My Second Love Part 110

795 75 5
                                        

"Aku mengerti,, maaf kan aku,," lirih radhika yang dibalas kecupan oleh suaminya dibagian rambutnya.

"Mulai sekarang kita saling terbuka okee,,?" Pinta shakti

"Terbuka dalam hal masalah atau pakaian?" Tanya radhika

"Aish! Kau ini,, sedang menangis pun bisa - bisanya saja bertanya seperti itu,," gemas shakti

"Jadi terbuka dalam hal apa?" Tanya radhika kembali

"Keduanya juga tidak masalah" ucap shakti tersenyum.

Skip pagi pukul 07.00.

Radhika mengeliatkan tubuhnya, memerjapkan matanya beberapa kali, mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya.

Dilihatnya sang suami yang tengah terlelap, sesekali ia tersenyum melihat wajah suaminya.

Kemudian ia membersihkan dirinya, lalu memakai kain saree berwarna orange dengan baju selengan berwarna cream.

Selama itu shakti suaminya belum membuka matanya. Itu suatu kecepatan bagi radhika, karena biasanya, suaminya itu sering sekali mengusik dirinya ketika sedang memakai handuk.

Apalagi shaktinya itu tidak pernah mau mengerti keadaan. Mau sedang masak, sedang cuci piring, sedang berhias, ataupun sedang mengganti baju. Jika nafsunya ada shakti pasti tidak bisa mengontrol juniornya.

Sebenarnya bukan tidak bisa, hanya saja shakti tidak mau untuk mengontrol nafsu nya itu.

Baginya nafsu ada dimana - mana jika disitu ada istrinya.

Haha!.

"Menu apa pagi ini ya?" Gumam radhika sembari menjepit rambutnya.

Akhirnya ia menemukan ide menu masakan pagi ini.

Setelah selesai, Radhika pergi untuk membangunkan suaminya. Karena hari ini bukan lah hari libur.

Saat ia memasuki kamar, matanya sama sekali tidak menemukan tubuh suaminya.

"Dimana shakti,,?" Gumam radhika.

Radhika pergi ke balkon yang menyatu dengan kamar nya, hanya saja jendela dan pintu jadi menghalangnya.

"Tidak ada shakti disini,, tapi aku merasakan ketenangan" batin radhika

Ia menghirup dalam - dalam aroma pagi hari. Sembari memegang pembatas balkon.

Tiba - tiba kedua tangan kekar memeluk pinggangnya dari belakang. Dengan balutan handuk seperut dan air yang masih berembun dikulit nya.

"Shakti!" Bentak radhika yang merasa terkejut.

Sementara yang dibentaknya malah asik - asikan mengusel - ngusel rambut basahnya ditengkuk istrinya.

"Kenapa rambut mu tidak digerai hmm?" Tanya shakti tepat ditelinga radhika.

Radhika memejamkan matanya sebentar, lalu kembali menyadarkan dirinya.

"Karena tadi aku sedang memasak,, memang nya kenapa?" Tanya radhika

"Tengkuk dan punggung mu yang terbuka itu mengundang nafsu ku,," ucap shakti dengan suara beratnya.

"Jika itu nafsu,, maka lakukan sekarang,," ujar radhika

"Tidak sekarang sayang,, lihat saja nanti" ucap shakti.

"Hmm,, baiklah,," ucap radhika

Shakti memutar tubuh istrinya. Hingga kini mereka berhadapan, dengan tangan shakti yang memegangi pembatas balkon dan tangan radhika yang memeluk perut shakti.

Tidak ada jarak lagi diantara mereka kini. Deru nafas terdengar di kedua hidung masing - masing.

"Kau menginginkannya?" Goda shakti dengan hidung mereka yang sudah sedikit menempel.

"Aku hanya menuruti kemauan mu,, jika kau ingin nanti ya tidak masalah,," ucap radhika dengan senyumannya.

Shakti tersenyum, keempat manik mata itu saling menatap dalam dengan senyuman yang terus mengembang.

"Aku mencintaimu,," ujar shakti mengecup bibir radhika yang dekat dengan dirinya.

"Aku mencintaimu,," ujar radhika mengecup kembali bibir shakti.

"Sudah shakti,, pakai bajumu,, kau bisa masuk angin nanti,," ucap radhika sedikit mendorong bahu kanan shakti

Sementara, suami gila nya itu masih tetap memandang istrinya dengan senyuman.

"Shaktiii,,," rengek radhika

Cuph!

Shakti kembali mengecup bibir radhika yang terlihat menggemaskan itu.

"Baiklah nyonya ratu,, aku akan memakai bajuku,," Ucap shakti dengan senyuman yang terus mengembang.

My Second LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang