Danisha mengitari setiap sudut ruangan Alvan begitu ia memasuki ruangan tersebut. Nuansa abu-abu dan putih memenuhi ruangan itu, kemudian ia meletakkan makanan yang ia bawa tadi di atas meja, setelah itu ia melihat pemandangan keluar lewat kaca jendela yang sangat tampak Indah. Ia sama sekali tidak menghiraukan sosok kekasihnya yang sejak tadi mengekorinya dari belakang. Ini kali pertama Danisha berkunjung ke kantor Alvan, ada rasa cemburu terbersit dalam hatinya ketika saat melewati koridor tadi dia sempat berpapasan dengan beberapa pegawai perempuan yang tampak Cantik- cantik dan seksi.
Danisha menjadi Takut jika suatu saat nanti Alvan tergoda ataupun malah gadis-gadis itu yang menggoda Alvan. Mengingat Alvan adalah seorang pewaris tunggal Oswald kingdom, berada di sisi pria mapan itu tentu saja impian semua perempuan, Padahal tidak tau saja Danisha bagaimana Alvan kalau sudah mencintai seseorang maka matanya akan tertutup dengan yang lainnya. Alvan tidak akan peduli secantik apa atau seseksi apa orang itu, dimatanya dan di hatinya cuma ada Danisha yang paling Cantik. Danisha adalah hidupnya.
"Kok aku dicuekin sayang?" Ucap Alvan menyita perhatian Danisha dari pemandangan bangunan-bangunan pencakar langit di depannya.
"Lebay....siapa juga yang cuekin kamu, aku cuma liat pemandangan doang!" Protes Danisha tapi tangannya terulur merapikan dasi yang menggantung di leher Alvan, membuat Alvan sontak melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ramping kekasihnya itu.
"Harusnya tadi di lobby kamu telpon aku biar aku jemput!" Kata Alvan seraya membubuhkan satu kecupan di puncak hidung Danisha.
"Aku nggak mau ganggu kamu, pasti kamu sibuk kan?"
"Sesibuk apa pun aku, kamu tetap menjadi prioritas aku sayang!" Sahut Alvan.
"Aku harap setelah kita menikah nanti kamu tetap seperti ini, tetap mencintaiku, prioritasin aku,selalu ada buat aku dan selalu mendampingiku!" Ucap Danisha yang langsung menciptakan kerutan halus di jidat paripurna laki-laki yang berstatus kekasihnya itu.
"Kenapa ngomongnya gitu hmm??? Tanya Alvan sambil menatap lamat-lamat paras cantik Danisha. Tapi gadis itu hanya menggeleng saja.
"Sayang, aku sudah pernah bilang kan kalau masalah tidak akan selesai kalau kamu hanya diam, jadi coba jelaskan kenapa ngomongnya seperti itu?" Tanya Alvan semakin menatap gadisnya itu tanpa melepas rangkulannya di pinggang Danisha.
"Nggak tau kenapa tadi pas aku jalan ke sini, aku melihat staf-staf di sini cantik-cantik, mereka seksi, tinggi, mereka setiap hari bisa ngeliat kamu, sedangkan aku......
Alvan paham kalau kekasihnya itu tengah gundah karena cemburu, Senang bahkan sangat senang rasanya kalau Danisha cemburu seperti ini, itu tandanya gadisnya itu sangat mencintainya dan takut kehilangannya.
Alvan mencium dahi Danisha sekilas lalu merapikan anak rambut gadis itu sambil berkata lembut.
"Mau secantik apapun mereka bagiku kamu tetap yang paling cantik sayang, meskipun mereka bisa melihatku setiap hari tapi mataku tetap hanya tertuju padamu, tidak akan ada yang lain, kamu tidak hanya mencuri hatiku tapi hati seluruh keluargaku, posisi kamu di hatiku sudah terpahat dengan Kokoh, jangankan untuk digantikan bahkan jika kamu sendiri yang memilih meninggalkanku tidak akan ku biarkan sayang, bagiku mencintaimu sekali untuk seumur hidupku!" Aku sangat mencintai kamu Danisha Camilla!"
Tanpa sadar buliran air mata jatuh dari kelopak mata Danisha, ada rasa bersalah karena sempat meragukan kesungguhan Alvan hanya karena melihat karyawan yang bekerja di Oswald kingdom, padahal tidak tau saja Danisha bahwa apa yang ada pada dirinya sudah membuat gadis-gadis separuh Bumi ini iri. Dengan tubuh mungilnya, paras cantiknya, Karirnya, dan jangan lupakan kejeniusannya. Semua itu menjadi hal yang didambakan sebagian gadis-gadis yang melihatnya. Kesempurnaan itu seolah-olah milik Danisha, dia meragukan dan berkecil hati karena dia takut untuk ditinggalkan lagi setelah selama ini, dia berada dalam kesepian.
"Sayang...kok malah nangis? Aku nggak suka liat mata Cantik ini menangis?" Ucap Alvan lembut menghapus air mata Danisha.
"Maaf...maafkan aku!" Ucap Danisha langsung menghapus air matanya dan merubah ekspresi wajahnya dengan menyunggingkan sebuah senyuman bulat sabitnya yang teramat manis.
"Cukup ini yang terakhir nangis ya sayang!" Kata Alvan lagi dan membawa tubuh Danisha dalam pelukannya.
Harusnya Danisha tidak meragukan Alvan lagi, harusnya dia bangga telah membuat Alvan mencintainya sampai sedalam ini, harusnya yang ia lakukan adalah menjadi kekasih yang baik untuk Alvan bukan malah meragukan laki-laki itu lagi.
"Sekarang kita udah bisa makan kan? Aku sudah lapar soalnya!" Ucap Alvan sontak membuat Danisha refleks melepas pelukannya dan tatapannya tertuju pada makanan yang ia bawa tadi.
"Hehehe...aku juga lapar!" Ucapnya sambil terkekeh sehingga pipi tembemnya menjadi korban cubitan dari Alvan karena gemes.
Lalu keduanya sama-sama duduk di sofa untuk menikmati makan siang mereka yang sudah sedikit terlambat, namun tentu saja tidak mengurangi suasana bahagia dua sejoli yang sebentar lagi akan menikah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN (Kelar Kuliah Nikah )
Teen FictionKKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu... Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita... #BTS #EXO #NOTBL #KKN #au
