Menjelang siang Danisha pulang ke rumahnya diantar oleh Alvan tapi berhubung karena Alvan harus bimbingan ke kampus ia tidak sempat untuk sekedar mampir ke rumah Danisha.
Samar-samar Danisha mendengar sebuah percakapan yang sudah pasti Sandara dengan .....Om Reinard dan Tante Renatta,
"Aku nggak akan memaksa Danish untuk menyetujui ataupun menasehatinya tentang semua ini mbak, mas! Danisha sudah besar sudah dewasa dia tau mana yang terbaik untuk dirinya!" Ucap Sandara lirih seraya menatap lurus-lurus pasangan sui istri yang duduk di depannya.
"Saya nggak meminta kamu untuk membujuk Danisha agar menyetujuinya Dara, cukup kau menasehatinya, bagaimana pun juga mas Reinard adalah ayah kandungnya dan Rayyan adalah abangnya!" Kata Renatta sedikit tegas.
"Aku rasa Danisha sudah cukup tau tentang hal itu mbak, hanya saja Danisha belum semudah itu untuk menerimanya, dan aku mohon tolong biarkan Danisha tenang dulu, dia baru dua Minggu keluar dari rumah sakit bahkan sekarang ini juga dia masih menjalani terapi!" Kata Sandara lagi.
"Dara, kami sama sekali tidak bermaksud menyulitkan Danisha, kami hanya meminta untuk membawanya sebentar saja dan bersedia menganggap kami sebagai orangtuanya, itu saja!"
"Mbak, mas! Tolong kasih Danisha waktu untuk memikirkan semua ini, ini nggak mudah bagi dia untuk menerimanya!"
"Sampai kapan Dara?" Sela Reinard
"Kenapa? Kenapa kalian seperti ingin sekali mengambil Danisha? Apa karena untuk menggantikan posisi emilya? Kalian memaksa Danisha menyetujui Keinginan kalian demi memenuhi rencana kalian untuk menjadikan Danisha peran penggantinya Emilya? Kalian sama sekali nggak punya hati mbak, mas!"
"Dan aku tau mbak kalau mbak masih sering menangisi emilya, itu sebabnya kalian meminta Danisha kan?" Demi Tuhan aku tidak akan mengijinkannya mbak!" Lirih Sandara lagi.
"Dara, ini juga demi kebaikan Danisha, kalau dia di sini sementara kamu sibuk di rumah sakit, itu nggak baik buat dia!" Bantah Renatta lagi.
Danisha mendengar dengan jelas perdebatan ketiga orang yang duduk di ruang keluarga dengan hati yang amat sakit, sekaligus amarah kekecewaannya semakin memuncak.
"Bertahun-tahun aku hidup hanya berdua dengan Danisha, selama itu pula kita selalu bahagia, Danisha juga baik-baik saja, lalu kebaikan yang mana lagi yang kalian maksud mbak?"
"Dan aku tidak akan pernah menyetujui apa pun yang menjadi rencana kalian, aku tidak akan pergi kemana-mana!, mama adalah satu-satunya orang yang aku punya di dunia ini dan selamanya akan begitu! Ujar Danisha berjalan mendekati ketiga orang itu di ruang keluarga. Sangat jelas keterkejutan mereka yang tidak menyangkan akan kehadiran Danisha.
"Danish,... Kita melakukan ini demi kamu nak!"....
"Tante yakin demi aku? Bukan demi Tante?" Sudah lah Om, Tante... Kedatangan kalian nggak akan merubah apa-apa!" Ucap Danisha.
"Dulu aku ingin sekali melihat dan bertemu ayah kandungku walaupun sekali dalam seumur hidupku itu sudah cukup bagiku, dan sekarang aku sudah melihatnya!, cukup sampai disitu saja, tidak akan ada cerita apa-apa lagi!" Kata Danisha lagi.
"Aku juga ingin melihat dan bertemu dengan kakak laki-lakiku, dan aku juga sudah melihatnya, lalu apa lagi?"
"Tapi Danisha alangkah lebih baik kalau kita tinggal bersama-sama, toh di sini juga kamu sering sendirian kan?" Kata Reinard mencoba membujuk Danisha.
"Dan meninggalkan mama sendirian di sini? Tidak cukupkah dengan keegoisan kalian dulu? Om, Tante... Sebanyak apapun kalian memaksaku aku tidak akan merubah keputusanku, yang aku tau hanya mama sebagai orangtuaku, mama satu-satunya yang peduli padaku selama ini! Om Reinard bisa saja sebagai ayah kandungku tapi susah rasanya bagiku untuk melahirkan kasih sayang sebagai anak kepada Om Reinard, jadi untuk sekarang biarlah seperti ini dulu!, seperti dulu sebelum aku tau kalau om adalah ayahku!" Ucap Danisha lirih membuat raut wajah Renatta semakin sulit untuk diartikan.
"Baiklah kalau memang harus begitu....
"Mas!" Bantah Renatta seolah-olah tidak setuju dengan apa yang dibilang Reinard.
" Sudahlah Rena, Danisha juga tidak mau kan?" Lagipula apa yang dibilang Danisha benar, dia nggak akan mungkin membiarkan Sandara sendirian!"...
"Tapi kamu berhak atas Danisha mas?" Ucap Renatta mulai memancing emosi Danisha.
"Siapa pun nggak ada yang berhak atas diriku Tante! Apalagi om reinard!" Apa mentang-mentang aku anak kandungnya lalu kalian menjadikan itu alasannya? Lalu kemana kalian selama dua puluh tahun ini? Kenapa baru sekarang?" Ucap Danisha berapi-api,
"Sudahlah mbak tolong jangan memaksa Danisha lagi, aku nggak mau kalau Danisha kenapa-kenapa lagi, kepalanya belum terlalu pulih untuk memikirkan semua ini!" Ucap Sandara sembari beranjak mempersilahkan Renatta dan Reinard keluar dari rumahnya. Ia masih takut dengan kondisi Danisha, bukan tidak mungkin cidera di kepalanya bisa kambuh lagi dan bahkan berakibat semakin Fatal.
"Baiklah, Danisha kami permisi dulu!" Ujar Reinard menarik Renatta yang masih enggan untuk beranjak.
Danisha langsung duduk sambil memijat pelipisnya setelah Reinard dan Renatta keluar dari rumahnya.
"Sayang....! Sandara ikut duduk di samping putrinya itu.
"Aku nggak apa-apa ma!" Sahut Danisha karena raut wajah Sandara tampak cemas.
"Janji ya jangan tinggalin mama!" Ucap Sandara lirih.
Danisha tersenyum kemudian memeluk Sandara. Bagaimana pun juga ia tidak akan merubah keputusannya. Tiba-tiba Sandara melepas pelukan mereka dan menatap tajam ke Danisha.
"Ada apa ma?" Tanya Danisha.
"Darimana saja kamu, kenapa baru pulang?"
Danisha tersentak, dia pikir Sandara bakalan lupa ternyata tidak sama sekali.
"Jawab Danisha!"
"Maaf ma, semalam pestanya Inggrid selesainya larut malam, aku pulang pintu pager dah ke kunci, Danisha juga lupa bawa kunci cadangan!" Lirih Danisha.
"Terus kamu nginap dimana?" Tanya Sandara lagi sehingga membuat Danisha bingung harus jawab apa, nggak mungkin juga Danisha bilang nginap di apartemen Alvan bisa-bisa Sandara menyuntik mati dia nanti.
"Itu ma...Danish..nginap di rumahnya Elisha!" Bohong Danish.
"Kamu nggak lagi bohong kan?"
"Nggak ma!" Ampuni aku Tuhan batin Danisha.
"Terus itu kalung siapa yang kamu pakai, seingat mama, mama nggak pernah belikan kamu kalung kayak gitu?" Tanya Sandara menunjuk kalung pemberian Alvan yang menggantung cantik di leher Danisha.
Danisha benar-benar bingung harus menjawab apa, dan nggak mungkin juga dia berbohong lagi.
"Ini... Ini.. dikasih...!"
"Di kasih? Dikasih sama siapa?" Tanya Sandara lagi
"Alvan...!
Sandara terdiam begitu Danisha menyebut nama Alvan, sudah bisa ia tebak kalau saat ini putrinya tengah menjalin hubungan dengan seseorang yang bernama Alvan, dia juga sudah kenal dengan laki-laki itu.
"Mama marah ya?" Tanya Danisha karena melihat Sandara hanya diam.
Sandara menghela nafasnya sebentar sambil menatap Danisha.
"Mama nggak marah, tapi janji sama mama untuk jaga diri!"
"Iya ma, Danisha janji!"
"Ya sudah kamu istirahat sana, jangan kemana-mana lagi, besok pagi jadwal kamu terapi sama kepalamu juga harus di rongsen!"
"Iya ma, Danisha ke kamar dulu ya!"
Danisha mencium pipi Sandara sebentar, setelahnya dia beranjak menaiki tangga rumahnya menuju kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN (Kelar Kuliah Nikah )
Teen FictionKKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu... Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita... #BTS #EXO #NOTBL #KKN #au
