Bab 56

1K 61 1
                                        


"Siapa lagi selanjutnya yang mau ngomong?" Tanya Rion...

"Ntar dulu, gue belum siap!" Protes Danisha.

"Oh.. sorry gue kirain udah!" Sahut Rion cengengesan memperlihatkan kedua dimplenya.

Danisha menghela nafasnya sebentar, raut wajahnya tiba-tiba berubah sendu dan  sorot matanya mulai mengembung tapi masih dia tahan agar tidak sampai menangis.

"Ay,,,....! Lirihnya pelan memanggil Ayu,

"Gue tau selama ini Lo masih suka cemburu ke gue karena  masih saja dekat-dekat sama Rayyan, nggak sengaja gue denger kemaren waktu Lo cerita ke Viya. Dan Kamu Alvan,  kamu juga pasti sering menahan kesal   melihatku yang selalu nempelin Rayyan,  kalian wajar kok marah sama gue!  Tapi asal kalian tau, gue berani  bersumpah kalau gue sama sekali nggak pernah punya perasaan apa-apa ke Rayyan dan gue Yakin kalau Rayyan juga seperti itu!". Danisha menjeda sebentar kalimatnya untuk sekedar menghela kembali nafasnya.

"Gue udah pernah mencoba buat jauhin Rayyan, gue  menghindar dari dia tapi gue nggak tau kenapa rasanya seperti ada yang hilang dari gue,  maafin gue Ay,  dan terutama kamu Al, mungkin kata-kataku ini menyakiti hatimu,  atau bahkan terkesan tidak menghargai perasaan kamu dan Ayu, Tapi yang pasti Yang aku cintai itu kamu bukan Rayyan, Rayyan bagi ku seperti Abang, seperti seorang adik yang selalu merengek kepada kakak laki-lakinya, seperti itulah perasaan sayangku ke Rayyan!"  Ucap Danisha lirih dan dia mulai meneteskan air matanya, dia nggak tau kenapa tiba-tiba hatinya menjadi sedih.

"Dan...dan...gays, sekali lagi gue minta maaf buat kalian semua!" Ucap Danisha mengakhiri kalimatnya seraya menghapus air matanya.

Semua yang ada di ruang tamu masih diam, ikut terharu mendengar kata-kata yang diucapkan Danisha barusan, apalagi Rayyan! Matanya sampai berkaca-kaca, ingin rasanya dia memeluk Danisha, hatinya menghangat mendengar pengakuan  gadis itu barusan.

"Sekarang giliran gue ya!" Ucap Rayyan sambil menegakkan badannya.  Dan semua teman-temannya kompak menatap Rayyan.

"Ay,  tadi Danisha bilang kalau  Lo masih suka cemburu melihat kita, dan itu berarti Lo masih ngeraguin gue, gue nggak tau lagi gimana caranya supaya Lo percaya sama gue,  tapi kalau Lo minta gue buat jauhin Danisha maaf Ay, gue nggak bisa!"  Kata Rayyan dengan tatapannya yang lurus menatap Ayu.

"Gue mohon sama Lo, jangan pernah kasih gue pilihan antara Lo dan Danisha,   Lo pacar gue, orang yang gue cintai, orang yang akan gue perjuangkan untuk masa depan gue, dan gue mencintai  Lo Ay!" Ucap Rayyan lagi sungguh-sungguh.

Ayu hanya bisa diam mencerna kalimat Rayyan barusan, terbersit perasaan bersalah di hatinya  kepada Laki-laki itu dan kepada Danisha. Dia sudah tidak kuat untuk menatap balik Rayyan, dia tau kalau Rayyan saat ini tengah melihatnya dengan tatapan kecewanya dan Ayu tidak mau melihat itu.

"Kalau Lo atau kalian disini masih bertanya -tanya kenapa gue bisa sesayang itu ke Danisha, biar gue ceritain!" Rayyan diam sebentar hanya untuk meraup wajahnya.

"Gue pernah kehilangan sosok adik, namanya Emiliya. Dia cantik, baik, tapi Badung persis seperti Danisha,  itu sebabnya saat pertama kali gue liat Danisha jantung gue seperti berhenti berdetak, gue pikir Dia Emiliya,  dan  gue juga nggak ngerti kenapa hati gue  menghangat kalau lagi dekat sama Danisha, gue selalu khawatir sama Danisha, gue care sama dia dan gue juga manjain dia, gue sayang sama dia!".

"Danisha udah gue anggap seperti adek kandung gue,  dan Untuk sekali ini saja Ay dan Lo Al, gue minta ijin buat peluk Danisha!"  Ucap Rayyan sambil menatap Ayu dan Alvan bergantian.

Egois bahkan sangat egois jika Ayu masih meragukan perasaan Rayyan, hanya mendengar pengakuan laki-laki itu barusan sudah membuatnya menyesal,  tanpa  berpikir panjang Ayu mengiyakan permintaan Rayyan buat memeluk Danisha...

