Terhitung sudah tiga hari Danisha berada di ruangan ICU, tapi gadis itu masih betah menutup rapat kedua matanya padahal keadaannya sudah melewati masa-masa kritisnya. Bahkan hari ini Danisha sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya sudah stabil, geger otak ringan yang terjadi padanya juga tidak sampai menyebabkan kerusakan pada otaknya.
Setelah sadar nanti Danisha hanya perlu terapi untuk kesembuhan Dislokasi bahunya yang beberapa hari yang lalu sudah di operasi. Teman-temannya selalu datang bergantian menjenguknya, begitu juga dengan Renatta dan Reinard bahkan Briyanna mamanya Alvan juga menyempatkan diri untuk menjenguk kekasih putranya itu.
Hari ini ada Elisha, Verrel, Viya, Andra dan Alvan yang menemani Danisha di rumah sakit sedangkan yang lain masih ada urusan di kampus katanya.
Beberapa selang peralatan medis yang semula menempel di tubuh Danisha sudah mulai di lepas satu per satu, Dokter yang menangani Danisha bersama beberapa perawat mulai membawa Danisha ke ruang perawatan.
Alvan menggenggam jemari Danisha, gadis itu masih betah dalam tidurnya, sesekali Alvan mencium punggung jemarinya sambil merafalkan doa di dalam hatinya.
"Al, kita tinggal keluar nggak apa-apa ya!" Ucap Verrel dan Alvan hanya mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya dari Danisha.
"Sayang, bangun yuk, nggak capek kamu tidur terus?" Ucap Alvan pelan sambil menyentuh pipi Danisha.
"Udah tiga hari kamu tidur terus, bangun ya!, aku kangen banget sama kamu!"
"Kamu selalu ledekin aku tukang tidur, tapi kamunya juga tidur Mulu, jangan ikut-ikutan dong jadi tukang tidur!" Kata Alvan lagi tapi Danisha masih saja diam dalam tidurnya.
CEKLEK!!!...
Pintu ruangan Danisha dibuka, tampak Sandara masuk sambil membawa tas dan meletakkannya di sofa yang ada di ruangan itu.
"Yang lain kemana Al?" Tanya Sandara.
"Tadi keluar katanya Tante!" Jawab Alvan.
Kemudian Sandara mendekati ranjang Danisha, mencium dahi putrinya penuh kasih sayang, setitik air mata jatuh membasahi pipi pucat Danisha.
"Nak, kenapa belum mau bangun? Kamu masih marah sama mama ya? Maafin mama ya nak!" Lirih Sandara tak kuasa menahan tangisnya.
Tiba-tiba pintu ruangan itu kembali terbuka memperlihatkan seorang dokter dan perawat memasuki ruangan Danisha.
"Dokter Ravi!" ... Sapa Sandara sembari menghapus air matanya.
"Saya periksa keadaan Danisha dulu ya Dok!" Ucal dokter Ravi pada Sandara yang juga sesama dokter di rumah sakit itu.
"Silahkan dok!" Ucap Sandara.
"Semuanya sudah stabil, tidak ada yang perlu kita khawatirkan lagi!" Ucap Dokter Ravi setelah selesai memeriksa keadaan Danisha.
"Apa cidera di kepalanya nggak bahaya Dok?" Tanya Sandara.
"Untuk sekarang semua aman, kalau Danisha sudah bangun nanti kita lakukan pemeriksaan lagi dan tolong usahakan suasananya agar tetap tenang dan jangan sampai membuatnya berfikir yang berat-berat dulu!" Ucap Dokter Ravi mengingatkan.
"Danisha tidak akan amnesia kan Dok?" Tanya Alvan tiba-tiba karena dia sangat mengkhawatirkan itu.
"Beberapa pasien dengan luka cidera kepala memang cenderung mengalami lupa ingatan, tapi dengan kondisi Danisha sekarang, mudah-mudahan Danisha tidak sampai mengalaminya!".
Penjelasan dokter Ravi barusan membuat hati Alvan menjadi tidak tenang, hal itulah yang sangat ia takutkan. Setelah kepergian dokter Ravi tadi, Alvan kembali mendudukkan dirinya di samping Danisha.
"Permisi Dok, malam ini ada jadwal dokter operasi!" Ucap seorang perawat yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Danisha.
"Iya, sebentar lagi saya datang!"sahut Sandara.
Sejujurnya hatinya berat meninggalkan Danisha, tapi dia juga punya tanggung jawab di rumah sakit ini, mengingat teman seprofesinya lagi ada seminar di luar kota dan satu lagi tengah cuti melahirkan. Profesinya sebagai dokter spesialis jantung dan pembuluh darah begitu sibuk karena banyaknya pasien yang harus ia tangani.
"Al, Tante minta tolong jaga Danisha boleh?" Ucap Sandara.
"Iya Tante, tanpa Tante minta pun saya pasti di sini menjaga Danisha!" Jawab Alvan.
"Terimakasih ya!" Ucap Sandara.
"Sama-sama Tante!"
Kemudian Sandara memakai kembali jas putihnya lalu beranjak keluar dari ruangan Danisha.
Baru saja Sandara keluar masuklah Rayyan dengan membawa kantong kresek di tangannya.
"Al, makan dulu! Gue bawa makanan itu!" Kata Rayyan.
"Iya nanti gue makan!"
"Udah gimana keadaan Danisha?" Tanya Rayyan.
"Gue takut banget kalau sampai Danisha amnesia Ray!" Lirih Alvan.
"Siapa yang bilang begitu?" Tanya Rayyan terkejut.
"Nggak ada yang bilang, tapi gue takut!"
"Danisha nggak mungkin amnesia!" Ucap Rayyan tegas sambil mendekat ke ranjang Danisha.
"Danish bangun yuk, jangan tidur Mulu nanti badan Lo sakit!" Kata Rayyan sambil mengusap pelan rambut Danisha.
"Jauhin tangan Lo dari Danisha Ray!" Sarkas Alvan.
"Astaga... Sempat-sempatnya Lo masih cemburu!" Kesal Rayyan.
"Terserah gue!"
"Al, dia adik gue kalau Lo lupa!" Ucap Rayuan lagi.
"Dia pacar gue!" Alvan nggak mau kalah.
"Gue nggak restuin tau rasa Lo!"
"Gue nggak peduli!"
Kkaaa...lia..an jangan ribut!" Suara lemah Danisha menghentikan perdebatan mereka.
"Tunggu dulu Dani.....
"DANISH!!!... keduanya serempak melihat ke Danisha yang sudah membuka kedua matanya.
"sayang/Danish....! Keduanya langsung mendekat dan berebutan memeluk Danisha.
"Sebentar gue panggilin dokter dulu!" Rayyan langsung berlari keluar dari ruangan Danisha memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Danisha.
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN (Kelar Kuliah Nikah )
Teen FictionKKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu... Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita... #BTS #EXO #NOTBL #KKN #au
