Bab 64

1K 61 4
                                        


Malam ini adalah malam yang ingin sekali Inggrid hindari,  malam dimana dia harus bertemu dengan laki-laki pilihan orangtuanya yang akan  menjadi calon suaminya. Balutan dress berwarna navy mempercantik penampilannya malam ini, dan itu semua atas keinginan Carolla bahkan ia rela membeli dress itu dari desainer ternama.


Carolla ingin semuanya tampil sempurna sesuai keinginannya begitupun dengan Arsen. Pasangan itu selalu berusaha agar semuanya berjalan lancar sesuai keinginan mereka.

Inggrid duduk melamun di depan meja riasnya, ia bukan sedang memantau dirinya di depan cermin,  dia hanya tengah melihat dan menertawai dirinya yang terlihat begitu menyedihkan.

Meski sudah dibalut dengan dress mewah dan riasan yang sempurna namun itu belum cukup untuk menutupi aura kesedihannya. Di tengah kepasrahannya dia hanya berdoa dalam hati, semoga calon mertuanya nanti tidak seperti kedua orangtuanya Walaupun ia ragu, tapi tetap saja ia melakukannya.

Seenggak percayanya dia dengan ucapan Yuna kemarin malam, tapi jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat berharap ucapan Yuna itu benar adanya. Dia sudah tidak menginginkan apa-apa lagi dalam hidupnya, dan dia juga sudah pasrah akan jalan hidupnya. Tugasnya hanya menurut dan menjalaninya saja, jadi untuk apa lagi dia berharap?

Sekitar pukul delapan malam tamu yang ditunggu-tunggu Carolla dan Arseno datang lengkap dengan hadiah-hadiah  mewah yang sengaja mereka bawa. Arseno dan Carolla langsung menyambutnya dengan senyum elegannya.

"Selamat malam Arya!"  Sapa Arseno menjabat tangan tamunya itu. Begitu juga dengan Carolla yang saling memeluk bahagia dengan istri dari Laki-laki yang bernama Arya tadi.

"Waaahhh....anakmu tambah gagah saja Arya!" Ucap Arseno ketika matanya tertuju pada seorang laki-laki yang sejak tadi berdiri di belakang Arya. Dan laki-laki itu langsung menyalami Arseno maupun Carolla dengan sopan.

Setelah acara sapa menyapa itu,  Arya dan Istrinya Dewina beserta anak mereka dipersilahkan duduk oleh Carolla.

"Anakmu dimana Olla? Aku sudah tidak sabar ingin melihat calon menantuku itu!" Ucap Dewina membuat Carolla tersenyum dan langsung menyuruh Yuna  untuk memanggil Inggrid.

Inggrid tersentak dari lamunannya ketika pintu kamarnya di buka oleh Yuna.

"Kita turun yuk!" Ajak Yuna seraya tersenyum lembut menatap Inggrid. Sejujurnya dia sangat sedih melihat Inggrid yang sekarang, tapi sebisa mungkin itu tidak ia perlihatkan agar Inggrid  memiliki semangat  dan keyakinan untuk bahagia nanti.

Entah kenapa firasatnya sangat kuat tentang kebahagiaan yang akan Inggrid dapatkan itu sebabnya dia selalu berusaha meyakinkan gadis itu.

Perlahan-lahan Inggrid menuruni anak tangga ditemani oleh Yuna, tatapannya lurus ke depan meski tak ada senyum di wajahnya tapi bukan berarti mengurangi kecantikannya.

"Waaaahhh... Ternyata lebih cantik dari yang difoto!" Ucap Dewina. Wanita itu langsung memeluk Inggrid, lain halnya dengan anaknya yang masih enggan menatap calon istrinya itu. 
Sebab dia juga belum bisa menerima sepenuhnya rencana perjodohan kedua orangtuanya terhadap dirinya.

"Vivi, ini anak Om Arya dan Tante Dewina yang akan menjadi calon suami kamu!" Ucap Carolla membuat Inggrid mengangkat wajahnya yang semula hanya ia tundukkan.

Seketika jantungnya serasa berhenti berdetak, tenggorokannya seperti tercekat setelah melihat siapa laki-laki yang akan  dijodohkan  dengannya. Tak jauh beda dengannya, laki-laki itu pun sama terkejutnya sampai-sampai dia tidak tau harus senang atau sedih setelah ia tau siapa gadis yang akan menjadi istrinya itu.

"RION / INGGRID!!!.... Ucap mereka serentak saat keduanya saling bertatap muka.

"Kalian sudah saling kenal rupanya!"  Ucap Dewina antusias dan diiringi senyum elegan Carolla.

Sungguh, Inggrid tidak tau harus berkata apa, dia hanya mematung tanpa ekspresi, dia sudah tidak tau lagi harus bersikap bagaimana. Sebercanda ini takdir kepadanya...

Rion berusaha lebih tenang menyikapi suasana meski dia masih terkejut dengan semua ini,  dan Ingin bicara berdua dulu dengan Inggrid.

"Maaf Om, Tante saya Ijin mau ngajak Inggrid bicara dulu!" Ucap Rion kepada Arseno dan Carolla.

"Pergilah nak, kalian memang harus bicara satu sama lain!"  Ucap Carolla disertai dengan senyumnya.

Rion menarik lembut tangan Inggrid dan membawa gadis itu ke taman yang berada di samping rumah Inggrid, mereka berdiri dan saling menatap. Inggrid masih betah dengan keterdiamannya sehingga membuat Rion sedikit canggung  bahkan ia enggan untuk memulai obrolan mereka.

"Apa Lo sudah tau tentang semua ini?" Lirih Inggrid seraya memalingkan wajahnya dan lebih memilih melihat bunga-bunga hias yang tumbuh di taman itu.

"Tidak!" Gue taunya cuma dijodohkan!" Sahut Rion ikut menatap objek yang sama dengan Inggrid.

"Kenapa Lo tidak menolaknya?" Tanya Inggrid lagi.

"Awalnya gue berniat untuk menolaknya, tapi setelah gue tau kalau  gadis itu Lo, maafin gue Ing, kalau gue akan menerima perjodohan ini!" Ucap Rion yang langsung membuat Inggrid menatapnya tajam.

Keduanya kembali diam dan larut dalam pikiran masing-masing untuk beberapa saat.

"Gue nggak tau harus bagaimana Rion,  takdir hidup gue terlalu banyak  episode-episode nya!"

"Bukankah untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan harus menjalani episode takdir  sekalipun itu hal menyakitkan?"

"Kebahagiaan yang mana maksud Lo?  Pernikahan tanpa adanya rasa Cinta , itu yang Lo bilang bahagia?"

"Kata siapa Cinta itu tidak ada?" Gue Cinta sama Lo Ing!" Ucap Rion tulus menatap dalam netra cantik milik Inggrid.

"Lo jangan bercanda Rion,  hidup gue udah penuh drama selama ini, jangan Lo tambah lagi!"

"Gue nggak lagi bercanda Ing, gue serius! Sejak awal kita bertemu saat pembekalan KKN  gue udah tertarik sama Lo, tapi gue mundur saat ngeliat Lo dekat sama pak Nino, apalagi saat itu juga orangtua gue udah pernah bilang kalau gue dijodohin, itu sebabnya gue memilih untuk memendamnya saja!" Ucap Rion terus terang.

"Inggrid, gue harap Lo kasih gue kesempatan, gue tau kalau Lo nggak punya perasaan apa-apa ke gue, cukup Lo ijinin gue berada di samping Lo dan menunjukkan cinta gue ke Lo!"  Ucap Rion lagi seraya memberanikan diri menggenggam jemari Inggrid.

Inggrid hanya menatap Rion, mencoba mencari kebohongan di sorot mata tajam laki-laki itu,  tapi nihil, dia justru menemukan ketulusan dan Cinta yang begitu besar terhadapnya. Seperti terhipnotis akhirnya ia menganggukkan kepalanya,

"Buat gue jatuh cinta sama Lo Rion,  tunjukin ke gue sebesar apa cinta yang Lo punya ke gue!" Lirih Inggrid.
Entah kenapa hatinya begitu yakin pada ucapan Rion tadi,  lagi dan lagi kalimat ucapan Yuna kemarin terngiang di telinganya, Inggrid berharap kebahagiaan yang dimaksud Yuna berasal dari Rion.

Rion tersenyum lega mendengar jawaban Inggrid barusan,

"Terimakasih Inggrid!"

"Ya sudah, kita kita ke dalam lagi yuk!" Ajak Rion dan langsung diiyakan Inggrid.

Kemudian keduanya kembali masuk ke dalam rumah untuk menemui kedua orangtua mereka.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang