Seiring berjalannya waktu, kehamilan Danisha juga semakin berkembang dengan sangat bagus dan sehat, tiap bulan Danisha selalu memeriksakan kandungannya ke dokter, dia juga sudah tidak merasakan mual seperti awal-awal kehamilannya dulu. Danisha sudah mulai aktif lagi di Entertainment maupun di naskah novel-novelnya, tak jarang karena hal itu menjadi pemicu perdebatannya dengan Alvan suaminya dan berakhir Alvan juga lah yang mengalah tapi dengan satu syarat Danisha tetap berada di bawah pengawasannya.
Tidak ada yang berubah dengan Danisha, wajah imutnya semakin cantik serta perut buncitnya menambah kesan seksi pada tubuhnya, itu sebabnya Alvan sering uring-uringan karena beberapa kali Alvan memergoki laki-laki lain terang-terangan menatap istrinya.
Hari ini Danisha berencana ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, dia sangat penasaran dengan jenis kelamin baby cebong, meskipun ini sudah bulan ke enam kehamilannya , dia sama sekali belum pernah menanyakannya ke dokter ataupun bahkan ketika dokter ingin memberitahunya, ia sengaja untuk tidak mengetahuinya dul, biar saja menjadi kejutan saat ia lahiran nanti, begitu pikirnya.
Tapi ternyata rasa penasarannya begitu tinggi sehingga runtuh sudah pertahanannya, ia langsung bergegas ke rumah sakit bahkan tanpa ijin dari Alvan, dia sengaja pergi diam-diam agar dia sendiri yang memberi kejutan itu ke Alvan.
"Lho Danish mau kemana sayang?" Tanya Briyanna ketika mereka berpapasan di ruang tamu.
"Danish mau minta vitamin dulu ke dokter Ma!" Jawabnya ragu-ragu, karena memang vitaminnya juga sudah mau habis tapi bukan itu tujuan utamanya.
"Kenapa nggak nunggu Alvan saja? Atau mama temenin ya!" Ucap Briyanna lagi.
"Danish sama supir aja ma, sekalian mau ketemu mama nanti di RS!"
"Tapi mama khawatir sayang!" Briyanna Berar membiarkan Danisha pergi sendirian.
"Don't worry mom, I'll be fine! Ucap Danisha meyakinkan Briyanna. Mau tak mau Akhirnya Briyanna mengiyakan juga meski berat.
"Ya sudah kalau gitu, kamu hati-hati ya Sayang, telpon mama kalau ada apa-apa!" Kata Briyanna lagi yang diiyakan Danisha lewat anggukan kepalanya serta senyum manisnya.
Setelah berpamitan, Danisha langsung meluncur ke RS diantar oleh supir keluarga Oswald.
"Beratnya oke, jantung juga sehat, beratnya juga oke, semuanya Aman Bu Dianisha!" Dokter Laila yang menangani Danisha selama ini ikut tersenyum melihat raut bahagia Danisha ketika mendengar ucapannya perihal janinnya.
"Mmm...dok, liatin jenis kelaminnya dong?" Pinta Danisha setengah merengek membuat dokter Laila lagi-lagi tersenyum melihat tingkah ibu muda itu.
"Nggak nunggu suaminya dulu Bu Danisha?" Tanya dokter itu lagi, karena ini kali pertama Danisha tidak ditemani Alvan jika memeriksa kandungannya.
"Nggak usah Dok, nanti biar saya saja yang kasihtau!" Ucap Danisha.
"Baiklah kalau gitu, kita lihat ya!"
Danisha cukup deh-degan menunggunya, tapi memang apapun jenis kelaminnya nanti, Alvan maupun Danisha tetap bahagia dan tidak mempermasalahkannya, yang penting sehat.
"Waahhh... Jenis kelamin adek bayinya laki-laki Bu Danisha!" Kalimat dokter Laila semakin membuat senyuman Danisha merekah,
"Terimakasih Dokter Laila!" Ucap Danisha.
"Sama-sama Bu Danisha, ini saya kasih Vitamin sama obat penambah Darahnya ya Bu, sudah tidak mual lagi kan?" Tanya Dokter Laila dan Danisha pun mengiyakannya.
"Ada yang mau Bu Danisha tanyakan lagi?" Tanya Dokter Laila.
"Kayaknya sudah jelas semuanya Dok!" Ucap Danisha.
"Saya permisi dulu ya Dokter, terimakasih!" Pamit Danisha seraya keluar Dari ruangan praktek Dokter Laila. Di ruang tunggu ada beberapa ibu hamil tengah menunggu gilirannya.
"SAYANG!!!!....
Alvan langsung berlari kecil untuk menghampiri Danisha yang berjalan di koridor rumah sakit.
"Lho, mas kok bisa ada di sini?" Pertanyaan polos Danisha sukses membuat Alvan kesal.
"Sayang, kenapa nggak nunggu mas? Kenapa nggak telpon mas? Kenapa pergi sendiri? Kan mas sudah bilang, apapun itu kasih tau mas!" Alvan langsung mengomeli istrinya itu, raut wajah khawatirnya begitu tercetak jelas.
"Mas, aku nggak apa-apa, lagian kan mas pasti banyak kerjaan di kantor!" Alasan Danisha seraya mengusap perut buncitnya.
"Sesibuk apapun aku, kamu tetap prioritasku sayang, Kamu yang paling penting!" Ucap Alvan masih dengan wajah tegangnya yang kemudian dielus lembut oleh jemari Danisha, ia sangat tau pasti suaminya itu begitu mencemaskannya.
"Waktu mama nelpon kasihtau kalau kamu ke rumah sakit sendirian, mas langsung buru-buru ke sini, apa ada yang sakit? Mas tau hari ini belum waktunya baby cebong periksa, mas hafal jadwal kamu sayang!" Ada yang sakit hmm?" Tanya Alvan seraya merangkul istri mungilnya itu.
"Aku sama supir mas, aku nggak sendirian lho!"
"Jawab pertanyaan mas, apa ada yang sakit?" Tanya Alvan mengulang pertanyaannya.
"Nggak mas, Vitaminnya habis sama lalu....
"Lalu?"....
"Jenis kelamin baby cebong laki-laki mas, Aku penasaran makanya periksa tadi! Heheheh...!" Danisha terkekeh membuat Alvan langsung membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Ternyata Baby cebong saingan Mas ya!" Kata Alvan, tidak bisa dibohongi kalau hatinya begitu bahagia sekarang, jagoannya nggak lama lagi akan segera lahir, putra mahkotanya. Tanpa Danisha sadari, Alvan sampai menitikkan air matanya saking bahagianya.
"Mas, laper!" Lirih Danisha tiba-tiba dan langsung membuat Alvan mengurai pelukannya setelah buru-buru menghapus air matanya.
"Ayo kita makan siang, mas juga udah laper!" Kata Alvan.
"Tapi aku maunya masakan Inggrid mas!" Kata Danisha lagi.
"Sayang, nanti ngerepotin Inggrid lho!"
"Masakan Inggrid enak, aku maunya makan siang di kafenya aja mas!"Danisha tetap membujuk Alvan.
"Bentar ya, mas telpon Rion dulu siapa tau Inggrid lagi nggak di kafe!" Ucap Alvan dan langsung merogoh kantongnya guna mengambil ponselnya.
Tutt...tutt...tutt...
"Halo! Kenapa Al?" Jawab Rion begitu mengangkat panggilan Alvan.
"Inggrid dimana?"
"Ngapain nanyain bini gue?" Tanya Rion sedikit heran.
"Danish pengen makan masakan Inggrid katanya!"
"Oh, Kebetulan Inggrid lagi di kafe kok! Langsung kesana aja Al!"
"Oke, thanks ya Rion!"
"Yoi!"
"Gimana mas? Inggrid ada di kafe kan?" Tanya Danisha antusias.
"Ada sayang, yuk!" Ajak Alvan langsung menggandeng jemari Danisha membawanya meninggalkan koridor rumah sakit.
Padahal tadi niatnya mau menemui Sandara, tapi memang jadwal Sandara lagi sibuk dengan beberapa anak koas, jadi nggak mungkin juga Danisha mengganggunya.
~End~
Episode selanjutnya udah aku up di KKN (kelar kuliah nikah) bagian dua ya...
Aku lupa kalau episode di Wattpad batasnya sampai 200,
Makasih ya buat kalian yangasih baca cerita ini🥰🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN (Kelar Kuliah Nikah )
Novela JuvenilKKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu... Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita... #BTS #EXO #NOTBL #KKN #au
