwal praktek, karena memang Rumah sakit tempat Danisha di rawat merupakan tempat dia bekerja juga sebagai salah satu  Dokter spesialis jantung dan pembuluh Darah.

"Danisha baik-baik aja kan Tante?" Tanya Inggrid mendekati Sandara dan ikut berdiri  di balik dinding kaca ruangan ICU.

"Kita sama-sama berdoa ya sayang,!" Sahut Sandara sendu, sebab dia juga tidak tau kenapa Danisha belum mau bangun juga, padahal Dokter yang menanganinya bilang dia akan segera bangun. Sandara menatap pada tubuh putrinya itu, perasaan takut begitu menghantuinya.

Kemudian tatapan Sandara tertuju pada Alvan yang sejak semalam selalu menunggui Danisha,  Bahakan laki-laki itu tampak begitu terpukul. Sandara  tau  kalau Alvan sangat mencintai putrinya, tanpa dikasihtau sekalipun  Sandara bisa melihat itu lewat tatapan matanya.

"Alvan......!" Lirih Sandara  memanggil Alvan yang  masih berdiri di depan dinding kaca ruangan ICU. Alvan hanya menoleh tanpa berniat bersuara.

"Terimakasih ya udah jagain Danisha,  terimakasih selalu ada di samping Danisha!" Ucap Sandara yang masih diiyakan oleh Alvan lewat anggukan kepalanya. Dia tidak tau harus berkata apa, pikirannya terlalu kacau.

"Sekarang udah ada Tante, Rion dan Inggrid di sini, kamu istirahat dulu makan ya!  dari semalam kamu belum ada makan apa-apa, belum tidur, badanmu juga harus kamu jaga!" Ucap Sandara lagi dengan lembut sambil menatap laki-laki teman dari putrinya itu.

"Tapi Tante......"

"Tante nggak mau kalau kamu sampai sakit,  jangan buat khawatir orang tua kamu nak!"  Kata Sandara menghentikan ucapan Alvan.

"Iya Al, Lo istirahat dulu, kita masih di sini kok dan Rayyan  sama Ayu juga bentar lagi nyusul katanya!"  Kata Rion membenarkan ucapan Sandara.

Alvan kembali menatap Danisha,  berat rasa  hatinya meninggalkan gadisnya itu, tapi perkataan Sandara barusan ada benarnya, dia harus menjaga kesehatannya  agar selalu bisa menemani Danisha di rumah sakit.

"Saya pulang dulu Tante, kalau Danisha bangun saya mohon tolong kabari saya!" Ucap Alvan, Sandara tersenyum mengiyakannya seraya menepuk pelan bahu Alvan.

"Gue balik dulu Rion, Ing!" Pamit Alvan.

"Lo hati-hati ya!" Kata Rion.

Kemudian dengan berat hati Alvan beranjak meninggalkan ruang Tunggu ICU untuk pulang sebentar ke rumahnya.

Di rumah Alvan, Briyanna tampak cemas dan gelisah menunggu putra satu-satunya yang sejak semalam belum pulang-pulang juga,  bahkan ponselnya tidak sekalipun dia jawab.

Akhirnya Briyanna lega ketika sebuah suara mobil memasuki pekarangan rumahnya dan melihat  Alvan keluar dari dalam.

Briyanna sangat lega, tapi..... Ada apa dengan wajahnya?

"Al, kamu darimana nak dari semalam nggak pulang?" Tanya Briyanna ketika Alvan sudah masuk ke dalam rumah. Briyanna menatap heran dengan raut sedih putranya.

"Danisha ma...!" Lirih Alvan.

"Danisha kenapa?" Tanya Briyanna bingung.

"Semalam Danisha ditabrak mobil, sekarang masih di rumah sakit, Danisha pasti sembuh kan ma?" Alvan memeluk Briyanna, sifat manjanya akan ia tunjukkan  saat ia tengah rapuh seperti sekarang ini. Alvan memeluk Briyanna dan menangis dalam pelukan hangat wanita itu.

Untuk pertama kalinya Briyanna melihat putranya sekacau ini, dan untuk pertama kalinya putranya menangis. Briyanna akhirnya tau sedalam apa perasaan putranya pada gadis yang bernama Danisha itu.

"Iya, Danisha pasti  baik-baik saja Nak!" Lirih Briyanna menenangkan Alvan seraya mengelus kepala putra semata wayangnya itu.

"Sekarang kamu mandi ya, makan lalu istirahat nanti malam kita sama-sama ke rumah sakit melihat Danisha!"  Ucap Briyanna seraya melepas pelukannya.

Alvan hanya menganggukkan kepalanya dan mulai beranjak meninggalkan Briyanna.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang