"Rumah siapa ini Al?" Tanya Danisha ketika sore itu setelah dari taman Alvan malah membawanya ke rumahnya diam-diam tanpa memberitahu Danisha lebih dulu.
Alvan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Danisha serta terkekeh geli melihat raut kebingungan gadis itu.
"Ayo!" Aja Alvan seraya menggenggam jemari Danisha.
"Tunggu dulu! Ini rumah siapa?" Tanya Danisha menahan langkah Alvan.
"Ikut aja, nti juga Bakalan tau!" Kata Alvan kemudian menarik tangan Danisha dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.
"Ma!....mama!"....
Danisha tersentak saat Alvan memanggil mamanya, Berarti sekarang ini dia berada di rumah kekasihnya itu tanpa ia ketahui sejak tadi, tiba-tiba perasaan gugup serta degdegan menggerogoti tubuhnya, sampai- sampai Jemari yang ada dalam genggaman Alvan terasa dingin.
"Apa sih Al?" Briyanna berjalan cepat dari arah dapur mendekati anaknya sambil membenarkan rambutnya, belum sadar jika putranya membawa seseorang.
"Al punya hadiah untuk mama!" Katanya tersenyum seraya menarik Danisha agar gadis itu selangkah lebih maju di depannya.
"Waaahhh...mantu mama rupanya, sini peluk mama dulu!" Briyanna langsung memeluk Danisha.
"Danisha dipaksa ya sama Alvan ke sini?" Tanya Briyanna antusias.
"Mmmm...nggak Tante!" Jawab Danisha gugup.
"No Tante! Mama!" Ucap Briyanna.
"Iya ...ma!" Sahut Danisha dan Briyanna langsung tersenyum senang.
"Sini kita duduk dulu, Mama udah lama pengen ketemu langsung sama Danisha tapi dilarang Mulu sama pinguin Antartika itu!" Sewot Briyanna seraya mendelik kepada putranya.
Danisha terkekeh pelan mendengar Briyanna mengatai Alvan pinguin Antartika, sedangkan Alvan hanya mendengus mengabaikannya. Ia sudah terlampau hafal dengan tabiat Briyanna yang suka menistakan anaknya sendiri.
"Gimana kabar mama kamu sayang?" Tanya Briyanna lembut seraya membelai rambut kekasih anaknya itu.
"Baik ma, mama sehat!" Sahut Danisha.
"Papa belum pulang ma?" Tanya Alvan tiba-tiba mengusik obrolan dua wanita di depannya itu.
"Papa ke Belanda tadi pagi, kamu sih di suruh malah nggak mau, jadinya papa kan yang pergi!" Ucap Briyanna ngedumel.
"Kasihan jomblo!" Kata Alvan terkekeh.
"Gini nih anak durhaka suka ngeledekin orangtua!"
"Mama duluan tadi ngatain Alvan pinguin Antartika!" Bela Alvan.
Briyanna hanya mendengus mengabaikan putranya itu dan kembali fokus ke Danisha. Danisha bisa merasakan kebahagiaan keluarga Alvan hanya dengan melihat interaksi Alvan dengan Mamanya barusan. Pastilah Alvan memiliki keluarga yang hangat.
"Ya sudah, mama tinggal ke dapur dulu ya sayang!" Pamit Briyanna karena memang sebelum Alvan memanggilnya tadi wanita itu tengah menyusun beberapa barang belanjaan yang dibeli para maidnya tadi ke dalam kulkas, selain itu dia juga harus memberi waktu kepada anak dan calon menantunya itu.
Lain halnya dengan Rayyan yang sekarang ini sedang menahan amarahnya agar tidak melampaui batas saat berbicara dengan kedua orangtuanya. Ia tidak mungkin Setega itu untuk meluapkan emosinya sedangkan Renatta masih butuh ketenangan.
"Apa salahnya kalau Danisha tinggal bersama kita, toh itu malah lebih baik kan? Daripada dia sendirian di rumah!" Kata Renatta.
"Baik menurut kalian tapi tidak untuk Danisha ma, Tante Sandara cuma punya Danisha, dan tadi Rayyan dengar sendiri bagaimana Danisha dan Tante Sandara melalui semua ini selama bertahun-tahun dan dengan mudahnya kalian malah ingin memisahkan mereka!"
"Mama tidak memisahkan Danisha dengan Sandara, Danisha masih bisa mengunjungi Sandara setiap hari, hanya saja mama mau Danisha menjadi bagian dari kita, dia adik kamu meskipun dia bukan lahir dari rahim mama, tapi di darah kalian mengalir darah yang sama dari ayah kalian!"
"Lalu bagaimana dengan Tante Sandara?" Apa kalian akan kembali memisahkan dia dengan orang yang begitu dia cintai sekali lagi?" Mama sudah memenangkan hak atas papa, apa masih kurang dan harus mengambil Danisha juga?" Kata Rayyan seraya menatap tajam kedua orangtuanya.
"Mereka hanya melihat luka Tante Renatta tanpa sekalipun melihat luka mama!" Kata-kata itulah yang diucapkan Danisha tadi, Danisha akan sangat membenci kalian jika kalian tetap bersikeras dengan ego kalian!" Ucap Rayyan lagi sontak membungkam Renatta dan Reinard.
"Bagi Danisha, Tante Sandara adalah dunianya, kalau kalian memisahkan Danisha dari Dunianya itu berarti kalian membunuh Danisha pelan-pelan, dan kalian akan kehilangan putri kalian untuk kedua kalinya!"
"Rayyan!... Reinard bermaksud menghentikan kalimat Rayyan tapi justru mulutnya terkunci rapat dan tidak tau harus berkata apa.
"Di sini papa yang melakukan kesalahan, cih....sampai sekarang aku masih sangat marah mengungkit hal itu!" Rayyan berdecih menata Reinard.
"Papa yang melakukan kesalahan tapi Danisha yang menanggung semua akibat dari kesalahan papa, Rayyan mohon Pa...ma... Biarkan Danisha tenang, bahagia bersama Tante Sandara toh Tante Sandara nggak keberatan kan kalau kalian mengunjungi ke rumahnya?"
Reinard maupun Renatta masih diam, tanpa sepatah kata pun, mereka hanya mendengar apa yang dikatakan putranya dengan suasana hati yang sulit di jelaskan.
"Pa.... Dengan membiarkan Danisha dan Tante Sandara hidup bersama tanpa mengusik mereka, mungkin rasa hormatku pada papa yang hanya tinggal secuil ini mudah-mudahan akan bertambah!" Ucap Rayyan, sekali lagi ia menatap kedua orangtuanya itu lamat-lamat sebelum pada akhirnya ia beranjak dan meninggalkan keduanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN (Kelar Kuliah Nikah )
TeenfikceKKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu... Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita... #BTS #EXO #NOTBL #KKN #au