Alvan  hanya mengangguk saja mendengar permintaan Rayyan, toh hanya pelukan pikirnya tapi jangan berfikir Alvan itu ikhlas, sama sekali tidak! Kalau saja bukan karena mendengar cerita Rayyan tadi, ia takkan Sudi mengizinkan Rayyan memeluk kekasihnya itu.

"Danish....! Lirih Rayyan memanggil dan menatap Danisha,

Danisha langsung beranjak dari duduknya untuk memeluk Rayyan,  sesekali Rayyan membelai puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang...
Semua yang ada di ruang tamu itu ikut terharu melihatnya, Ayu sudah menangis sambil memeluk Inggrid.

"Siapa sih yang lagi ngupas bawang di sini, mata gue berair jadinya!"  Celetuk Elisha tiba-tiba untuk mencairkan suasana sambil menghapus air matanya.

"Gays... Gue harap setelah kita keluar dari posko ini, kita jangan saling melupakan ya, please... Sering-sering  ngechat ataupun nelponin gue! Ucap Inggrid setelah tangisan Ayu mereda dan Rayyan juga sudah melepas pelukannya dari Danisha.

Sekarang gantian Inggrid yang menangis, ia yakin setelah keluar dari sini hidupnya akan kembali menjadi nona Inggrid yang semuanya dia jalani atas kemauan orang tuanya. Itu sebabnya dia tidak ingin program KKN ini cepat berlalu, dia sudah terlalu nyaman di sini.

Di sini dia bebas bercerita, bebas tertawa, bebas memakan makanan kesukaannya dan dia juga selalu didengar, ditemani dan diperhatikan.

"Tenang aja Ing, grup kita akan tetap Rame kok! Lo mau curhat apapun kita pasti denger!" Kata Rania setelah sejak tadi hanya diam mengunci mulutnya.

"Iya, waktu kita dua puluh empat jam bisa Lo ganggu kok!"  Kecuali Alvan yang pastinya lebih memilih tidur!"  Ucap Andra menyindir Alvan  yang tetap saja masa bodoh.

"Udah clear semua nih?"  Atau masih ada yang mau buat pengakuan? Tanya Verrel padahal dia aja belum ngomong apa-apa.

"Lo kan belum!" Protes Viya.

"Gue nggak ada yang mau gue akuin! Kalian semua udah tau gimana gue!" Ucap Verrel santai karena memang sifat Verrel  yang terlalu blak-blakan. Apa yang dia perlihatkan sehari-hari memang seperti itulah dia.

"Lo Al?" Tanya Rion menatap Alvan.

"Lo salah Rion kalau nanya ke Alvan!" Celetuk Rayyan..

"Berisik Ray!" Sarkas Alvan sambil menegakkan badannya seperti hendak mengatakan sesuatu.

Semua mata tertuju pada Alvan, menunggu apa yang akan diucapkan laki-laki itu.

"Buruan Al, lama banget sih!" Kata Ayu sewot karena Alvan belum juga mulai.

"Apa?" Alvan bingung.

"Lo mau ngomong apa?" Jelas Ayu.

"Yang mau ngomong siapa?

"Kan apa gue bilang,  Alvan mana punya hati, hatinya udah diambil semua sama Danisha!" Kata Rayyan terkekeh sudah terlampau hafal sifat Alvan.

"Diam Lo, gue mau ngomong!" Ucap Alvan yang langsung membuat Rayyan mengunci mulutnya.

Semua mata tertuju ke Alvan, menunggu kalimat yang diucapkan laki-laki itu.

"Gue cuma mau bilang sama Lo Ray, cukup yang tadi aja Lo peluk Danisha, kalau Lo ulangi lagi gue patahin leher Lo!"  Ancam Alvan karena ia tak mungkin seikhlas itu membiarkan Gadisnya dipeluk laki-laki lain.

"Udah, itu aja???? Kata Inggrid heran.

"Iya!" Sahut Alvan santai sambil menyandar kan tubuhnya ke dinding sehingga membuat siapa pun yang melihatnya ingin segera mencuci otak laki-laki itu.

"Al, gue lagi pegang air minum ya, jangan sampai gue siram ke Lo!" Marah Inggrid karena kepalang kesal.

"Lo nggak nyesal pacaran sama Alvan Danish?"  Tanya Andra ke Danish yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alvan.

Mana berani Danisha menjawab, apalagi raut wajah Alvan sekarang sangat jelas memperlihatkan kekesalannya. Nyalinya nggak mungkin seberani itu.

"Jadi udah nggak ada nih yang mau ngomong?" Tanya Rion memastikan.

"Kayaknya udah nggak Rion, kita semua udah saling memaafkan, gue pribadi malah bersyukur bisa mengenal kalian!  Ucap Viya.

"Sama gue juga!" gue senang punya teman seperti kalian,  pertemanan kita jangan putus sampai di sini ya!"  Ucap Rania menambahkan.

"Ya udah kalau gitu, terimakasih buat waktu kalian!" Ucap Rion. Setelahnya satu persatu  dari mereka membubarkan diri.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang