Di sinilah Danisha, duduk sendirian di taman Kampus menatap kosong pada langit sore, diamnya dia bukan berarti dia tidak memikirkan apapun, justru diamnya dia berarti ada sesuatu yang begitu membebani pikirannya. Beban yang sangat ingin ia teriakkan kepada Tuhan kenapa harus dia yang ditempatkan di posisinya sekarang ini.
Dulu Danisha sempat berfikir jika ia menemukan ayah kandungnya hidupnya akan jauh lebih baik lagi, tapi nyatanya malah sebaliknya, bahkan ia lebih memilih untuk tidak tau seperti apa ayah kandungnya selamanya daripada harus tau jalan cerita yang seperti ini, bahkan sekarang ia malah menjadi sumber keributan antara Sandara dan Reinard.
Berkali-kali Danisha menghela nafasnya yang semakin terasa berat menghimpit memenuhi hatinya yang terasa sesak, mulutnya masih terkunci rapat, hanya tatapannya yang menjelaskan serumit apa hidup yang dia jalani.
Hingga fokusnya terusik saat sebuah sentuhan menyentuh lembut sisi wajahnya sebelah kiri, dan menemukan senyuman manis kekasihnya di sana.
"Kenapa hmm?" Alvan mendudukkan dirinya di samping Danisha.
"Sejak kapan kamu melihatku di sini?" Ucap Danisha malah bertanya balik.
"Baru saja, tadinya Rayyan yang nyariin kamu tapi tiba-tiba aja anak itu disuruh revisian sama Dospemnya!"
"Ngapain dia nyariin aku?"
"Nggak tau sayang!" Sahut Alvan.
Kemudian Danisha kembali menatap lurus ke depan, tatapan sendunya membuat hati Alvan sakit saat melihatnya, bukan ia tidak tau permasalahan kekasihnya itu, tapi dia juga harus tau diri menjaga batasannya untuk tidak ikut campur, ia hanya memposisikan dirinya selalu ada sebagai tempat Danisha untuk menumpahkan segala keluhnya dan berusaha menjadi pendengar yang baik.
"Semalam Tante Renatta dan Om Reinard datang ke rumah untuk memintaku untuk tinggal bersama mereka, mereka malah menyalahkan mama karena terlalu sibuk di rumah sakit dan membiarkanku sendirian!" Ucap Danisha memulai ceritanya. Cerita yang begitu memenuhi pikirannya.
Alvan masih menatap gadisnya itu, menunggu kelanjutan kalimat apa yang akan diucapkan Danisha.
"Dulu aku masih ingat sekali, kalau mama mau kerja, aku selalu dititipin ke tetangga, kadang - kadang sama temennya yang berlainan shift sama mama, aku dioper-oper ke siapapun yang bisa mama mintai tolong, kadang-kadang juga mama membawaku ikut serta ke rumah sakit dan dititipin ke ibu kantin rumah sakit, karena waktu itu mama masih baru memulai karirnya di kedokteran. Setelah umurku duabelas atau tiga belas tahunan, mama mulai memberikan pengertian kepadaku dan mau ditinggal sendirian di rumah!" Danisha diam sejenak hanya untuk menenangkan hatinya yang semakin sesak, Alvan masih diam menatap Danisha, menunggu gadis itu melanjutkan ceritanya.
"Aku sendirian, kadang kalau sudah waktunya malam aku sering ketakutan apalagi kalau hujan petir datang, ketakutan ku tidak aku tunjukkan ke mama kalau ia sudah pulang, aku tidak mau menambah bebannya. Mandiri bahkan sangat mandiri, untuk mengusir rasa bosanku aku sering membaca-baca komik, cerita-cerita Rakyat dan mulai menyukai novel, hal itu bertahun-tahun aku dan mama jalani, saling menguatkan satu sama lain, saling berbagi tangisan, bahagia dan luka! Dan sekarang mereka dengan egoisnya memintaku dari mama, dan mereka seenaknya menyalahkan mama! Mereka hanya melihat luka Tante Renatta yang kehilangan anaknya tanpa sekalipun melihat luka mama!" Emosi Danisha mulai meluap disertai dengan tangisnya yang meluruh membasahi wajah cantiknya.
Kemudian Danisha mengusap kasar air matanya, dan beralih menatap Alvan yang sedari tadi hanya menggenggam jemarinya.
"Al.... Apakah aku akan menjadi orang yang jahat kalau tetap memilih bersama mama dan membiarkan Tante Renatta kembali berurusan dengan psikiaternya?" Tanya Danisha lirih menatap Alvan, sungguh Alvan sangat benci melihat tatapan penuh Luka Danisha, hatinya sangat sakit, kemudian Alvan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, hatinya berdenyut nyeri melihat Danisha seperti ini, ia mencoba memberikan kekuatan dengan memeluk tubuh rapuh kekasihnya itu serta sesekali membubuhkan kecupan singkat di puncak kepalanya.
"Tante Renatta masih punya Om Reinard, masih punya Rayyan yang selalu ada setiap saat bersamanya, sementara Tante Sandara hanya punya kamu, jadi ikuti kata hatimu sayang!" Ucap Alvan lirih tanpa melepas pelukannya.
Saat Alvan akan mengurai pelukannya tapi Danisha justru menahannya, dia seperti enggan untuk melepaskan pelukan kekasihnya itu
"Biarkan seperti ini dulu sebentar lagi!" Lirihnya yang semakin menyandarkan kepalanya ke dada bidang Alvan. Pun Alvan dengan senang hati semakin merapatkan pelukannya setelah mengecup singkat kening gadis yang sangat dicintainya itu.
Alvan tidak bisa membayangkan seperti apa menyakitkannya masa kecil Danisha, seperti apa kesepiannya gadis itu, dan Alvan tidak habis pikir dengan maksud dan tujuan orangtua Rayyan. Dan lagi-lagi dia tidak mungkin ikut campur dalam masalah ini, cukup menjadi sandaran Danisha saja.
Alvan berjanji dan bersumpah dalam hatinya agar selalu membahagiakan Danisha, menjadikan gadis itu wanita terbahagia di dunia ini adalah janjinya pada dirinya sendiri.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada sepasang mata dan sepasang telinga yang mendengar dan melihat apa yang mereka bicarakan dan apa yang mereka lakukan.
Rayyan berdiri mematung di samping pohon Ketapang, setelah pertemuannya dengan dosen pembimbingnya tadi kelar, niatnya dia langsung mencari Danisha ke perpustakaan, akan tetapi justru melihat gadis itu duduk di taman samping perpustakaan bersama Alvan.
Rayyan mendengar semua dengan jelas, bahkan jejak air mata masih tercetak jelas di sudut matanya, ingin sekali dia memeluk adiknya itu, tapi Alvan sudah mewakilinya, kemudian ia berbalik perlahan-lahan meninggalkan area Taman, tujuannya cuma satu. Pulang!
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN (Kelar Kuliah Nikah )
Teen FictionKKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu... Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita... #BTS #EXO #NOTBL #KKN #au
