My Second Love Part 25

882 66 6
                                        

Radhika pergi ke dapur untuk membuat kan teh untuk shakti. Ia rasa shakti butuh ketenangan saat ini. Terlihat betul shakti yang tengah mengalami kelelahan karena sejak tadi saja ia memijit pelipis nya sendiri.

Radhika selesai membuat teh didapur saat ini. Ia mengambil wadah ceper kecil sebagai tampungan gelas dibagian bawah.

"Teh,,, " radhika menyodorkan segelas teh hangat itu. Shakti langsung saja mengambilnya.

Pria itu nampak beberapa kali mengenduskan hidung mancung nya hanya demi menghirup dalam aroma teh menenangkan.

"Kenapa tidak diminum? " tanya radhika Hati-hati karena takut shakti akan membentak nya lagi. Apalagi sekarang ini shakti terlihat sangat lelah

"Duduk lah,,, " pria itu tersenyum. Pikiran radhika shakti akan marah saat ini juga. Tapi salah! Pria itu malah tersenyum ramah.

Owh astaga?!!

Tersenyum ramah?!!

Apa ini?!!

Bukankah shakti sedang frustasi saat ini?!!

Tapi,,,, setelah menghirup dalam aroma teh tersebut wajah nya menjadi tenang kembali. Setidaknnya tidak segusar tadi.

"Du duk? " tanya radhika kembali. Ia takut salah pendengaran. Tapi ia rasa ia sudah memastikan betul jika telinganya itu tidak tuli.

"Yaa,, kau duduk,, " ucap shakti ketika mensruput teh itu. Radhika pun duduk disamping shakti.

Ia sangat gugup saat ini. Radhika berusaha untuk menahan rasa bergetar yang meminta nya untuk di kibas kibas kan. Rasa nya ingin meloncat namun radhika tetap bisa mengontrol itu.

Tenang setenang air sungai yang terhambat oleh sampah. Dan jika air itu tidak bisa mengontrol nya maka sampah tersebut akan membludak bahaya. This is warning!

"Dari mana kau belajar membuat teh seperti ini hmm? " tanya nya lembut sembari kembali mensruput teh hangat itu.

"ibuku,,, dia tidak mengajari ku namun aku sering melihat nya membuat teh seperti ini,, " ujar radhika. Air matanya kembali menetes. Shakti menoleh kearah radhika

"Apa kau tidak merindukannya? " tanya shakti serius. Ia tahu betul jika radhika sudah menangis. Gadis itu menunduk agar shakti tak bisa melihat nya menangis. Padahal shakti sudah melihat nya tadi.

"Kau ini bertanya apa?,,, tentu saja aku merindukannya,, " ucap radhika lembut dengan intonasi sedikit bergetar.

"tumpah kan semua tangisan mu jika itu akan membuat mu tenang,, " ucap shakti. Ia merangkul pundak gadis itu dengan tangan kekar nya.

Radhika menatap sendu dengan mata yang sudah tak dipungkiri ada air nya. Ia melihat shakti bersikap seperti itu membuat nya tidak ragu lagi untuk mempererat dekapannya.

"Hikss,, hiksss" radhika terisak. Ia menumpahkan seluruh emosi atas kerinduan untuk ibu & ayah lewat tangisan yang ditumpahkan di dada kokoh shakti.

Beberapa menit radhika menangis sementara shakti hanya bisa menyalurkan ketenangan yang dimiliki nya saat ini.

"Sudah, Berhenti lah menangis,, " ucap shakti lembut setelah dirasa nya jika itu cukup bagi waktu radhika untuk menangis.

Radhika berusaha berhenti bernangis. Dan kini ia sudah berhenti mengeluarkan air mata dari pelupuk mata nya namun sesenggukan masih terdengar sedikit saat ini.

Radhika melepaskan dekapan shakti ia duduk dengan kepala yang sedikit melorot karena ia bersandar di sofa.

Radhika menyandar kan kepalanya diatas sofa. Berusaha untuk menetralkan isakkannya.

Kresekk kreskk reskkk

Shakti membuka box pizza yang dibeli nya tadi. Radhika masih tak menengok kearah shakti. Kepalanya masih menenggak keatas.

"Makanlah,, kau belum makan bukan? " tanya shakti. Radhika menatap shakti.

"Tidak,, kau makan saja,, aku bisa makan nanti saja,," lembut radhika

"Tidak! Kau harus makan sekarang! Lihatlah! Pizza ini sangat besar,, apa kau tidak melihat box ini? Cepat makan,, apa kau ingin melihat ku kekenyangan? " ucap shakti. Radhika menggeleng

"Yasudah makanlah! " printah nya. Radhika kemudian mengambil potongan pizza dan memakannya bersama shakti.

radhika tidak mau melewatkan kesempatan ini. Karena tidak seperti biasanya Shakti bersikap selembut ini.

My Second LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang