KKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu...
Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita...
#BTS
#EXO
#NOTBL
#KKN
#au
Dan benar saja kalau saat ini Alvan sudah berada di depan rumah Danisha lengkap dengan pakaian kantornya hanya saja jas nya yang sudah ia lepas menyisakan kemeja navy yang lengannya sudah ia gulung sampai siku.
"Lho Al baru sampai atau sudah dari tadi?" Tanya Rayyan ketika mendapati Alvan berdiri di depan pintu.
"CKk...ko Lo terus sih yang nongol, pacar gue mana?" Kata Alvan
"Diiihhh...gue bunuh juga Lo!" Kesal Rayyan tapi tetap saja dia memanggil Danisha dan mempersilahkan Alvan masuk dan menyuruhnya duduk di sofa.
Tidak lama setelah itu muncul Danisha dengan pakaian santainya tapi tetap tidak mengurangi kadar kecantikannya sehingga membuat Alvan seperti mendapat angin segar dan semangat baru lagi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?" Tanya Danisha sambil mendudukkan dirinya di samping Alvan.
"Aku rindu!" Gumam Alvan pelan tapi masih bisa di dengar Danisha dengan jelas sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Danisha.
"Capek banget ya?" Tanya Danisha lagi tapi Alvan hanya menjawab lewat gelengan kepalanya.
"Terus kenapa? Ada masalah di kantor?" Tanya Danisha dan lagi-lagi Alvan hanya menggeleng.
"Ya sudah, mau makan? Kamu belum makan malam kan?" Tanya Danisha sambil mengelus rambut Alvan
"Tapi kamu yang masakin ya?" Kata Alvan setengah merengek sehingga membuat Danisha geli karena rasanya Alvan sangat tidak cocok bertingkah manja seperti ini.
"Iya, ya udah kalau gitu kamu tunggu di sini sebentar ya?" Kata Danisha sambil beranjak tapi tangannya keburu ditarik Alvan sehingga Danisha jatuh tepat di atas pangkuan Alvan.
Danisha merasakan sepasang tangan melingkari perutnya, dan merasakan Kepala Alvan bersandar di punggungnya.
"Aku rindu!" Gumam Alvan lagi
"Gimana caranya aku bisa masak kalau kamu nya kayak gini?"
"Biarin gini aja dulu!" Kata Alvan.
Sungguh rasanya Danisha jadi bingung dengan sikap Alvan saat ini, tiba-tiba datang ke rumahnya dan bertingkah manja, apa memang Alvan manja kalau lagi capek? Begitu pikir Danisha.
Kemudian Danisha pindah dari pangkuan Alvan dan mendudukkan dirinya kembali di samping laki-laki yang berstatus tunangannya itu.
"Kamu kenapa hmm?" Tanya Danisha lembut seraya menyelam ke dalam sorot mata tajam milik Alvan.
Alvan tersenyum hangat, tidak mungkin rasanya dia cerita masalah kegelisahan hatinya sekarang, Nanti-nanti saja kalau hal itu sampai kejadian lagi barulah dia akan ceritakan semuanya ke Danisha.
"Kan tadi aku udah bilang kalau aku lagi Rindu, tapi calon istriku ini lagi sibuk-sibuknya!" Kata Alvan menjawil sekilas hidung Danisha.
"Padahal baru semalam doang kita GK komunikasi!" Cibir Danisha
"Kamu Cinta nggak sih sama aku?" Masa iya aku bilang rindu kamunya malah gitu!"
"Nggak usah drama akh, kamu nggak cocok kayak gini!" Kata Danisha sambil tertawa tapi malah membuat Alvan fokus ke bibir merah Danisha.
"Kamu cantik!"
"Iya aku tau!"
"Kamu mau hadiah apa dari aku atas kesuksesan novel kamu?" Tanya Alvan setelah membubuhkan kecupan singkatnya di bibir merah Danisha.
"Apa ya?" Kayaknya nggak usah aja deh!"
"Kenapa?" Pacarmu ini kaya lho sayang!...
"Atau mau mobil aja?" Kata Alvan lagi.
"Mobil hadiah dari kakek aja belum aku pakai!" Udah nggak usah aja!" Tolak Danisha karena dirasa belum saatnya meminta apa-apa ke Alvan. Semenjak pacaran laki-laki itu sudah memberinya kalung, Cincin dan beberapa barang mewah lainnya yang ditaksir harganya bukanlah barang sembarangan.
"Kamu mah gitu, Aku seperti nggak ada gunanya jadi pacar kamu bahkan kita udah Tunangan lho!" Kata Alvan sambil menggenggam jemari Danisha. Dia kadang heran dengan kekasihnya itu yang tidak pernah meminta apa-apa padanya bahkan kalau Alvan yang menawarkan sekalipun Danisha sering menolaknya.
"Kata siapa nggak ada gunanya? Bahkan aku sudah mengambil sesuatu yang paling berharga dari kamu?" Kata Danisha seraya tersenyum manis.
"Apa?" Tanya Alvan bingung karena merasa Danisha belum pernah meminta apa-apa padanya.
"Hatimu!" Bukankah hatimu sudah jadi milikku begitupun hatiku yang sudah jadi milikmu!" Itu jauh lebih berharga dari apapun!"ucap Danisha dan dengan nakalnya mencuri ciuman di bibir tipis Alvan.
Jangan ditanya lagi bagaimana Alvan, bahkan saat ini dia hanya mematung setelah mendapat perkataan manis dan ciuman singkat dari gadisnya itu. Semakin hari kekasihnya itu semakin mengobrak-abrik hatinya membuat Alvan jatuh sejatuh-jatuhnya pada sosok cantik di depannya itu.
"Gimana kalau kita menikah besok saja!" Kata Alvan langsung membuat Danisha terkejut.
"Ngaco kamu!" Kata Danisha mencubit perut Alvan.
"Sakit lho sayang, mana lagi kosong dicubit pula!"
Seketika Danisha tersadar kalau tadi Alvan tengah meminta dimasakkan sesuatu.
"Maaf!....lirih Danisha mengusap pelan bekas cubitannya tadii, membuat Alvan tersenyum.
"Ya udah kamu tunggu di sini ya, aku masakin makanan buat kamu atau kamu mau ke kamar Rayyan dia lagi di kamar tuh!" Kata Danisha memberitahu keberadaan Rayyan.
"Iya nanti panggil aja kalau udah selesai, nggak apa-apa kan kalau aku ke Rayyan dulu?" Tanya Alvan yang hanya diiyakan Danisha lewat anggukan kepalanya.
Setelah mencuri satu ciuman di bibir Danisha, Alvan langsung menaiki tangga menuju ke kamar Rayyan untuk menceritakan apa yang menjadi sumber kegelisahannya saat ini. Barangkali Abang dari kekasihnya itu punya solusi.