Bab 159

469 49 0
                                        

Disela-sela kesibukan Danisha sebagai mahasiswa semester akhir yang harus berjuang mengambil hati dosen pembimbingnya demi sebuah skripsi, tapi dia masih bisa menyempatkan diri untuk kembali mengisi seminar di salah satu universitas Negri. Itu sebabnya hari ini Danisha begitu sibuk mempersiapkan diri sekaligus dia juga sekalian membawa skripsinya untuk kembali bimbingan setelah Seminar selesai. Bahkan dia sampai mengendari mobil yang dihadiahkan Alvan padanya agar lebih memudahkan pergerakannya dan menghemat waktu.

Kedatangannya di Kampus negri ini beserta dua orang temannya yang yang merupakan Anggota BEM cukup menarik perhatian mahasiswa di sana karena warna Almamater yang mereka pakai begitu berbeda.


Samar-samar Danisha bisa mendengar bisik-bisikan dari beberapa mahasiswa mengenai dirinya, bahkan ada yang sampai menyapanya.

Tema yang diambil Kali ini Tentang "PERAN GENERASI MUDA TENTANG REPOSISI SASTRA"  Danisha dengan Santai sebagai  pembicara bahkan dia sampai membuka sesi tanya jawab seputar dunia sastra. Puluhan pasang mata bahkan ratusan pasang mata menatap kagum pada sosok Danisha, bertubuh mungil,  senyum yang manis dan jangan lupakan otak jeniusnya, sehingga ada beberapa mahasiswa terang-terangan memoto Danisha lewat kamera ponselnya.

Sekitar dua jam telah berlalu, acara juga sudah selesai ada beberapa orang yang meminta dirinya untuk sekedar berfoto bersama dan dengan senang hati Danisha menerimanya.

"Danisha bisa minta nomor kontaknya?" Salah satu mahasiswa berbadan Tinggi dengan berani mendatangi Danisha ketika dia baru saja keluar dari Aula tempat Seminar tadi berlangsung.

Danisha tak menghiraukannya karena ia sedikit takut, hingga tanpa sadar dia mundur dan bersembunyi di belakang Gerry si anak BEM dari Kampus mereka yang ikut bersamanya tadi.

"Maaf bro kita buru-buru!" Ucap Gerry sopan, karena ia tau kalau Danisha ketakutan.


"Ya elah timbang kontak doang pelit amat sih!!! Kata mahasiswa itu lagi sambil tersenyum sinis.

"Lain kali aja ya, kita bener-bener lagi ngejar waktu ini, kita masih mau bimbingan!" Kata Gerry lagi dan langsung  menarik dua perempuan yang berada di belakangnya yakni Danisha dan Agata yang juga merupakan Anak BEM dari kampusnya untuk diajak pergi meninggalkan Mahasiswa itu dengan langkah yang cepat, beruntung mereka tidak diikuti sampai parkiran.

"Gila tuh anak!" Gerutu Agata sambil menatap kembali ke arah koridor tempat mereka di hadang tadi.

"Resiko orang cantik ya gitu!" Sahut Gerry sambil merogoh kantongnya guna mengambil kunci mobilnya.

"Makasih Gerry!"

" Bukan Lo tapi si Danisha!"

"Cih!"

"Jangan-jangan si Gerry suka lagi sama Lo Danish!" Kata Agata menyikut lengan Danisha.

"Heh...gue masih sayang ya sama nyawa gue!" Gue nggak mau berurusan sama lakinya!" Bantah Gerry cepat karena dia sudah Tau siapa Pawangnya Danisha.

"Cih... Bacul Lo!" Ejek Agata

"Diiihhh.... Lo tau nggak siapa lakinya si Danish?" Tanya Gerry lagi.

"Siapa emang?"

"Alvan!

"HAH!!!...serius Lo Danish?" Tanya Agata sama sekali nggak percaya.

"Iya, kita udah Merid sebulan yang lalu!" Jawab Danisha tanpa menutup-nutupi statusnya.

"WHAT??????....SERIUS LO DANISHA????? Agata masih belum percaya juga.

"Iya Lo Ga, ngapain gue bohong, Nih liat!" Ucap Danisha sambil menunjukkan Foto pernikahan mereka yang menjadi walpaper ponselnya. Barulah Agata percaya.

"Lo sampai histeris gitu kenapa dah???? Tanya Gerry lagi yang udah anteng duduk di dalam mobilnya tapi masih menunggu Agata.

"Alvan crush gue!!!!!.... Jujur Agata

"Diihh.... Alvan juga ogah kalau punya fans modelan Lo kali!" Sarkas Gerry sehingga membuat Danisha tertawa.

"Lo sadar diri, tipe Alvan itu yang kayak Danisha bukan remahan rengginang kayak Lo!" Kata Gerry lagi sehingga membuat Danisha semakin tertawa lepas.


"Udah ah, kok malah ribut nggak mau pulang kalian?" Tanya Danisha dan langsung masuk ke dalam mobilnya.

"Gue bareng Lo aja ya Danish, ogah gue sama Gerry!" Kata Agata seraya mengitari mobil Danisha untuk duduk di sebelah gadis itu.

"Tapi gue masih ke kampus gak  apa-apa?" Tanya Danisha.

"Iya, gue juga masih ada keperluan di UKM!"

"Ohh... Oke, kita duluan Ger!" Teriak Danisha, kemudian perlahan-lahan meninggalkan area kampus itu  setelah Gerry membunyikan klakson mobilnya.





Sementara di lain tempat tiga wanita Cantik dibuat pusing oleh seorang wanita cantik di depan mereka sementara satunya lagi malah fokus ke makanan di depannya tanpa peduli apa permasalahan ketiga sahabatnya itu. Saat ini mereka masih berada di kantin kampus mereka.

"Sha, Lo bantuin mikir kek!!" Inggrid sewot menjauhkan makanan dari depan Elisha.

"Mikir apa sih???

"Ini si Viya  lagi butuh solusi, Lo nya malah makan Mulu!" Omel Inggrid lagi

"Gue kalau lapar nggak bisa mikir!" Sahut Elisha dan langsung menarik kembali makanannya dan langsung dia suap ke mulutnya.

"Liat aja kalau Lo nikah sama Verrel nanti, kita juga nggak mau mikirin!" Kesal Viya.

"Lah ngapain kalian yang mikir, jelas-jelas ada keluarga Verrel yang ngurus nanti, gue terima bersih aja!" Jawab Elisha.

"Diiihhh... Nikah itu sekali seumur hidup Lo Sha,  kita juga harus ikut andil dalam mengurusnya!" Ucap Ayu.

"Gue nggak mau ribet, kalau ada yang gampang ngapain nyusahin diri! Lo semua lupa gimana Danisha? Dia juga terima bersih aja dari keluarga Alvan, tapi pestanya megah banget!"

"Dah lah percuma ngomong sama Elisha!" Pasrah Rania.

"Vy, Lo itu nikah sama pengusaha lho, CEO muda, keluarga Lo juga bukan orang sembarangan, dan Lo masih ribetin diri ngurusin ini -itu, Lo nya aja yang bego!" Kata Elisha lagi yang akhirnya membuat Viya dan tiga lainnya mematung.


"Jadi gue harus gimana?" Rengek Viya kembali setelah beberapa saat mereka terdiam.

"Kayaknya omongan Elisha ada benernya juga Vy!" Kata Inggrid.

"Emang bener kata gue mah!" Sahut Elisha.

"Ya udah deh!" Pasrah Viya.

Lalu setelahnya mereka satu persatu meninggalkan area kantin,  ada yang langsung pulang seperti Inggrid yang sudah di jemput Rion, sedangkan Rania dan Elisha masih menunggu dosen pembimbing mereka, kalau Ayu dan Viya katanya mau ke perpustakaan dulu untuk mengambil beberapa buku untuk panduan skripsi mereka.

Lain halnya dengan Danisha yang kembali dibuat kesal oleh Dosen pembimbingnya yang seenaknya saja menunda pertemuan mereka padahal Danisha udah bela-belain ke kampus hanya untuk bimbingan tapi masih saja di tunda.

Hingga pada akhirnya Danisha memilih untuk pulang saja, karena hari juga udah mulai sore.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang