Chapter 111

67 10 0
                                        

"Cih...aku tidak dapat menggunakan Teknik air karena Shakuton-nya terus menguapkan air-air yang kubuat," Chojuro mundur terseret ke belakang dan berdiri tegak di hadapan Yugito. Yugito sendiri memandang cemas pertarungan sengit tersebut. Walaupun dibilang sengit, 70 persen jalannya pertarungan dikuasai oleh Pakura. Yugito berusaha bangkit untuk menolong Chojuro namun kakinya tidak mengizinkan.

'Keh..ittai. Kuso! Ini akibat efek jutsu-ku sendiri.' Yugito terengah-engah menahan kesakitan dengan mata kanan tertutup. Pupil mata kirinya memandang Chojuro yang menghempaskan pedangnya ke tanah. Tampak aliran chakra dalam jumlah besar mengalir ke pedang berbentuk unik tersebut.

"Apa yang akan kau lakukan, Bocah Kiri?" tanya Pakura sambil menggerakkan segel tangan. Tiga bola Shakuton tersisanya bersatu dan menjadi sebuah bola raksasa "Shakuton: Cho Kajusatsu."

"Aku akan menebas bola mengganggumu itu..." kata Chojuro sambil tersenyum tak nyaman.


                                                                                               ...........


Mindscape Naruto, 1 Januari

"Sosok asli diriku?!"

Naruto merasa dirinya tidak salah dengar. Tetapi aneh kalau sosok mirip dirinya ini mengatakan hal tersebut. Sosok itu adalah Sumi-Kyo Zero, nomor nol, dan sosok asli sang Uzukage keempat.

Yang benar saja Yondaime Uzukage mempunyai paras licik dan mata menyeramkan seperti itu. Wajah sosok di hadapannya seperti iblis yang menyerupai Uzumaki Naruto.

"Apa maksudmu?" tanya Naruto pelan dan berhati-hati.

"Aku adalah dirimu. Apa kau pernah baca suatu aturan tentang Sumi-Kyo? Jika iya, pasti kau pernah mendengar tentang Sumi-Kyo Zero, Sumi-Kyo tersembunyi yang muncul dari identitas asli dan perasaan dari penggunanya. Kau pasti tahu kan, Yondaime Uzukage?"

Naruto mendecih pelan. Tangannya terkepal erat. Entah kenapa wajah tersenyum licik itu membuatnya ingin menghajar seseorang. Ya...menghajar sosok yang mirip dengannya tersebut.

8. Selain kesepuluh Sumi-Kyo...

...Ada satu Sumi-Kyo yang menyesuaikan jiwa penggunanya. Jikalau Sumi-Kyo diurutkan berdasarkan nomor mereka yakni 1-10, Sumi-Kyo ini selalu dipanggil Zero, atau Sumi-Kyo nomor 0.

'Entah kenapa aku teringat sesuatu,' Naruto memejamkan matanya 'Sumi-Kyo Zero...yang ditulis di buku itu. Menyesuaikan jiwa penggunanya...maksudnya, mahluk yang mirip denganku ini sudah sesuai dengan apa yang sebenarnya tersembunyi di dalam jiwaku?!' sang Uzukage membuka matanya dan sosok tersebut tertawa aneh. Suaranya memang mirip sekali dengan Naruto tetapi cara tawanya benar-benar bukan cara sang Uzukage tertawa. Itu adalah tawa murni seseorang berhati kelam.

"Kau pasti bingung kenapa sosok Sumi-Kyo Zero bisa menyesuaikan jiwamu dan akhirnya muncul-lah diriku ini?"

Naruto tidak menjawab. Dia berusaha setenang mungkin mendengarkan.

"Apa kau lupa masa lalumu Yondaime Uzukage? Apa kau lupa betapa kelamnya hatimu saat tubuhmu masih kecil dulu?!" sosok tersebut mengangkat tangan kanannya dan mengepalkannya sangat kuat "Aku terlahir karena kebencian di dalam hatimu..."

Naruto meneguk ludah perlahan. Dia benar-benar tidak suka cara berbicara sosok tersebut.

"Aku ada karena KAU!"

Tidak ada efek hembusan angin. Yang ada hanya keheningan di kegelapan mencekam.

"Apa maksudmu?" kini kalimat pertanyaan tersebut keluar dari nada sedikit menggeram Yondaime Uzukage.

"Sumi-Kyo adalah Fuinjutsu terbesar yang dimiliki Uzumaki dan diwariskan turun-temurun secara rahasia kepada Uzumaki tertentu saja," sosok di hadapan sang Uzukage menyeringai tipis "Para pewaris itu adalah sang pemimpin dan pelindung desa Uzushiogakure, yakni Uzukage itu sendiri...dengan kata lain kau adalah salah satu pewaris murni itu, Uzumaki Naruto."

"Bisa kau langsung ke inti?" tanya Naruto tajam. Sosok yang menamakan dirinya Sumi-Kyo Zero terkekeh pelan. Kekehannya benar-benar membuat Naruto tak nyaman.

"Setiap Sumi-Kyo Zero memiliki implementasi bentuk yang berbeda tergantung penggunanya. Sumi-Kyo nomor nol ini akan menyesuaikan hati penggunanya dan lahir saat perasaan sebenarnya dari sang pengguna menguasai penuh hati mereka..." Zero mendecakkan lidahnya, seperti anak nakal yang bosan dengan penjelasannya sendiri "Saat Kaa-san mu meninggal dan Tou-san mu tahu bahwa kau pewaris Uzukage selanjutnya, maka disitulah dimulai kegelapan hatimu terbentuk..."

Mata Naruto membulat. Pupilnya bergetar hebat di iris birunya yang berwarna biru. "Akhhh!" Naruto memegang kepalanya dan tubuhnya terhuyung beberapa langkah ke belakang. Bayangan-bayangan jelas masa lalunya membuat jantungnya lebih cepat memompa darah menuju ke seluruh tubuh, membuat suhu tubuhnya panas-dingin serta napasnya terengah-engah. Ketenangan Yondaime Uzukage menjadi sedikit goyah.

Naruto jatuh dengan kedua lutut dan kedua telapak tangan menahan beban tubuhnya. Kepalanya tertunduk ke bawah. Sang Uzukage teringat saat ibunya meninggal setelah melahirkan adiknya, Uzumaki Sara.

Flashback

"Setiap yang hidup pasti mati, Naruto..."

Hanya itu yang dikatakan ayahnya saat proses pemakaman ibunya di Tanah Makam Uzumaki. Ayahnya datang terlambat menuju Rumah Sakit Uzu karena ada pertemuan rapat dengan Daimyo Negara Api. Saat ayahnya datang, sang Ibu sudah dikubur dalam gundukan tanah Uzushiogakure...

Setelah mengatakan "Setiap yang hidup pasti mati, Naruto", sang Tou-san meninggalkan Tanah Makam Uzumaki dan kembali rapat bersama Daimyo di Ruang Rapat Desa. Naruto menggeram marah dan ingin menyusul ayahnya yang sangat mementingkan rapat 'keparat' itu dibandingkan proses pemakaman sang ibu, tetapi kakaknya Uzumaki Kushina menahan dirinya dan memberikan nasihat-nasihat yang panjang.

"Kenapa?! Nee-san memang panjang bercerita soal pengorbanan Uzukage demi desa ataupun Tou-san mengorbankan perasaan sedihnya demi kepentingan orang banyak, tetapi kenapa Tou-san harus melakukan rapat bodoh dengan Daimyo keparat itu saat di situasi seperti ini?! Apa yang orang-orang desa bisa lakukan untuk membalas perbuatan sok pemimpin Tou-san itu?! Itu hanya prinsip bodoh yang pernah kulihat Nee-"

"Naruto!" Kushina menggenggam tangan kanan adiknya dan membawanya menjauhi kuburan sang Kaa-san yang masih dipenuhi para warga Uzumaki. Tentu saja Uzumaki-Uzumaki lainnya mendengar perkataan gusar anak kedua Sandaime Uzukage tersebut, namun mereka maklum. Naruto masih muda dan emosinya masih labil. Di saat ibunya meninggal dunia, sang ayah malah mementingkan rapat dibandingkan seharian mengiringi proses pemakaman tersebut.

Wajar Uzumaki Naruto marah besar kepada sang ayah.

"Kenapa kau membawaku ke tempat ini Nee-san?!" Naruto melepaskan tangan kakaknya dengan kasar sehingga tangan Kushina memerah akibat terkena sedikit jari tangan Naruto. Mata Naruto sedikit membulat melihat kakaknya memekik pelan. Mereka berdua sekarang berada di daerah paling tepi makam, di bawah sebuah pohon, dan berada jauh dari kerumunan.

"..." Naruto terdiam memandang kakaknya mengelus pelan lengannya yang memerah. Kushina memandang adiknya dengan tatapan penuh kasih sayang.

"Naruto, suaramu terlalu keras. Kau tahu kan semua warga Uzu berkumpul di makam Kaa-san untuk mendoakan kebaikan beliau. Jika kau berbicara seperti tadi dengan suara keras dan berada di dekat kerumunan warga desa kita, bagaimana pendapat mereka kepada keluarga kita saat mendengar perkataanmu tadi?"

"Bi-Biarkan saja!" Naruto memalingkan wajahnya ke samping dengan ekspresi kesal "Biarkan saja mereka tahu bahwa Sandaime Uzukage adalah orang bodoh yang lebih mementingkan hak-hak mereka di saat haknya sebagai suami untuk mengantarkan istrinya ke peristirahatan terakhir tidak ia lakukan! Apa yang rakyat Uzu itu balas kepada Tou-san nantinya?! Mereka hanya pembuat susah yang selalu meminta belas kasihan kepada keluarga kita karena-"

PLAK!

Naruto : The Long Journey To Reveal The DarknessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang