Bab 101

791 49 2
                                        


Danisha melangkah ragu-ragu memasuki  pekarangan sebuah rumah mewah, padahal jauh-jauh hari dia sudah memantapkan dan meyakinkan hatinya untuk sampai di tempat itu  ternyata hati belum seyakin itu, tapi walaupun demikian,  dia  masih tetap melanjutkan langkahnya untuk kemudian masuk ke dalam rumah mewah itu setelah dipersilahkan oleh salah satu orang yang diyakini Danisha adalah maid di rumah itu.

Samar-samar Danisha mendengar perbincangan seseorang di belakang ruangan yang disekat oleh lemari hias dengan berbagai jenis barang mahal di dalamnya.

Tidak ada siapa-siapa yang dia temui di rumah itu selain maid yang membawanya masuk tadi, tanpa sadar langkahnya mengikuti darimana asal suara yang ia dengar. Dan kemudian tatapannya menyendu melihat pemandangan di depannya.

"Ma...dari semalam mama belum ada makan apa-apa, kalau tubuh mama lemah seperti ini bagaimana mama bisa lanjut terapinya?" Rayyan membujuk Renatta sambil mencoba menyuap kan makanan untuk Renatta.

"Mama nggak lapar Ray, mama baik-baik saja!" Lirih Renatta tanpa menatap putranya, tatapannya lurus menatap kosong ke depan. Sudah sebulan ini yang dilakukan Renatta hanya duduk diam tanpa ekspresi dan menatap kosong ke depannya.

Tubuhnya yang semakin kurus, wajahnya yang pucat dan yang paling menyakitkan adalah tatapan kosongnya. Dulu Renatta mengalami depresi hebat setelah kepergian putrinya, karena rutin terapi dan selalu di dampingi psikiaternya akhirnya Renatta sembuh dan sekarang, setelah hampir empat tahun berlalu malah kambuh lagi.

"Mama nggak sayang Sama Rayyan lagi?" Tanya Rayyan barulah Renatta melihat putranya itu, mengusap rambutnya dan menatap lekat-lekat wajah Rayyan.

"Kamu hidup mama, kamu dunia mama dan kamu nafas mama, bagaimana bisa kamu berkata begitu?" Ucapnya.

"Tapi Rayyan seperti kehilangan mama, hati Rayyan sakit melihat mama seperti ini, Rayyan rindu Sama mama!" Seperti anak kecil yang merengek pada ibunya, seperti itulah Rayyan sekarang, menangis menumpukan kepalanya ke pangkuan Renatta.

Biarlah dia cengeng untuk kali ini, nyatanya dia memang sangat merindukan Renatta, meskipun setiap hari dia selalu melihat Renatta tapi tidak dengan kasih sayangnya.  Kehadirannya seolah tidak berarti apa-apa setelah kepergian adik perempuannya. Semangat,kebahagiaan dan kasih sayang  Renatta seolah-olah dibawa pergi semua oleh Emilya dan tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya.

Rayyan cukup berlapang dada selama ini, bahkan kasih sayang dari Reinard pun tidak banyak ia dapatkan. Sejak kecil ketika teman-temannya membanggakan sosok Ayahnya di depannya yang dilakukan Rayyan hanyalah mendengar dan mendengarnya saja tanpa ada satupun kenangan indah tentang masa kecilnya bersama Reinard.

Barulah setelah Emilya lahir, kebahagiaan memiliki keluarga yang lengkap dia rasakan, meskipun itu juga tidak berlangsung lama saat Emilya sakit-sakitan, fokus Renatta dan Reinard hanya tertuju pada gadis itu tanpa mereka tau kalau Rayyan juga membutuhkan mereka.

Setelah kepergian Emilya, Renatta melupakan jati dirinya seorang ibu dan sebagai seorang istri, membuat Rayyan kembali harus menelan kenyataan kalau dia harus berdiri sendiri di atas tumpuan kakinya saat Reinard memutuskan membawa Renatta berobat ke Singapura dan selain itu  karena memang bisnisnya ada di negara itu, dia tidak mungkin meninggalkan Renatta dengan kondisi yang seperti itu dan terpaksa meninggalkan Rayyan sendirian yang hanya di temani maid Dan pengasuhnya hingga laki-laki itu tumbuh menjadi pemuda yang tampan seperti sekarang ini.

Rayyan masih menangis menikmati usapan tangan hangat Renatta di kepalanya yang masih berada di atas pangkuan Renatta....

"Tau nggak ma, sejak dulu Rayyan ingin sekali merasakan seperti ini,  diusap kepalanya, karena kata teman-teman Rayyan rasanya nyaman, ternyata benar ya,,,Rayyan pikir mereka bohong!"... Racau Rayyan sambil menikmati usapan Renatta di kepalanya.

Tanpa mereka ketahui, Danisha melihat itu semua dari balik lemari hias yang menjadi penyekat ruangan itu. Bahkan gadis itu sejak tadi tak mampu membendung air matanya, Danisha ingin rasanya berlari memeluk Rayyan, ia bisa tau kalau selama ini kakaknya itu kesepian meskipun berada di tengah-tengah keluarga yang lengkap.

"Danish!....lirih Rayyan ketika tanpa sengaja matanya menangkup sosok Danisha dari balik lemari sehingga membuat Danisha tersentak dan buru-buru menghapus air matanya.

"Maaf...g-gue...

"Sini!" Kata Rayyan seraya beranjak menarik tangan Danisha dan membawanya mendekati Renatta.

"Kamu datang nak.....! Renatta tersenyum melihat Danisha, Bahkan Renatta sampai berdiri dari duduknya ketika melihat Danisha.

"Iya Tante,,, kan Danish udah pernah bilang bakalan sering main ke sini!" Kata Danisha setelah mencium punggung tangan Wanita itu. Rasanya amarah yang ada dalam diri  Danisha terangkat semua setelah melihat bagaiman rapuhnya sosok Renatta saat ini.

"Danish akan usahakan sesering mungkin datang ke sini asal Tante tidak meminta Danisha untuk tinggal di sini, kasian mama sendiri!" Ucap Danisha terus terang, dia nggak mau memberi harapan apa-apa ke Renatta. Cukup dengan mengunjungi wanita itu sesering mungkin dan mulai meruntuhkan egonya untuk menerima Reinard dalam hidupnya.

"Iya, dengan begini saja Tante sudah bahagia,terimakasih ya sayang!" Ucap Renatta seraya memeluk tubuh Danisha, sama seperti Danisha yang mulai meruntuhkan egonya, Renatta pun tidak ingin egois lagi dengan meminta Danisha dari Sandara setelah apa yang dialami ibu dan anak itu selama ini. Dia masih punya Rayyan, putranya yang selama ini dia abaikan.

Rayyan tersenyum bahagia melihat interaksi dua orang wanita yang sangat disayanginya itu, mungkin ke depannya dia lagi dan lagi akan diabaikan, tapi tidak apa-apa asal Renatta sembuh dan bisa semangat lagi. Toh ini bukan yang pertama kali baginya, sudah terbiasa malah  sehingga hatinya sudah terlampau kebal.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang