Bab 103

831 59 2
                                        


"Rayyan... Tolongin gue dong!!!... Sejak dari tadi Danisha merengek ke Rayyan dengan gelisah karena masalah chatnya terakhir dengan Alvan.

"Ogah gue,  Lo tunggu aja paling bentar lagi Alvan udah nongol di sini!" Kata Rayyan justru semakin membuat Danisha takut.

"Lagian Lo Danisha, dah tau Alvan kayak gitu masih aja nyari gara-gara!" Tambah Ayu yang sudah sejam yang lalu di rumah Rayyan.

"Ihhh ...Lo berdua bukannya bantuin kek malah nyalahin Mulu!" Kesal Danisha melotot garang pada pasangan sejoli yang lagi duduk di sofa.

"Asal Lo tau ya Danish, Alvan itu kalau ada masalah langsung bertindak daripada omongan doang, jangan harap Alvan malah dengan mudah Lo bujuk!... Rayyan semakin membuat Danisha takut,  bahkan sekarang gadis itu sudah gelisah mondar mandir di depan Ayu dan Rayyan.

Sekitar lima belas menitan mobil hitam milik Alvan sudah parkir dengan gagahnya di depan pagar rumah Rayyan, sehingga membuat Danisha semakin ciut, bahkan dia sampai berniat bersembunyi ke kamar Renatta dengan alasan menemani Renatta yang sedang istirahat, tapi Rayyan justru menahannya di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Alvan.

"Kenapa duduk di situ?" Tanya Alvan langsung ketika melihat Danisha malah duduk di lantai selonjoran.

Alvan menatap kekasihnya itu sambil menahan senyumnya, pasalnya saat ini Danisha duduk di lantai menekuk wajahnya, padahal baru tadi sok galakin dia.

"Bangun!"

"Emm???"

"Bangun, ambil tasnya!" Kata Alvan lagi.

"Lo mau bawa dia kemana?" Tanya Rayyan, posesifnya mulai kambuh.

"Kepo Lo!"

"Heh! Dia adek gue ya kalau Lo lupa!" Sarkas Rayyan.

"dan gue pacarnya kalau Lo lupa!" Balas Alvan tak mau kalah.

"Nggak gue restuin kapok Lo!"

"Gue nggak peduli!"

"Ihhh ..kalian bisa nggak sih jangan ribut terus!!!! Kesal Ayu yang mulai jengah melihat kelakuan Alvan dan kekasihnya itu.

"Udah? Ayo!" Ucap Alvan seraya menarik lembut tangan Danisha ketika gadis itu mendekati Alvan. Nggak ada yang bisa dilakukan Danisha selain menuruti Alvan, dia takut Alvan akan semakin marah nanti.

"Serius Al, Lo mau bawa kemana adek gue?" Tanya Rayyan lagi sambil menahan tangan Danisha sebelahnya lagi.

"CK, gue rasa Lo brother complex ya, gue cuma jalan doang!" Kesal Alvan.

"Ya udah, jagain dia yang bener!" Pasrah Rayyan sambil melepaskan Danisha.


Di mobil, Danisha sama sekali tidak nyaman karena Alvan tidak mau bicara sama sekali. Dia hanya diam tanpa sekalipun melirik Danisha, masa' iya Alvan merajuk cuma karena masalah chat tadi, kan kekanakan banget.

"Kenapa diam?" Barulah Alvan ngomong setelah beberapa kali Danisha mencoba menarik perhatian laki-laki itu dengan pura-pura minumlah atau pura-pura berdehem pokoknya Danisha mencari perhatian laki-laki itu dengan banyak tingkah dan akhirnya berhasil juga, buktinya Alvan bertanya.

"Tadi malah sok nantangin, sekarang diam aja! Mana yang sok nantangin tadi?" Kata Alvan menyindir Danisha.

"Aku kan cuma bercanda doang!"...

"Nggak ada bercanda-bercanda, aku udah terlanjur marah!" Kata Alvan seraya membelai jemari Danisha dengan sebelah tangannya, ada ya orang marah kayak gitu?"

Danisha hanya menunduk tidak berani menatap Alvan, bahkan saat ini dia nggak tau mau dibawa kemana sama Alvan tapi sepertinya melihat dari jalanan yang mereka lewati tadi seperti menuju ke.....

Danisha langsung was-was sekaligus takut karena sudah pasti Alvan membawanya ke Apartemennya. Ya Danisha ingat betul kalau jalan ini menuju Apartemen milik Alvan.

"Al....., kita pulang aja yuk!" Ucap Danisha mulai merayu Alvan.

"Nanti!" Sahut Alvan singkat.

"Kok nanti? Sekarang aja, takut mama nyariin!" Kata Danisha sontak membuat Alvan melihat ke arahnya.

"Nggak usah banyak alasan, Tante Sandara lembur malam ini!" Kata Alvan lagi yang langsung membuat Danisha kicep. Karena memang sebelum pergi ke Rumah Rayyan tadi Sandaralah yang mengantarnya sekalian jalan ke Rumah sakit tempat dia bekerja bahkan Sandara bilang tadi kalau dirinya lembur atau mungkin malah nginap di rumah sakit nanti. Masalahnya dari mana Alvan tau kalau Sandara lembur???"

Perasaan Danisha semakin gelisah ketika Mobil Alvan sudah masuk ke parkiran Apartemen, jantungnya sejak tadi sudah berdebar tidak karuan sampai-sampai tangannya sudah sedingin es. Dan jangan lupakan raut wajah tegas Alvan yang semakin menambah ketakutan Danisha.

"Al....!

"Apa? Mau aku gendong?"

"Pulang.....,!"

"Nanti sayang...!" Ucap Alvan disertai smirk andalannya.

Alvan langsung menarik tangan Danisha dan membawanya masuk ke Apartemennya, setelahnya laki-laki itu malah berjalan ke dapur dan kembali lagi dengan dua kaleng minuman dingin di tangannya.

"Kok malah bengong di situ?" Sini duduk!" Ajak Alvan menarik lembut tangan Danisha memaksa gadis itu duduk di dekatnya.

"Al ...! Panggil Danisha lagi.

"Kalau cuma mau minta pulang lebih baik nggak usah ngomong!" Kata Alvan langsung memotong kalimat Danisha.

"Kamu marah?" Tanya Danisha pelan.

"Marah? Karena apa?

"Chat tadi!"...

"Mana bisa aku marah sama kamu sayang, tapi kalau kakak jelekmu itu sampai sekarang aku masih kesal!"

"Cih...kayak anak-anak aja!" Cibir Danisha.

"Anak-anak tapi udah bisa buat anak, mau coba???"...

"ALVAN!!!!"....

"apa sayang, pacarmu di sini nggak usah teriak-teriak!" Dan dengan santainya Alvan mencuri kecupan di pipi gadisnya itu.

"Nggak usah cium-cium!"

"Nggak boleh cium-cium pipi tapi kalau ini boleh kan?" Dan Bibir Danisha dikecup singkat oleh Alvan.

Danisha hanya bengong tidak habis pikir dengan Alvan. Laki-laki itu semudah itu merubah karakternya. Padahal baru beberapa menit yang lalu masih diam, dingin dan alergi ngomong, kok sekarang udah berubah tengil dan.......mesum...

Tak sadar sedari tadi dia menatap Alvan, Danisha malah semakin mengikis jarak diantara mereka, sehingga waktu yang tepat bagi Alvan untuk menarik tengkuk gadis itu dan mencium kembali bibir plum merah merona milik kekasihnya itu.

Bukan sekedar ciuman biasa, Alvan malah mulai melumatnya dengan lembut, menghisap bibir bawahnya bergantian, sesekali menggigit pelan bibir itu, Danisha yang terbuai malah memberikan celah bagi Alvan dengan membuka sedikit mulutnya membiarkan Alvan memperdalam ciuman mereka, mengabsen setiap bagian mulutnya dan jangan lupakan tangan Alvan yang sudah melesak masuk ke dalam kaos putih milik Danisha.

Ingatkan Alvan untuk tidak melewati batasnya...,
Karena kalau sampai itu terjadi, bukan dia yang bunuh Rayyan malah gantian Rayyan yang ngebunuh dia nanti.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang