Bab 107

708 41 1
                                        


Ternyata kedatangan Alvan ke rumah Rayyan bukan hanya sekedar menjemput Danisha, seperti yang dia bilang tadi ke Rayyan. Bahkan tadinya dia nggak tau sama sekali kalau Danisha ada di sana, justru kedatangannya untuk bertemu dengan Reinard sekaligus memberitahunya kalau dia berniat meminang Danisha.

Seperti sekarang ini Alvan tengah duduk dengan sedikit gugup dihadapan Reinard di taman belakang rumah, Alvan sudah menceritakan semuanya apa yang menjadi niat dan tujuannya, tapi Laki-laki paruh baya di depannya itu justru masih diam tanpa memberi tanggapan apa-apa.

Alvan memberanikan diri menatap Reinard, tampak Reinard hanya menghela nafasnya seperti memendam banyak sekali beban dan sulit untuk menjelaskan kepada seseorang. Hal itu justru semakin membuat Alvan gugup dan sedikit takut kalau-kalau nantinya Reinard tidak setuju dengan Rencananya mengingat umur Danisha masih sangat muda.

"Saya nggak tau apakah saya memiliki hak untuk sekedar menyetujui ataupun memberikan restu kepada kalian, Bahkan andai saja saya memiliki hak sekalipun rasanya saya tidak pantas untuk itu!" Ucap Reinard seraya menatap lurus ke depannya.

"Saya terlalu banyak melakukan dosa di masa lalu, saya menelantarkan Danisha, saya membiarkannya tumbuh tanpa sosok seorang Ayah bahkan saya tidak pernah sekalipun mencarinya, sangat tidak pantas bagi saya untuk  memberikan restu kepada kalian, kehadiran saya tidak sepenting itu Alvan!" Ucap Reinard lagi, mata lelaki itu tampak berkaca-kaca, sangat jelas terpancar begitu banyak penyesalan dalam sorot mata itu.

"Tapi bagaimana pun juga Om adalah Ayah kandung Danisha, Danisha sudah mengalah dan berdamai dengan semua itu, Danisha akan sangat kecewa kalau sampai Om berfikir kalau kehadiran om tidak penting baginya!" Kata Alvan membantah ucapan Reinard.

"Kalau memang kehadiran om tidak sepenting itu bagi Danisha, Danisha tidak akan meminta waktu kepada saya agar memperbaiki hubungan kalian om,  justru  kehadiran om lah yang sangat dia harapkan!" Kata Alvan lagi tanpa melepaskan tatapannya dari Reinard.

"Kalau memang seperti itu, saya sudah pasti merestui kalian, Saya percaya kalau kamu bisa membahagiakannya Alvan!" Sahut Reinard kemudian membalas menatap Alvan.

"Sudah pasti Om, saya nggak mungkin seberani itu untuk membuatnya sedih, Rayyan pasti langsung melemparku ke segitiga Bermuda sana!" Kata Alvan sambil terkekeh mengingat ucapan ancaman Rayyan tadi.

"Ya sudah, apapun yang menjadi rencana kalian, mudah-mudan lancar!"

"Amin.. terimakasih Om!" Sahut Alvan tersenyum senang.

"Besok  malam rencananya saya beserta keluarga datang ke rumah Danisha untuk melamar Om!" Kata Alvan memberitahu Reinard.

"Kalau gitu Saya, Rayyan dan istri saya juga harus di sana dong!" Sahut Reinard.

"Iya Om!"

"Kita pasti datang kok!" Ucap Reinard membuat Alvan tersenyum senang.

"Kalau gitu, Alvan permisi dulu Om, udah malam soalnya!" Pamit Alvan yang langsung diiyakan oleh Reinard lewat anggukan kepalanya.

Kedua laki-laki berbeda usia itu  masuk ke dalam rumah dan mendapati Renatta dan Danisha tengah menonton Televisi berdua. Sedangkan Rayyan entah pergi kemana dia.

"Udah selesai ngobrolnya Al?" Tanya Renatta begitu melihat Alvan muncul di ruang tamu.

"Sudah Tante, ini Alvan sama Danisha ijin pulang Tante soalnya udah malam!" Pamit Alvan dan Danisha pun ikut berdiri seraya mengambil tasnya.

"Kalian hati-hati ya!" Kata Renatta.

"Iya Tante!"

"Danish pulang dulu ya Tante, Pa!" Ucap Danisha, Membuat Reinard mematung karena mendengar panggilan Danisha barusan. Nggak lama kemudian dia tersenyum lalu memeluk putrinya itu.

"Sering-sering kemari ya Nak!"ucap Reinard dan Danisha hanya mengangguk lalu mengikuti Alvan keluar menuju mobil kekasihnya itu.



Di dalam mobil, Danisha sejak tadi menatap Alvan yang tengah fokus menyetir dan menatap lurus ke jalanan.  Di lihat dari samping kekasihnya itu tetap saja terlihat tampan, sorot matanya yang tajam tapi berubah lembut ketika menatapnya penuh cinta dan Sifatnya yang dingin tapi hangat kalau ketika bersamanya, Danisha merasa beruntung dicintai oleh Alvan.

Alvan yang sadar sejak tadi ditatap oleh kekasihnya itu segera menoleh dan mendapati Danisha masih menatapnya.

"Sayang, kok liatin akunya sampe segitunya, kenapa?" Tanya Alvan membuat Danisha buru-buru mengalihkan tatapannya.

"Aku ganteng ya?" Tanya Alvan tengil sehingga membuat Danisha kembali menatap kekasihnya itu.

"Iya kamu ganteng!" Jujur Danisha karena memang benar adanya.

"Tadi ngomong apa sih sama papa?" Tanya Danisha.

" Cuma ngobrol biasa!" Sahut Alvan.

"Tapi kok lama!" Tanya Danisha lagi.

"Masa sih?" Sahut Alvan sekedarnya saja karena ia tidak mungkin menceritakan percakapannya tadi bersama Reinard kepada Danisha.

"Giman, hatinya lega kan?" Tanya Alvan mengalihkan topik seraya menggenggam jemari Danisha dengan tangan kirinya.

"Lega banget, senang juga!" Jawab Danisha sambil tersenyum manis sehingga membuat Alvan ikut tersenyum senang.

"Besok jangan kemana-mana lagi ya, mungkin besok malam Mama sama papa ke rumah kamu!"

"Terus kamu nggak ikut?" Tanya Danisha langsung.

"Ya ikut dong, kan yang mau ngelamar kamu aku, masa iya aku nggak ikut!"

"Tadi aku juga udah bicarakan ini sama Om Reinard dan katanya mereka juga besok datang ke rumah kamu!" Ucap Alvan lagi

"Serius  Papa bilang gitu?" Tanya Danisha.

"Iya sayang!"...

Mobil Alvan berhenti di depan pagar rumah Danisha,

"Sepertinya mama udah pulang!" Kata Danisha ketika melihat lampu ruang tengah rumahnya sudah terang. Danisha bergegas turun tapi Alvan langsung menghentikannya sehingga membuatnya menghentikan pergerakannya dan menatap kekasihnya itu.

"Kissnya mana?" Katanya sambil tersenyum tengil.

"Nggak ah, malu!" Tolak Danisha.

"Kalau gitu biar aku aja yang kiss!" Ucap Alvan langsung mendekatkan wajahnya dan mencium bibir kekasihnya itu bahkan sempat-sempatnya melumatnya karena dia tidak akan puas kalau hanya sekedar sekilas aja.

Dirasa Danisha sudah kewalahan barulah Alvan menyudahi ciumannya dan langsung mendapat cubitan pedas dari tangan mungil kekasihnya itu.

"Sakit lho sayang!"

"Biarin! Kebiasaan kamu nya!"

"Makanya kalau disuruh pacarnya kiss itu mau, kalau aku yang kiss kamu ya harus gini!" Kata Alvan senyum-senyum  tanpa merasa bersalah.

"Nggak mampir dulu nih?" Tanya Danisha.

"Udah malam banget sayang!" Kata Alvan.

"Ya udah aku masuk dulu ya, kamu hati-hati!" Kata Danisha sambil bergegas untuk turun.

"Iya sayang!" Sahut Alvan.

Setelah Danisha masuk ke dalam rumahnya, barulah Alvan melajukan kembali mobilnya untuk pulang ke rumahnya.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang