Danisha menatap jengah dua laki-laki di depannya yang sejak tadi selalu tidak pernah berhenti berdebat, ada aja yang menjadi bahan perdebatan mereka, Rayyan yang selalu ingin menunjukkan perhatiannya ke Danisha sementara Alvan yang kadar kecemburuannya yang akut. Contohnya sekarang ini, perkara Danisha mau makan saja harus diributin orang berdua itu.
"Bahu Lo masih sakit Danish, biar gue yang suapin ya!" Kata Rayyan seraya mengambil baki tempat makanan Danisha dari nakas.
"Nggak ada-nggak ada, biar gue yang suapin!" Protes Alvan mengambil baki itu dari Rayyan.
"Lo rese banget sih!" Gue kakaknya!"
"Gue pacarnya!"
"Danish, Lo mau gue yang suapin kan? Gue kan Abang Lo!" Kata Rayyan meminta persetujuan Danisha..
"Sama aku aja kan sayang?" Alvan juga tak mau kalah.
"Al, biarin gue dulu lah, dimana-mana abangnya duluan!"
"Ogah, Lo cuma Abang ketemu gede doang nggak usah belagu bawa-bawa status Lo!"
"Heh bangsat!" Gue abangnya kandung ya!" Protes Rayyan tidak terima.
"Nggak peduli gue!"
Tiba-tiba pintu ruangan Danisha dibuka dari luar sehingga menghentikan perdebatan dua manusia itu, tampak Ayu masuk dengan menenteng dua box rujak buah, kemudian meletakkannya di nakas.
"Syukur Lo datang tepat waktu Ay!" Ucap Danisha.
"Kenapa emangnya?"
"Gue jengah liat dua manusia ini!" Keluh Danisha
"Sayang....!" Protes Alvan.
"Diam!"
"Bukannya cepat sembuh, lama-lama gila gue ngeliat tingkah Lo berdua!" Kesal Danisha.
"Kalian ya udah tua juga masih aja kayak anak-anak, apa coba yang diributin?"
"Yang, gue cuma mau nyuapin Danisha adik gue, emang salah?" Ucap Rayyan memelas.
"Jelas salah! Gue pacarnya Danisha, harusnya gue yang nyuapin dia makan!" Sanggah Alvan.
Danisha menghela nafasnya yang terasa berat, kepalanya pusing melihat kelakuan Alvan dan Rayyan yang sama-sama keras kepala.
"Ay, Lo nyesel nggak sih pacaran sama Rayyan?" Tanya Danisha membuat Rayyan langsung menatap kekasihnya itu.
"Mau gimana lagi Danish, udah nasib gue mungkin!" Jawab Ayu tanpa pikir panjang.
"Yang kok gitu sih!" Rayyan merajuk.
"Nggak usah merajuk Lo udah tua!" Sewot Ayu.
Alvan diam - diam mengambil baki makanan Danisha dari depan Rayyan selagi laki-laki itu masih ngomong sama Ayu.
"Heh... Nggak usah kesempatan Lo!" Kata Rayyan menahan baki itu.
"Lanjutin dulu merajuknya, syukur-syukur Ayu mau bujukin Lo!" Kata Alvan berusaha menepis tangan Rayyan dari baki makanan Danisha.
"Itu bubur kalau sampai tumpah, gue suruh Lo berdua yang bersihin pakai mulut ya!" Ayu marah sambil berkacak pinggang, capek dia melihat kelakuan Rayyan dan Alvan.
"Ray, Mending keluar aja deh pusing gue liat kalian ribut Mulu!" Ucap Danisha seraya memijit pelipisnya.
"Syukurin...!" Alvan.
"Kamu juga keluar! Biar gue sama Ayu aja makannya!" Kata Danisha lagi ke Alvan sehingga membuat laki-laki itu membuka mulutnya hendak protes.
"Apa? Mau protes?" Kata Danisha tanpa memberikan kesempatan Alvan untuk bicara.
"Mampus Lo!" Kata Rayyan tertawa mengejek Alvan yang tidak berkutik dimarahi Danisha.
"Kalian keluar sendiri atau gue seret?"
"Nggak perlu Ay, gue masih punya kaki!" Sahut Alvan kemudian beranjak keluar dari ruangan Danisha yang kemudian disusul Rayyan dari belakang.
"Bisa-bisanya dua orang itu bertingkah kayak bocah baru netas gitu!! Ayu ngedumel seraya mendekati ranjang Danisha sambil membawa baki makanan Danisha yang semula menjadi bahan perdebatan Rayyan dan Alvan.
Danisha tertawa mendengar Omelan Ayu barusan, Danisha memang makannya harus ada yang nyuapin karena cidera bahu dia sebelah kanan masih sangat sakit untuk di gerakkan sementara sebelah kiri jarum infus masih menancap di sana.
"Gimana kepalanya masih suka pusing?" Tanya Ayu sambil menyuapi Danisha.
"Pusing kalau Rayyan sama Alvan di sini, kalau nggak ya nggak ada apa-apa!" Jawab Danisha.
"Bahu Lo gimana?" Tanya Ayu lagi.
"Belum berani gue gerakinnya, sakit banget!"
"Tapi kan harus Lo latih untuk gerak juga Danish!"
"Iya, kata Dokter juga gitu tapi nanti aja pas terapinya kalau sekarang gue belum berani soalnya sakit banget!"
Selesai makan dan minum obatnya, Danisha kembali memperbaiki posisinya agar bisa rebahan karena kepalanya masih suka pusing kalau terlalu lama duduk.
"Danish, Lo istirahat ya, gue mau cari Rayyan dulu! Kata Ayu seraya beranjak dari ruangan Danisha setelah diiyakan gadis itu.
Danisha memejamkan kedua matanya, dia tidak bermaksud untuk tidur hanya saja untuk menenangkan pikirannya yang tiba-tiba di ingatannya terlintas saat-saat dia tau kalau Reinard adalah ayah kandungnya. Rasanya dia belum bisa menerima kehadiran laki-laki paruh baya itu dalam hidupnya apalagi dengan kisah yang seperti ia dengar kemarin.
Tanpa terasa bulir bening itu jatuh membasahi pipinya, kalau saja dia tau kalau jalan ceritanya seperti ini, dia lebih memilih untuk tidak tau saja bahkan dia ikhlas jika harus tidak mengenal sosok ayahnya seumur hidupnya.
"Hey.... Kenapa nangis?" Tiba-tiba Alvan sudah ada di dekatnya dan menghapus air matanya.
"Udah ya jangan nangis nanti pusing lagi kepalanya!" Bujuk Alvan lembut.
"Apa aku salah kalau aku tidak menginginkan kehadirannya lagi?" Tanya Danisha lirih.
"Kehadiran siapa sayang?" Tanya Alvan.
"Papa!"
"Jangan mengambil keputusan jika hatimu masih penuh amarah sayang, kamu tenangin diri dulu, kamu baru semalam sadarnya, nggak usah berfikir yang berat-berat dulu ya!" Ucap Alvan lembut sambil mengelus pipi Danisha.
"Aku benci dia Al...!" Kata Danisha terisak.
"Iya sayang, kamu tenang ya!"
Alvan memeluk kepala Danisha, sesekali mengecup rambut kekasihnya itu, hatinya sakit melihat Danisha seperti ini, sebisa mungkin ia harus membuat Danisha tenang agar tidak memperburuk cidera di kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN (Kelar Kuliah Nikah )
Teen FictionKKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu... Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita... #BTS #EXO #NOTBL #KKN #au
