Chapter 91

89 9 0
                                    

1 Januari (Pukul 1 lewat 43 dini hari), Perbatasan Iwa-Suna

"Kita sampai!"

Hachi bersama 4 Uzumaki sudah berada di lokasi yang direncanakan Yondaime Uzukage. Ia berdiri tegak di tanah lapang dengan tekstur batu yang ditutupi pasir tersebut. Salju di daerah ini sudah hampir menghilang. Hachi membuat Fuin penanda dan bergerak ke arah barat untuk membuat Fuin penanda tiap 30 meter per lokasi. Tim kecil mereka akan menjadi preparator sebelum Yahiko-Konan-Nagato dan pasukan Taki datang, yang nantinya akan disusul Pasukan Kiri dan Pasukan Negeri Iblis. Naruto-sama sudah mengatakan bahwa ada kemungkinan besar Suna akan menuju Iwa untuk merebut Shion-sama, dengan membuat line up di perbatasan Iwa-Suna

'Maka kami bisa menahan serangan dari Suna sewaktu pasukan Kumo dan Uzumaki yang dipimpin langsung Yondaime Uzukage-sama menyelamatkan Shion-sama dari Iwa!' Hachi membuat Fuin penanda lagi setelah 30 meter dari Fuin penanda pertama dan melesat menuju ke barat lagi.

"Hachi-san, ada terdeteksi chakra!" kata seorang Uzumaki dengan nada serius. Hachi berhenti dan membuat tanda kepada empat temannya untuk bersembunyi. Dia sendiri melempar sebuah kain yang berwarna senada dengan tanah yang dipijaknya. Hachi bersembunyi di balik kain dan membuat seolah-olah dirinya adalah sebuah gundukan di tanah tersebut.

12 menit bersembunyi, 75 ninja Suna terlihat berdiri tenang di daerah perbatasan Iwa-Suna tersebut. Mata Hachi melebar, tepat seperti yang diperkirakan Yondaime Uzukage! Para Shinobi Suna akan menuju Iwa untuk merebut Sang Ratu dari tangan Tsuchikage ketiga.

"Lihat, sebuah Fuin" gumam Kazekage ketiga. Sasori berjalan mendekati Fuin tersebut dan menginjaknya kasar.

"Fuin penanda, Uzumaki ya" Sasori menyeringai. Dia menggerakkan pelan lima jari tangan kanannya dan lima tangan boneka yang keluar dari punggungnya melesat ke lima arah. Empat arah tepat menancap di jantung 4 Uzumaki yang sedang bersembunyi, satu arah menusuk tepat di tengah punggung Hachi. Pupil Hachi bergetar, matanya membelalak shock.

'Ba-bagaimana mereka tahu lokasi persembunyian kamipa-padahal 12 menit setelah kami bersembunyi mereka baru datang'

Sraak! Sasori membuka penutup kain yang menyembunyikan Hachi dan tersenyum tipis memandang Uzumaki itu tertelungkup di tanah dengan mata melebar terkejut. Pupil Hachi masih bergetar dengan kelopak mata yang terbuka lebar. Dia terbatuk dan darah kental mengalir dari sudut mulutnya.

"Ternyata tidak tepat ke jantung ya" gumam Sasori santai, 5 tangan Kugutsu kembali masuk ke dalam punggung Sasori. Ujung tangan Kugutsu tersebut berdarah "Terima kasih atas jutsu Daisan no Me, mata dari pasir itu berguna untuk mengawasi para kutu kecil"

"Jangan mengejek jutsu-ku" gumam Rasa sambil melepas tekanan jari pada matanya. Di atas mereka, sebuah bola mata yang terbuat dari pasir perlahan-lahan melayang menuju ke Iwa. Jutsu ini adalah jutsu milik Rasa, di mana mata yang melayang tersebut langsung terkoneksi ke pandangan Rasa sehingga dia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat kedua matanya. Istilah simpel Daisan no Me adalah mata ketiganya. Sasori sudah menyuruh Rasa menggunakan jutsu tersebut dan mengawasi 300 meter di daerah depan mereka agar kelompok penculik Shion itu tidak ketahuan. Contoh kecilnya adalah ini

"Maaf saja, walaupun tusukan Kugutsu-ku tidak mengenai jantungmu, tetapi racunku akan segera membunuhmu. Jika 8 jam dari sekarang kau tidak mendapatkan penawar racun yang bagus" Sasori menendang pelan kepala Hachi "Maka kau akan bertemu keempat temanmu di surga, ah bukantetapi neraka hahaha"

"Candaanmu buruk, Sasori." Kata Pakura dengan wajah mengernyit memandang Ketua Anbu Suna yang sadis tersebut.

"Ayo pergi, 1 Januari Tsuchikage ketiga akan mengikat Shion-sama sebagai menantunya. Kabar dari Nenek Chiyo membuatku ingin menghancurkan kepala si tua bangka itu dengan pasir besiku." Kata Kazekage ketiga dingin. Sasori tersenyum seperti biasanya dengan mata sayunya. Saat dia melompat melewati Hachi, kepalanya membentur sesuatu yang keras sehingga sang Ketua kelompok tersebut jatuh terguling di tanah dengan kepala memerah.

Naruto : The Long Journey To Reveal The DarknessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang