Bab 175

329 38 1
                                        


Alvan berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit tepatnya di depan ruang pemeriksaan Danisha, saat Danisha pingsan tadi, Alvan langsung melarikannya ke rumah sakit. Pikirannya kalut, takut dan cemas bahkan sangat cemas sampai-sampai jantungnya berdetak dengan sangat cepatnya.

"Ma... Danisha baik-baik aja kan?" Alvan merengek seperti Anak kecil kalau itu sudah tentang keadaan Danisha.

"Iya nak, Danisha pasti baik-baik aja!" Ucap Briyanna menenangkan putranya itu padahal hatinya juga sama takutnya.

Sedangkan Sandara ikut mendampingi Danisha di dalam karena ia juga seorang dokter di rumah sakit itu. Tapi itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba ada perawat memanggilnya.

Di ruang tunggu wajah khawatir Reinard , Renata, Briyanna dan Aliksa sangat menunggu dan berharap kalau Danisha baik-baik saja. Tadi teman-temannya juga bermaksud untuk ikut ke rumah sakit tapi karena masih ada beberapa urusan mereka itu sebabnya orangtua dan mertuanya saja yang  menyusul  ikut ke rumah sakit.

"Ma ..kenapa lama sekali?" Alvan kembali merengek ke Briyanna.

"Sabar ya nak, kita berdoa semoga Danisha baik-baik aja!" Ucap Briyanna lagi, dia sangat tau ketakutan putranya itu.

Tidak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka memperlihatkan seorang dokter keluar dari ruangan itu sehingga membuat Alvan dengan cepat langsung menghampiri dokter itu.

"Dok... Istriku baik-baik saja kan?"

"Istri anda baik-baik saja Tuan, Nyonya Danisha hanya kelelahan dan Selamat atas kehamilan istri anda Tuan!" Ucap Dokter itu tersenyum.

"A-appaa...h-hhamil...

Alvan justru mematung, gugup, takut bercampur bahagia bahkan sangat bahagia.

"Iya, Nyonya Danisha tengah mengandung dan usia kandungannya masih sekitar dua Minggu!" Ucap Dokter itu lagi.

"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan, Kalau mau masuk juga sudah bisa!" Ucap Dokter itu lagi sebelum pergi.

"Al... Selamat ya nak!" Briyanna memeluk Alvan, bahagia sangat bahagia rasanya! Begitu juga dengan Reinard dan Renatta yang bergantian mengucapkan selamat kepada Alvan. Tapi justru Alvan masih mematung diam membisu dengan pikiran yang berkecamuk.

Karena Danisha masih tidur, dan dia juga sudah di pindahkan ke ruang perawatan, Alvan sendiri yang menemaninya sekarang karena Aliksa maupun Reinard harus kembali ke kantor mereka dan Briyanna katanya pulang dulu untuk mengganti pakaian sekalian membawa baju ganti untuk Alvan dan Danisha serta barang-barang yang mereka butuhkan di rumah sakit. Karena Danisha juga harus opname untuk memulihkan keadaannya.

Ketakutan Alvan semakin membuat hatinya tidak tenang, ia takut Danisha tidak suka dengan kehamilannya ini mengingat keinginan istrinya itu masih sangat besar dalam mengejar pendidikannya, Ia juga takut Danisha belum bisa menerimanya karena untuk memiliki anak belum sempat ia bicarakan kepada Danisha. Alvan sangat takut! Bahkan sangat takut!.

Perlahan-lahan kelopak mata Danisha terbuka, dan  tatapannya mengitari setiap sudut ruangan.

"Kita di rumah sakit sayang, tadi kamu pingsan!" Ucap lembut Alvan ketika menyadari raut wajah kebingungan istrinya.

"Maaf membuatmu khawatir mas!" Kata Danisha pelan.

"Jangan minta maaf sayang, aku! Aku yang seharusnya minta maaf!" Maafin aku sayang!" Kata Alvan seraya menatap Danisha dengan sorot mata sendunya bahkan air matanya sudah menggenang di kelopak matanya.

"Mas... Kenapa?" Aku baik-baik aja!" Kata Danisha sedikit bingung melihat Alvan.

"Maafin mas sayang!" Kata Alvan lagi semakin mengeratkan genggaman tangan Danisha dalam genggamannya.

"Kenapa minta maaf?" Tanya Danisha lagi.

"Di sini... Di sini ada anak kita!" Kata Alvan menyentuh perut rata milik istrinya dan langsung membuat Danisha diam, dari sudut matanya mengalir air mata dengan derasnya.

"Maafin mas sayang!" Racau Alvan lagi sambil menciumi tangan Danisha. Bahkan Alvan sudah menangis takut akan penolakan Istrinya itu terhadap kehamilannya.

"Kenapa minta maaf mas?" Tanya Danisha lagi seraya menyentuh rambut Alvan yang masih menundukkan kepalanya.

"Mas takut sayang... Takut sekali kamu belum bisa menerimanya!"

"Bagaimana bisa mas berfikiran seperti itu?" Sejak awal kita menikah dan melakukannya aku sudah tau akan hal ini, kalau aku belum bisa menerimanya mungkin sejak awal aku sudah minum penunda hamil, tapi aku tidak melakukannya kan?" Aku siap menjadi ibu mas, ini anugerah dari Tuhan yang harus kita syukuri, Aku bahagia mas! Sangat bahagia!" Ucapan Danisha bagaikan Angin yang menyejukkan bagi Alvan, lega, bahagia dan Senang sampai-sampai airmatanya tidak berhenti  mengalir.

"Terimakasih sayang!" Alvan langsung memeluk dan menciumi istri cantiknya itu. Beban yang selama ini menjadi kemelut hatinya kini hilang sudah, Kebahagiaannya akan menjadi seorang ayah begitu dinantikannya.

"Aku sudah Wisuda, dan sekarang mas mau hadiah apa dari aku?" Tanya Danisha kemudian mengingat perkataan Alvan kemarin.

"Aku sudah mendapat hadiahnya sayang!" Jawab Alvan tersenyum menatap Danisha.

"Apa?" Mas belum minta apa-apa dari aku lho!"

"Ini... Kehadirannya adalah hadiah yang paling berharga untuk mas !" Ucap Alvan seraya menyentuh perut  Danisha yang masih rata.

"Terimakasih sayang!" Ucap Alvan lagi tersenyum bahagia, dan Danisha juga ikut tersenyum melihatnya.

Tanpa mereka ketahui Sandara sejak tadi melihat interaksi anak dan menantunya itu, tidak ada alasan Sandara untuk tidak ikut serta dalam kebahagiaan anak dan menantunya itu. Melihat Danisha bahagia sudah membuatnya bahagia.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang