Bab 99

735 51 2
                                        


Verrel tengah merampungkan revisian skripsinya yang dari semalam belum kelar-kelar juga, dia sama sekali tidak bisa konsentrasi, pikirannya masih kacau dipenuhi sosok gadis yang sudah empat hari yang lalu dia diamin.

Sebenarnya Verrel bukan bermaksud mendiaminya, tapi laki-laki itu terlalu sibuk dengan skripsinya belum lagi dua hari yang lalu Ayahnya memintanya untuk menemaninya melakukan perjalanan bisnis ke Italia dan baru pulang menjelang subuh tadi.

Dia sangat merindukan kekasihnya itu, tadi setelah mengingat komunikasi terakhir mereka yang kurang baik membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan kekasihnya, dia hanya tidak ingin menambah kemarahan Elisha lagi padanya, dia hanya memberi waktu pada Elisha dan dirinya agar lebih tenang dan sama-sama intropeksi diri.

Ketika Verrel sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba bel apartemen ya berbunyi membuatnya bergegas melihat siapa yang bertamu ke rumahnya sore-sore Begini.

Tanpa disangka-sangkanya sosok yang dia rindukan berdiri di depannya setelah ia membuka pintu, mata sembab, hidung memerah dan di sudut matanya masih ada jejak air mata, hati Verrel sakit melihat Gadisnya sekacau ini...

Mata bambinya yang selalu berbinar tampak terlihat sendu menatapnya, bibir Semerah cerry yang selalu terlihat menggodanya kini tampak bergetar menahan isakannya, dan juga hidung mancungnya yang memerah  akibat terlalu banyak menangis membuat Verrel semakin merutuki kebodohannya telah membiarkan gadisnya menangis karena kelakuannya.

"Adek...!" Lirih Verrel masih menatap Elisha yang berdiri di depan pintu.

Elisha langsung menubruk tubuh tegap kekasihnya itu, memeluknya erat seolah-olah ia takut Verrel melepaskannya. Elisha kembali menumpahkan tangisnya di pelukan kekasihnya itu, rindu dengan pelukan Verrel yang hangat dan rindu aroma tubuh laki-laki yang berstatus sebagai kekasihnya itu.

"Maaf....!" Lirihnya di sela-sela isakannya tanpa melepas pelukannya. Verrel hanya mengangguk mengeratkan pelukannya.

"Maafin Abang juga ya udah buat adek nangis!" Ucap Verrel membuat Elisha mengurai pelukannya.

"Adek yang salah, adek udah kasar! Adek juga udah marah-marah sama Abang!" Ucap Elisha lirih dengan tutur kata yang memanggil dirinya sendiri dengan sebutan  " Adek "  sehingga membuat Verrel gemas setengah mati sampai-sampai laki-laki itu menggigit bagian dalam pipinya.

"Maafin adek ya!" Kata Elisha dengan puppy eyesnya semakin membuat Verrel memekik menahan gemas.

Verrel menangkup wajah kekasihnya itu dengan kedua tangannya, kemudian mengecup lembut keningnya, menatap dalam bola mata bambi yang masih memerah itu mengecupnya bergantian.

"Iya, Abang maafin, adek jangan nagis lagi! Hati Abang sakit liatnya!" Ucap Verrel, lalu kemudian menarik Elisha masuk kedalam Apartemen ya dan mendudukkan gadis itu di sofa.

"Sudah berapa lama nangisnya sampai hidung adek merah kayak gini?" Tanya Verrel sambil memegang lembut hidung Elisha.

Tapi Elisha mana mau jawab, gengsi lah dia ngakui kalau sejak tadi pagi dia menangisi Verrel bahkan sejak kemarin-kemarin juga dia sudah menangisi kekasihnya itu.

"Jangan pernah nunjukin wajah seperti tadi itu ke Abang, cukup tadi yang pertama dan yang terakhir, hati Abang sakit ngeliatnya!" Ucap Verrel lagi sambil  memeluk kembali tubuh kekasihnya itu. Dia juga sangat merindukan gadisnya itu, sampai-sampai pikirannya kacau dan berimbas pada skripsinya yang harus menerima banyak revisian.

Verrel kembali menangkup wajah kekasihnya itu, mengangkat dagunya dengan telunjuknya barulah ia mencium lembut bibir Semerah cerry milik kekasihnya itu. Ciuman lembut penuh Cinta yang berlanjut dengan lumatan-lumatan kecil lalu setelahnya Verrel semakin memperdalam ciuman mereka sampai-sampai Elisha sedikit kewalahan mengimbangi ciuman Verrel.

Setelah dirasa Elisha kekurangan oksigen  barulah Verrel berhenti, lalu mengelus bibir  Elisha yang sudah mulai membengkak dengan jari jempolnya, dan menatap dalam bola mata bambi itu.

"Abang sangat mencintai adek!" Lirihnya,  membuat Elisha serasa terbang dengan jutaan kupu-kupu yang mengelilinginya, bahagia bahkan hatinya sangat bahagia saat ini.

Lagi-lagi Verrel mempertemukan bilah bibir mereka, mengulangi ciuman lembut mereka yang kali ini Verrel sedikit berani menyusupkan tangannya menyentuh permukaan kulit perut Elisha,  semakin naik menyentuh dada kekasihnya itu dengan lembut.

Tanpa melepas ciuman mereka, Verrel sengaja semakin membuat Elisha terbuai dengan ciumannya  untuk membuat kekasihnya itu lengah atas kelakuannya yang sudah membuka kancing kemeja yang tengah dipakai Elisha.

Ditatapnya gadisnya itu, dikecupnya kening Elisha, lalu ke mata kiri dan kanan bergantian, turun ke hidung dan kembali ke bibirnya.

Tanpa menunggu persetujuan Elisha, Verrel sudah mengecupi dada milik Elisha, menghisapnya pelan dan penuh kelembutan, serta memilin pelan bulatan kecil seperti kismis itu, Jangan ditanya seperti apa Elisha sekarang, gadis itu bahkan sudah menggigit bibirnya menahan sensasi yang ia rasakan akibat ulah kekasihnya itu.

Verrel  mengancingkan kembali kemeja yang dipakai Elisha, merapikannya dan mencium kekasihnya itu lagi. Ia masih tau batasannya dan dia juga tidak mungkin merusak kekasihnya itu lebih jauh lagi,  Verrel sangat mencintai Elisha meski sulit bagi Verrel untuk berhenti tapi ia masih memiliki kesadaran untuk tidak melakukan hal yang belum pantas untuk mereka lakukan.

"Ajakan Abang kemarin masih berlaku?" Tanya Elisha malu-malu sambil menatap Verrel yang tampak bingung.

"Ajakan yang mana?" Tanya Verrel bingung.

"Ajakan Abang yang ngajak adek Tunangan!

"Abang nggak mau maksa adek, Abang ngerti kalau adek masih belum mau diikat jadi adek nggak usah....

"Tapi adek mau!" Potong Elisha cepat.

"Hhah..! Verrel kaget.

"Iya, adek mau kalau Tunangan dulu tapi nikahnya tunggu adek siapin diri dulu!" Ucap Elisha lagi-lagi membuat Verrel terkejut tidak menyangka kalau gadisnya itu bersedia untuk tunangan.

"Baru empat hari nggak ketemu,  adek udah segemes ini, gimana bisa Abang jauh-jauh dari adek!" Kata Verrel menciumi seluruh wajah Elisha gemes membuat Elisha terkekeh.

Dan sore itu mereka isi dengan bahasan tentang  rencana-rencana indah mereka berdua, sampai pada akhirnya sekitar pukul sembilan malam Elisha pulang diantar oleh Verrel dengan memakai mobil Elisha, sedangkan pulangnya nanti Verrel sudah menyuruh salah satu sopir keluarga mereka untuk menjemputnya.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang