Pesta pernikahan Rania dan Alex digelar dengan sangat mewah, para petinggi-petinggi perusahaan maupun dari kalangan pejabat mendominasi tamu undangan yang hadir, hanya beberapa saja yang Rania undang dari temen-temen kampusnya, lalu selebihnya temen-teman Alex Baik dari kampus maupun rekan bisnisnya.
Pesta masih berlanjut dengan meriahnya meski hari juga sudah lewat tengah malam, semua tertawa bahagia seolah-olah ikut merasakan kebahagiaan sepasang pengantin yang baru saja sah menjadi suami dan istri itu. Tapi sepertinya tidak dengan Rania yang sejak tadi sudah menekuk wajahnya akibat kelelahan.
"Kapan sih pestanya bubar?" Gerutu Rania seraya mendudukkan dirinya ke kursi pelaminan.
"Sabar sayang, capek banget ya?" Ucap Alex lembut penuh perhatian.
"Banget! Mana besok masih ke kampus lagi untuk jemput perintilan wisuda!" Omelnya sambil memijit betisnya yang lumayan pegal.
Alex hanya tersenyum mendengar Omelan wanitanya itu, dia nggak seberani itu untuk sekedar menjawabnya, Ranianya itu galak tapi dia suka, bahkan cintanya habis digadis itu sejak dulu sampai sekarang. Dia sangat paham kekesalan gadis yang baru saja menjadi istrinya itu, bagaimana tidak malam ini mereka masih sibuk menyambut tamu undangan yang hadir, besoknya harus ke kampus dan lusanya udah acara wisuda!
Tapi sepertinya bukan Rania saja yang tengah menahan kesal menekuk wajahnya, di salah satu meja tamu undangan ada Danisha yang sejak tadi diam memijit pelipisnya, kepalanya terasa pusing serta badannya yang terasa ngilu.
Karena memang Danisha pernah kecelakaan dan mengalami geger otak ringan membuatnya sering mengalami hal ini, apalagi kemarin-kemarin dia sibuk mengerjakan skripsinya ditambah istirahat yang kurang itu sebabnya kepalanya kambuh lagi.
Alvan yang menyadari diamnya istrinya langsung mengusap lembut kepala Danisha.
"Kita pulang aja ya sayang, biar aku permisi ke Alex aja!" Ucapnya cemas sembari memperhatikan raut wajah lesu Danisha.
Tanpa menunggu jawaban Danisha, Alvan sudah beranjak ke depan untuk berpamitan pada Pengantin baru itu.
"Pusing banget ya Danish?" Tanya Ayu seraya memijit pelan kepala Danisha.
"Kita kerumah sakit aja ya langsung ya dek?" Kata Rayyan tapi Danisha justru menggeleng.
"Lebay banget ke rumah sakit, gue cuma pusing lho Rayyan!" Bantah Danisha.
"Obatnya nggak di bawa?" Tanya Rayyan lagi dan Danisha hanya menggeleng.
Nggak lama kemudian Alvan sudah datang dan langsung meraih tas Danisha untuk ia bawa.
"Kita duluan ya Ray!" Pamitnya.
"Hati-hati Lo!" Ucap Rayyan dan Alvan hanya mengangguk mengiyakan.
"Alvan kenapa buru-buru?" Tanya Rion yang datang mendekat ke meja mereka bersama Inggrid, Verrel dan Elisha.
"Kepala Danisha sakit lagi!" Jawab Rayyan lirih, tidak bisa dipungkiri kalau dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya itu.
"Berarti langsung ke rumah sakitereka, kalau iya kita langsung nyusul kesana!" Ucap Elisha.
"Kata Danisha tadi nggak, karena dia nggak bawa obatnya makanya kambuh lagi sakitnya!" Ucap Rayyan .
"Tapi ada bagusnya langsung ke Rumah sakit aja Ray, karena kita sama-sama tau kalau Danisha pernah kecelakaan!" Kepala jangan dianggap sepele!" Kata Inggrid mengingatkan.
"Alvan sudah lebih tau hal itu sayang, dia nggak mungkin diam aja!" Ujar Rion.
Sesampainya di rumah Danisha langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, tanpa mengganti gaun yang ia kenakan terlebih dahulu.
Alvan yangelihat itu dengan cekatan langsung membuka jas hitam dan Dasi yang ia kenakan menyisakan kemeja putih yang kemudian lengannya ia gulung sampai siku. Setelahnya dia mengambil Piyama yang baru milik Danisha dari dalam lemari.
"Sayang, sini gaunnya diganti dulu biar tidur kamu nyaman!" Ucapnya lembut seraya mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
Danisha mendudukkan dirinya lalu mulai mengganti gaun yang ia kenakan dibantu oleh Alvan.
"Masih pusih ya?" Tanya Alvan.
"Pusing tapi udah nggak sepusing tadi!"
"Ya udah kamu istirahat ya sayang, besok nggak usah kemana-mana dulu biar mas yang ke kampus ambilin perlengkapan wisuda kamu!" Ucap Alvan.
"Tapi... Mas kan sibuk!" Lirih Danisha karena ia tau suaminya itu sangat sibuk mengelola perusahaannya.
"Sesibuk apapun aku, tetap kamu yang menjadi prioritas aku sayang, besok istirahat total di rumah, bisa nurut kan?"
"Iya mas!" Ucap Danisha seraya menyunggingkan senyum manisnya.
"Makasih ya mas!" Katanya lagi.
"Sama-sama sayang, ya udah kamu tidur duluan ya, mas mau mandi dulu!" Ucap Alvan yang kemudian hanya diangguki oleh Danisha.
"Mas....! Tiba-tiba Danisha memanggil Alvan lagi dan membuat laki-laki itu langsung menghentikan langkahnya.
"Wisudaku nanti mas mau hadiah apa?" Tanya Danisha yang langsung membuat Alvan terkekeh.
"Kan kamu yang wisuda sayang harusnya mas yang nanya kayak gitu, katakan! Kamu mau hadiah apa hmm?" Tanya Alvan lembut setelah kembaliendusukkan tubuhnya di samping Danisha.
"Dulu pas Mas Wisuda juga aku yang dapat hadiah, sekarang aku yang wisuda jadi mas yang harus dapat hadiahnya!" Kata Danisha.
"Nanti aja deh mas bilang, mintanya apa setelah kamu wisuda!" Kata Alvan sehingga membuat Danisha sedikit merengut.
"Ya udah sana mandi, mas bau!" Kata Danisha dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, lagi-lagi Membuat Alvan terkekeh gemas dengan tingkah istrinya itu. Lalu setelahnya ia bergegas ke kamar mandi.
Sejujurnya ia tidak ingin hadiah apa-apa dari Danisha, menikahi dan menjadikan Danisha miliknya seutuhnya sudah merupakan hadiah yang paling berharga dalam hidupnya, dia hanya ingin membahas masalah keturunan yang menjadi kemelut hatinya selama ini, itu sebabnya dia bilang ia akan katakan setelah Danisha wisuda nanti agar istrinya itu tidak terbebani pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN (Kelar Kuliah Nikah )
Novela JuvenilKKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu... Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita... #BTS #EXO #NOTBL #KKN #au
