Bab 160

526 47 2
                                        

Sekitar pukul setengah enam sore barulah Danisha sampai di rumah utama keluarga Oswald,  setelah  memasukkan mobilnya ke garasi Danisha langsung masuk ke dalam rumah tapi tidak langsung menuju kamarnya, melainkan ia duduk bersandar di sofa yang ada di ruang tamu sambil memejamkan kedua matanya. Hari ini memang sangat melelahkan baginya, Tubuh mungilnya sangat terlihat letih belum lagi masalah skripsinya dan Dosen pembimbingnya yang selalu mengulur-ulur waktu, sungguh rasanya Danisha bukan hanya lelah secara fisik saja tapi juga otaknya yang juga sangat butuh istirahat.

"Lho...sayang kapan sampainya?" Briyanna langsung mendekati Danisha begitu melihat menantu kesayangannya itu.

"Baru aja ma!" Jawab Danisha seraya membenarkan duduknya.

"Capek banget ya?" Tanya Briyanna lagi karena melihat dari sorot mata sayu Danisha yang ketara sekali tengah kelelahan.

"Sedikit Ma!" Kata Danisha sambil tersenyum.

"Ya... Sudah sana ke kamar gih, mandi terus Istirahat ya!" Alvan juga sudah pulang sejam yang lalu!" Kata Briyanna memberitahu tapi justru menciptakan kerutan halus di kening Danisha. Nggak biasanya Alvan pulang secepat ini.


"Tumben pulangnya cepat Ma?" Tanya Danisha heran karena memang Alvan keseringan pulang malam karena kesibukannya.

"Besok pagi-pagi Alvan sama Papa berangkat ke Canada, ada proyek di sana sedikit bermasalah!" Nggak apa-apa kan sayang kalau ditinggal Alvan untuk beberapa hari?" Tanya Briyanna seraya menelisik ekspresi menantunya itu, karena dia sedikit Khawatir.

"Iya ma Danish nggak apa-apa, kan ada mama temen Danisha di rumah!" Ucap Danisha tersenyum agar Briyanna tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.

"Ya udah ma Danish ke kamar dulu ya!" Pamit Danisha yang langsung diiyakan Briyanna.

Sejujurnya berat rasanya hati Danisha berjauhan dengan Alvan walaupun hanya untuk beberapa hari saja, tapi memang mau bagaimana lagi sudah seharusnya Alvan melakukan itu karena sekarang Oswald Kingdom sudah jatuh ke tangannya walaupun Aliksa juga masih mendampinginya.


Begitu Danisha membuka pintu kamar mereka, matanya langsung tertuju pada sebuah koper yang berada di sudut kamar,  tapi ia tidak melihat sosok suaminya hanya suara hairdryer yang terdengar dari kamar mandi  menandakan kalau Alvan baru saja selesai mandi.

Danisha mendudukkan tubuhnya  pinggiran ranjang, memikirkan seperti apa rasanya berjauhan dengan Alvan mulai besok yang sudah pasti dia akan merindukan suami tampannya itu. Kecupan basah mendarat di pipi kirinya membuatnya tersadar dan menoleh pada sosok Alvan suaminya sudah berdiri di sampingnya dengan Kaos putih yang sangat kontras di kulit putihnya.

"Mikirin apa sih?" Tanya Alvan dan langsung mendudukkan tubuhnya di depan Danisha, bukannya menjawab Danisha malah memeluk Tubuh Alvan menghirup Aroma tubuh suaminya yang sudah membuatnya candu.

"Sayang tumben manja kayak gini, kenapa hmmm??? Tanya Alvan lagi karena memang Sangat langka baginya Danisha manja-manja seperti ini padanya.

"Kata mama besok mas pergi sama Papa!" Lirih Danisha pelan ketara sekali kalau dia berat hati ditinggal suaminya itu walaupun hanya sebentar.

"Iya Sayang, ada masalah proyek di  Canada! Cuma tiga hari kok!" Ucap Alvan sambil mengecup puncak kepala istrinya.

"Tiga hari itu lama!" Kata Danisha lagi dengan suara yang merengek sehingga membuat Alvan gemas.

"Kamu mau ikut sayang???" Tanya Alvan membuat Danisha langsung mengurai pelukannya dan menatap wajah suami tampannya itu.

"Iya mau, tapi skripsiku gimana?" Dosenku juga tarik ulur-tarik ulur Mulu, kesal banget akunya!" Danisha masih saja merengek bahkan hampir menangis dianya membuat Alvan sampai menggigit bagian dalam pipinya saking gemesnya, baru kali ini dia melihat Danisha merengek seperti ini karena nggak mau ditinggal olehnya.

"Terus maunya gimana?" Tanya Alvan lagi sambil mengelus pipi Danisha dengan jemarinya.

"Pengennya mas di sini tapi kalau mas nggak ikut kasihan papa juga sendirian ke sananya,  lagian Kenapa mesti proyek yang di Canada sih yang bermasalah!" Gerutu Danisha tapi masih dengan aksi merengeknya. Alvan mencuri satu ciuman di bibir istrinya itu saking gemesnya, sungguh kalau Danisha modelan kayak gini Alvan juga berat untuk ninggalin Danisha walaupun cuma tiga hari.

"Kok sebentar?" Nah...Danisha malah menyalahkan Alvan perkara bibirnya yang hanya di cium sebentar saja oleh Alvan.

"Apanya sayang?" Tanya Alvan sambil memeluk Danisha.

"Mas nyium nya kok sebentar!" Kata Danisha yang membuat Alvan lagi-lagi  terheran, ada apa dengan istrinya ini, kenapa menggemaskan sekali???...

"Jadi maunya lama?" Tanya Alvan iseng dan diiyakan oleh Danisha lewat anggukan kepalanya dengan pipi yang sudah merona.

"Tapi kalau lama nanti susah berhentinya lho sayang, kamu yang paling tau suami mu ini!" Kata Alvan mengingatkan Danisha karena kalau sudah berciuman dengan istrinya itu dia bakalan susah untuk menghentikan hasratnya, dan selalu berakhir dengan pergulatan panas mereka.

"Iya aku yang mau!" Ucap Danisha malu-malu dengan rona pipi yang semakin memerah, sehingga membuat Alvan tanpa menunggu lagi langsung meraup bibir bervolume milik istrinya itu yang semakin hari semakin membuatnya tergila-gila.

Alvan sungguh dibuat bingung, heran sekaligus bahagia dengan tingkah istrinya ini, baru kali ini Danishanya manja seperti ini, seseorang tolong kasih tau Alvan ada apa dengan istrinya satu harian ini kenapa berubah menggemaskan sekali!.

Seperti yang Alvan bilang tadi kalau dia bakalan susah untuk berhenti, dan sekarang dia sudah mengukung tubuh Danisha seraya mencumbu setiap lekuk tubuhnya bahkan sampai meninggalkan jejak kepemilikannya.

Pasangan muda itu sampai melewatkan makan malam mereka karena kegiatannya, Alvan yang memang tidak pernah cukup kalau hanya sekali kembali menggauli istrinya, beruntung Briyanna Melarang salah satu Maid yang tadinya hendak memanggil mereka untuk makan malam. Seolah Briyanna tau kalau anak dan menantunya itu butuh waktu untuk saling melampiaskan Cinta sebelum dipisahkan jarak besok pagi untuk tiga hari ke depannya.

Setelah kegiatan mereka tadi, seperti biasa Alvan selalu membersihkan Tubuh Danisha, memandikannya dan memakaikan piyama yang baru dan bersih, lalu setelahnya mencium kening istrinya itu penuh kasih sayang.

"Sayang nggak makan malam dulu baru tidur?" Tanya Alvan karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

"Aku mau tidur aja mas, capek!" Lirih Danisha dengan mata terpejam membuat Alvan terkekeh, Ia tau kalau Danisha sangat kelelahan karena kelakuannya tadi.


"Makan dulu ya sayang, mas suapi ya!" Ucap Alvan lagi membujuk Danisha, tapi istrinya itu hanya menggeleng saja.

"Aku mau tidur mas!"

Alvan pun tidak akan memaksanya. Mungkin memang Danisha sudah sangat mengantuk karena kelelahan.

"Ya sudah , mas turun dulu ya sayang, kamu tidur aja!" Kata Alvan. Kemudian
ia pun menyelimuti Tubuh Danisha, mencium Dahinya lalu Turun ke bawah untuk mengisi perutnya.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang