Alvan menatap malas pada sosok tiga orang yang saat ini tengah duduk di depannya, dua diantaranya merupakan seorang ayah dan anak yang ingin menawarkan kerja sama ke perusahaan Oswald sementara sosok satunya lagi adalah Aliksa ayah dari Alvan sendiri. Sudah sejak dua jam yang lalu dua orang tamu tak diundangnya itu berusaha untuk membujuk Alvan maupun Aliksa agar menyetujui kerja sama yang mereka tawarkan.
Sebenarnya sudah sedari tadi Alvan ingin mengusir ayah dan anak itu, tapi Aliksa ayahnya masih saja mau menanggapi omong kosong kedua orang itu. Belum lagi yang memuakkan bagi Alvan adalah tingkah putrinya yang sedari tadi sepertinya berusaha untuk menarik perhatian dari Alvan, bahkan terkesan seperti perempuan penggoda menurut Alvan.
"Katakan, jaminan apa yang anda tawarkan agar saya bisa pertimbangkan dan memikirkan ulang tentang proyek ini?" Kata Alvan menatap tajam orang di depannya itu dari kursi kebesarannya, ia sangat tidak Sudi untuk duduk bersama di sofa.
Alvan sendiri bukanlah orang yang penyabar yang betah mendengar semua perkataan pria paruh baya di depannya itu, baginya waktu itu sangat penting. Sudah sejak tadi dia diam dan bersikap baik walau itu dia lakukan hanya untuk menghargai kehadiran Aliksa sang Ayah. Dia juga tidak mungkin lepas kontrol dan mempermalukan Aliksa , dia tidak segegabah itu.
"Sebelumnya, kenalkan ini adalah putri saya Tuan Al, dia baru saja menyelesaikan pendidikannya dari Swiss!" Ucap pria paruh baya itu memperkenalkan putrinya yang sedari tadi duduk di sampingnya.
"Langsung ke inti pembahasannya saja Tuan, saya sangat tidak suka basa-basi!" Sarkas Alvan yang sama sekali tidak memperdulikan sedikitpun gadis di depannya itu.
"Justru itu Tuan Al, saya sengaja membawa putri saya yang tidak hanya cantik tapi dia juga pintar, bukankah dia sangat cocok untuk mendampingi anda demi kelancaran proyek kita ini?" Kata Pria itu percaya diri, tidak tau saja dia kalau Alvan sudah sangat muak melihatnya. Apalagi ketika melihat putri yang dia bilang Cantik dan pintar itu tengah menyisipkan rambutnya di balik daun telinganya untuk memperlihatkan leher jenjangnya, dan juga sedari tadi gadis itu selalu berusaha menarik perhatian Alvan dengan melorotkan kerah kemeja ketatnya, bukannya terpesona Alvan malah semakin muak melihatnya.
"Tidak heran kalau perusahaan anda berada diambang kebangkrutan Tuan, ternyata pengetahuan anda sebatas taktik kotor seperti ini!" Ucap Alvan datar seraya memperlihatkan senyum smirknya.
"Apa maksud anda Tuan?"
"CKk.... Saya sangat tau bagaimana kinerja di perusahaan anda, mungkin bagi kalian itu adalah hal yang biasa tapi anda salah besar jika membawanya pada saya, singkatnya secara tidak langsung anda sendiri yang membuat diri anda tidak ada harga dirinya di depan saya!"
"Al!" Tegur Aliksa karena Alvan sudah sedikit kelewatan.
"Ada yang salah dengan ucapanku barusan Pa?" Tanya Alvan melirik sebentar pada Aliksa.
"Bahkan Danisha hanya duduk diam saja tidak ada apa-apanya dibanding dia kan?" Kata Alvan lagi sehingga membuat Raut wajah ayah dan anak itu pias karena menahan amarah.
"Tapi Al.....
"Biarkan saja pa, agar mereka tau untuk kedepannya jangan pernah menawarkan taktik kotor seperti ini ke Oswald Kingdom!"
"Saya rasa anda sudah melewati batas Anda Tuan Al!" Kata pria paruh baya itu membela diri.
"Apa anda pikir kalau anda juga tidak melewati batas dengan menawarkan putri anda kepada saya?" Dan asal anda tau kalau saya sudah bertunangan!" Jika anda merasa tersinggung silahkan keluar dan bawa kembali putri anda!"
Sudah sejak tadi Alvan maupun Aliksa menolak secara baik-baik tentang proyek kerja sama itu tapi tampaknya kedua orang itu terlalu bebal dan pemaksa. Alvan tidak bisa mentolerir lagi itu sebabnya dia langsung mengusir ayah dan anak itu dari ruangannya.
"Anda terlalu sombong Tuan Alvanshal, harus anda ingat kalau suatu saat nanti anda pasti membutuhkan saya!" Sarkas pria paruh baya itu sebelum beranjak.
"Dan saya pastikan kalau saya tidak akan pernah membutuhkan anda sekalipun saya bangkrut!" Balas Alvan lalu setelahnya kedua orang itu keluar dari ruangan Alvan dengan tangan kosong.
Aliksa menatap pada putranya itu, ada rasa bangga kala melihat ketegasan Alvan dalam menghadapi manusia-manusia seperti tadi, dengan melihat kejadian barusan Aliksa menjadi semakin yakin untuk menyerahkan Oswald Kingdom ke tangan Alvan sepenuhnya.
"Jangan menatapku seperti itu pa, aku masih kesal dengan sikap papa tadi!" Kesal Alvan tanpa melihat ke Aliksa.
"Hahahaha.... Papa hanya bangga Son!" Kata Aliksa sambil tertawa melihat wajah kesal putranya itu, lalu setelahnya keluar untuk kembali ke ruangannya.
Alvan memijit pelipisnya pelan, bukan hanya sekali dua kali dia menghadapi klien seperti tadi, bahkan terlampau sering, dia takut suatu saat nanti hal ini menjadi bomerang bagi hubungannya dengan Danisha, bukan tidak mungkin hal ini tidak terjadi lagi di kemudian hari, apalagi mengingat kalau pernikahan mereka hanya tinggal hitungan Minggu lagi.
Dan Alvan baru tersadar kalau dari semalam dia belum ada komunikasi dengan pacar cantiknya itu karena kesibukan mereka masing-masing. Sebenarnya semalam Danisha sudah bilang kalau dia sibuk dengan satu novelnya yang diangkat ke film layar lebar belum lagi dia disibukkan dengan rengekan Briyanna calon mertuanya untuk menemaninya memilih Cincin pernikahan mereka.
Ponsel yang berada dalam genggamannya kembali dia letakkan di atas meja, dia urungkan untuk menghubungi Danisha, lebih baik menemuinya saja setelah pulang dari kantor begitu pikir Alvan dan semoga saja Danisha sudah tidak sibuk lagi karena prianya itu sepertinya ingin dimanja.
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN (Kelar Kuliah Nikah )
Teen FictionKKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu... Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita... #BTS #EXO #NOTBL #KKN #au
