"Lagi ngapain tadi?" Tanya Alvan begitu Danisha sampai di bale.
"Ngobrol doang sama Inggrid!"
"Sini, duduknya lebih dekat lagi!" Kata Alvan sambil menarik tangan gadis itu dan Danisha hanya menurut saja.
"Tadi aku ngobrol sama Inggrid, ternyata dia udah dijodohin sama ortunya, kasian ya! Padahal Inggrid sukanya sama pak Nino! Adu Danisha ke Alvan.
"Orangtua Inggrid pengusaha kaya, dikalangan orang-orang hebat seperti mereka hal seperti itu udah biasa, apalagi Inggrid anak satu-satunya. Kalaupun Inggrid masih tetap kukuh ngejar pak Nino juga bakalan ditentang habis-habisan sama keluarganya! Jelas Alvan.
"Berarti kamu gitu juga? Tanya Danisha langsung menuding Alvan, karena kalau ia tidak salah keluarga Alvan juga punya bisnis yang besar.
"Setiap orangtua punya prinsip beda-beda, Inggrid itu anak satu-satunya, cewek pula sudah pasti orangtuanya ingin yang terbaik buat anaknya!
"Tau banget ya tentang Inggrid!
Alvan langsung menatap Danisha setelah mendengar kalimat yang diucapkan gadis itu barusan.
"Jangan cemburu, aku sama Inggrid udah lama kenal bahkan dari kita jaman masih sekolah malah, mama juga Deket banget sama mamanya Inggrid! " Ucap Alvan tersenyum senang karena tau kalau kekasihnya itu lagi cemburu.
"Atau jangan-jangan malah kamu laki-laki yang dijodohin sama Inggrid!"
"Ngaco kamu!" Protes Alvan cepat.
" Ya kan siapa yang tau, karena kata Inggrid orang yang dijodohin sama dia itu anak dari temen ortunya!
"Ya kan temennya bukan cuma mama doang! Emangnya kamu mau kalau aku yang dijodohin sama Inggrid?"tanya Alvan menggoda Danisha.
Danisha cemberut malas menanggapi ucapan Alvan barusan, kesel banget dianya.
"Tau ah!" Kesel Danisha membuat Alvan terkekeh.
"Hei...!" Kata Alvan lagi seraya mengusap rambut Danisha yang terasa halus. Kemudian tangannya nopang dagu dengan bertumpu di lututnya, dia masih melihat ke pacarnya itu yang masih pasang muka kesel dan cemberut.
"Danisha!"...
Danisha menoleh sebentar, tapi cuma sebentar doang karena tidak kuat jika harus berlama-lama menatap mata pacarnya itu.
Sementara Alvan masih diam nopang dagunya pakai satu tangan, nggak tau kenapa tiba-tiba Alvan ulurin satu tangannya sebelah lagi buat ngelus pipi kesayangannya itu, gemes rasanya ngeliat Danisha kalau lagi mode cemberut gitu.
"Aaawww.... Sakit Alvan!" Pekik Danisha mengelus-elus pipinya yang baru saja dicubit sama Alvan saking gemesnya dia.
"Sini cium biar sakitnya ilang!" Ucap Alvan enteng, seenteng balikkan telapak tangannya, nggak tau aja udah Semerah apa pipi pacarnya itu karena malu. Untung malam hari jadi Danisha nggak perlu menutupinya karena bisa-bisa dia makin digodain terus sama Alvan.
Danisha langsung memalingkan wajahnya untuk menghindari Alvan yang masih betah menatapnya dengan tatapan yang tajam, dalam dan intens.
"Pacar kamu di sini lho, bukan pohon jambu itu!" Ucapnya sambil memutar pelan kepala Danisha dengan kedua tangannya agar mengarah ke dia. Rasanya jantung Danisha mau keluar saja ketika tatapan mereka bertemu, buru-buru dia memutar bola matanya melihat ke sembarang arah asal jangan ke Alvan.
"Cckk..., besok aku tebang aja kali ya pohon jambunya! Kata Alvan berdecak kesal.
"Kenapa?"
"Kamunya ngeliat ke sana terus, aku cemburu!
"Apaan sih!" Ucap Danisha malu sontak memukul lengan Alvan karena malu membuat laki-laki itu terkekeh, sesenang itu dia menggoda Danisha.
"Makanya liat sini, padahal pacar kamu ini ganteng lho! Kata Alvan, kali ini dia malah mengarahkan muka Danisha ke dia dengan menyentuh dagu gadis itu, hingga membuat jarak diantara mereka semakin dekat. Tidak tau saja Alvan sudah selemas apa kaki Danisha karena perlakuannya itu belum lagi jantungnya yang sejak tadi udah berontak heboh di dalam.
Alvan hanya diam menikmati paras cantik gadisnya itu, menatap lamat-lamat mata bening itu, mengagumi pahatan sempurna wajah kekasihnya serta guratan senyum ketika gadisnya itu lagi senang.
"Cantik!... Kamu Cantik!" Katanya pelan dan lembut dengan mata yang masih menatap dalam Danisha. Tatapan memuja serta memabukkan seorang Alvan mampu membuat Danisha mematung hingga akhirnya tersadar kala kecupan lembut dari Alvan mendarat di dahinya.
Malam ini Alvan membuat Danisha benar-benar olahraga jantung, sampai-sampai dia gemetaran karena perlakuan manis laki-laki minim ekspresi itu tapi dia suka, bahkan sangat suka.
Sedangkan Alvan tidak berhenti tersenyum dan tidak bosan terus-terusan menatap kekasihnya itu. Dia masih tidak menyangka akhirnya bisa juga pacaran sama gadis yang sudah lama ditaksir dia. Gadis yang pertama kali dia lihat di depan ruang Dekan, saat itu Alvan sudah tertarik ngeliat Danisha tapi dia nggak tau dari Fakultas mana Danisha dan siapa namanya.
Pertemuan singkat itu, atau lebih tepatnya Alvan yang melihat Danisha membuatnya semakin penasaran dan berniat mencari tau tentang Danisha. Tapi kala itu waktu tidak memihak dia karena tiba-tiba saja ayahnya memintanya bergabung ke perusahaan membantu beliau hingga mau nggak mau Alvan harus mengambil cuti kuliah untuk sementara.
Sampai pada akhirnya seolah- olah semesta merestui mereka, Alvan kembali di pertemukan dengan Danisha di program KKN ini.
Tidak mau waktunya terbuang sia-sia lagi, pelan-pelan ia mulai mendekati Danisha walaupun sempat ragu karena melihat kedekatan Danisha dengan Alvan. Dan saat ini dia sudah lega, karena gadis yang selama ini dia incar membalas perasaan cintanya juga. Dialah Danisha Camilla seseorang yang mampu meluluhkan hati Alvanshal Malik pria dingin yang minim ekspresi.
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN (Kelar Kuliah Nikah )
Teen FictionKKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu... Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita... #BTS #EXO #NOTBL #KKN #au
