KKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu...
Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita...
#BTS
#EXO
#NOTBL
#KKN
#au
Danisha merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya bersiap untuk tidur, Namun rasa ngantuk belum juga ia rasakan, sedangkan Rayyan setelah makan malam tadi katanya mau pergi sama Ayu entah mau kemana Danisha nggak mau tau juga, Kemudian matanya tertuju pada jam yang ngegantung di dinding kamarnya, malam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Bunyi notifikasi ponselnya menyita perhatiannya, sudah pasti itu dari Alvan karena setengah jam yang lalu Danisha duluan yang mengirimi pesan pada kekasihnya itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Danisha kembali meletakkan ponselnya di atas nakas, tapi baru saja dia merebahkan kembali tubuhnya, suara ketukan di pintu kamarnya terdengar lalu setelahnya dibuka dan ternyata Sandara,
"Lho mama, mama nggak jadi lembur?" Tanya Danisha sambil menggeser tubuhnya, membiarkan Sandara ikut berbaring di sampingnya.
"Nggak sayang, mama mau nemenin anak mama tidur karena sebentar lagi dia akan menikah!" Ucap Sandara seraya tersenyum lembut dan membenarkan selimut yang dipakai Danisha.
"Abang kemana?" Tanya Sandara lagi.
"Katanya tadi jalan sama Ayu!" Jawab Danisha, karena memang Rayyan tinggal di rumah Danisha kalau kedua orangtuanya kembali ke Singapura. Danisha sendiri yang meminta ke Rayyan katanya biar dia ada temen di rumah. Rayyan mana bisa menolak kalau itu Danisha yang minta, apapun akan ia lakukan demi Danisha.
"Rasanya baru kemarin mama ngelahirin kamu, nitipin kamu ke teman mama kalau mama ada jadwal, daftarin kamu ke sekolah, eh.. ternyata sekarang udah mau nikah!" Lirih suara Sandara begitu jelas ditangkap oleh Danisha bahwa ada kesedihan di sana.
"Ma...! Danisha menggenggam jemari Sandara.
"Mama bahagia sekali, anak mama dicintai oleh keluarga seperti keluarga Alvan, mereka menerima kamu dengan tulus tanpa mempermasalahkan masa lalu kamu, jujur hal ini selalu menjadi ketakutan mama! Mama selalu berdoa agar kamu selalu bahagia nak!" Kata Sandara tanpa bisa membendung air matanya lagi. Rasa sesak begitu memenuhi hatinya mengingat sebentar lagi putri kecilnya akan menikah, bukan karena ia tidak bahagia tapi menurutnya dia belum merasa pernah membahagiakan Danisha.
"Danish bahagia ma, mama nggak usah khawatir!" Kata Danisha menenangkan Sandara tapi wanita itu justru semakin menangis.
"Maafin mama belum pernah memberimu kebahagiaan Nak, Mama malah menarikmu ke dalam luka masa lalu mama, Mama......
"Ma, kata siapa mama belum memberikan Danisha kebahagiaan? Justru Danish sangat bahagia lahir dari rahim mama, membesarkan Danish seorang diri bukanlah hal yang mudah, hal yang selalu Danish syukuri dalam hidup ini adalah memiliki mama yang hebat, Cantik dan selalu berusaha agar Danish tidak kekurangan kasih sayang!" Mama yang paling hebat dan segalanya bagi Danisha!" Ucap Danisha seraya memeluk Sandara manja, biarlah malam ini dia menunjukkan sisi manjanya di hadapan Sandara setelah selama ini dia berusaha menjadi anak yang kuat dan Mandiri.
"Nanti kalau sudah menikah sering-sering ke sini ya, atau datang ke rumah sakit tempat mama!"
"Iya ma!"...
"Tadi Mertua kamu ngajak mama ketemuan, mertua kamu minta ke mama agar setelah menikah nanti kamu dan Alvan tinggal di rumah mereka bukan di rumah ini!" Kata Sandara memberitahu pertemuannya tadi dengan Briyanna.
"Kenapa nggak di sini saja ma, kan biar mama ada temennya!"
"Nak, memang sudah sewajarnya kamu ikut dengan keluarga suamimu, keluarga Alvan sangat menyayangi kamu, kamu juga harus menganggap mereka seperti keluarga kamu juga, anggap Mertuamu seperti orangtua kamu!" Nasehat Sandara pada Danisha.
"Nanti temen mama di rumah ini siapa? Rayyan juga pasti bakalan balik ke rumah mama Renatta atau nggak ke Apartemennya!" Ucap Danisha sendu dan kembali memeluk Sandara.
"Kan ada mbak Cici, lagian mama juga pasti sibuk di Rumah sakit kan?" Sahut Sandara sambil mengelus rambut Panjang Danisha dan sesekali mengecupnya penuh kasih sayang.
"Atau Mama menikah saja dengan Dokter Ravi!" Ucap Danisha sambil melepas pelukannya lalu menatap Sandara yang langsung melebarkan matanya dan reflek mencubit lengan putrinya itu. Bahkan Sandara tidak luput dari keisengan Danisha.
"Ngaco kamu!" Kata Sandara kesal tapi malah ditanggapi kekehan oleh Danisha. Kadang sikap absurd Danisha seperti ini yang membuat Sandara khawatir untuk melepas Danisha berada di tengah-tengah keluarga Alvan. Sandara nggak bisa bayangin kalau Isengnya Danisha seperti ini kumat di depan keluarga Oswald nanti.
"Mama single dan dokter Ravi juga single, kan cocok! Atau jangan-jangan mama masih nungguin Papa pisah dari mama Renatta?"
"DANISHA!!!!.... ini anak bener-bener ya makin ngaco ngomongnya!" Kesal Sandara memukul bokong Danisha.
"Ya kan siapa tau ma!"
"Ngomong gitu sekali lagi mama cabein mulut kamu!" Ancam Sandara yang sudah kepalang kesal dengan kelakuan putrinya itu, padahal tadinya suasana lagi sendu malah dibuat horor karena ucapan Danisha tadi. Bahkan dalam mimpi pun Sandara tidak pernah mengharapkan Reinard kembali lagi padanya. Sandara sudah ikhlas dan memaafkan semuanya.
"Diih...mama mainnya ngancam! Nggak seru! Sewot Danisha. Karena sejak ia kecil Kalau dia nakal pasti Sandara selalu nyiapin Cabe untuk menakut-nakutinya.
"Diam kamu! Ngomong kok sembarangan! Awas kalau nanti di depan mertua kamu, isengnya gini lagi!"
"Heheheh...!" Mama Cantik!"
"Sudah diam, kita tidur udah malam!" Kata Sandara, dan kembali membenarkan selimut mereka.
"Danish sayang mama!" Ucap Danisha sebelum memejamkan matanya.
"Mama lebih sayang kamu!" Balas Sandara kemudian mencium kening Danisha, lalu setelahnya memejamkan matanya, tidur sambil memeluk putri kecilnya itu.