Chapter 126

83 10 2
                                        

Di dalam hutan perbatasan Iwa-Suna

"Pendarahannya berhenti!" kata ninja medis Uzu senang ketika melihat tidak ada darah yang mengalir dari lengan kanan Sara yang terputus. Semuanya menghembuskan napas lega. Seorang ninja memasang wajah serius kembali dan menatap teman-temannya.

"Tolong ambilkan cairan Natrium Klorida 1 persen bersama Kalium 3 persen, minta sama Tim Medis lainnya satu kampel darah bergolongan A. Kita akan transfusikan darah tersebut kepada Sara-sama," Ninja medis itu memandang luka Sara "Dan juga kain kasa putih yang steril plus Alkohol!"

"Hai'!" teriak dua Ninja Medis Uzu lalu melesat cepat ke bagian hutan lain.

Sementara dua ninja medis yang menangani Hachi berteriak kecil karena senang. Mereka berhasil menghilangkan racun Sasori dari tubuh anggota Divisi Intel tersebut.

"Aku tak menyangka serum yang dibuat berhasil...ini juga berkat operasi pengeluaran racun itu," kata salah satu ninja medis dengan wajah lega.

"Yang terpenting detox di hatinya sudah terbuang dan hati tersebut kembali memfungsikan dirinya sebagai organ detoksifikasi." Ninja medis yang satunya mengelap keringat di keningnya perlahan. Dia terkejut memandang ke bawah ketika leher Hachi bergerak terpatah-patah ke arahnya.

"Ha-Hachi-san, anda-"

"Heh..." Hachi tersenyum tipis dengan wajah menahan sakit "Tampaknya kita kedatangan tamu lagi," semua ninja medis saling berpandangan dengan wajah bingung.

"Kita kedatangan para pemberi bantuan." Gumam Hachi pelan.

Shion hanya menundukkan kepalanya serta sedang berpikir keras bagaimana dia bisa keluar dari kurungan ini. Jika dia sudah keluar, maka untuk mendekati Naruto agar menyelamatkannya dari kegelapan akan sangat mudah. Shion mengangkat kepalanya dengan wajah penuh keyakinan, mata bonekanya terlihat lucu ketika perlahan-lahan menajam serius.

"Nee, Shinobi Suna..."

Ninja Suna yang menjaga kurungan Shion melirik tajam Sang Ratu. Dia memandang kebingungan mendengar suara manja yang keluar dari mulut Shion.

"Bolehkah aku keluar dari kurungan ini?" tanya Shion dengan Puppy Eyes no Jutsu-nya.

SILAU, SILAUUUU! Ninja Suna itu sampai menutup matanya karena keimutan dari Puppy Eyes no Jutsu Sang Ratu. Dia tidak menyangka wanita ningrat angkuh bisa menjadi seimut ini. Ninja Suna tersebut menggelengkan kepalanya dan memandang tajam Shion.

"Tidak boleh, memangnya kenapa kau ingin keluar?!" dia tidak akan tertipu oleh Puppy Eyes no Jutsu seorang wanita, cukup dia pernah tertipu sekali oleh tatapan menggoda seorang wanita. Kenapa jadi curhatan seorang jomblo ya?

"A-aku, aku ingin pipis..." kata Shion dengan tatapan sayu dan wajah memerah. Tangan kanan menutupi mulutnya sehingga seperti wanita yang sudah tidak tahan untuk anu...

"Ti-tidak boleh!" kata Ninja Suna itu dengan wajah memerah.

"Kau mau aku pipis di sini Shinobi Sunagakure?" tanya Shion dengan mata berkaca-kaca imut seperti kucing yang minta susu. Silauuu! Silauuu! Ninja Suna itu bahkan sampai keringetan.

"Maaf Ratu, kau harus menahannya-"

"Mou~, Shinobi Suna no Ecchi, mau melihat Ratu Negeri Iblis pipis ya," Shion menyingkap perlahan rok pernikahannya dengan wajah memerah dan mata sayu. Jangan lupa suara yang di-imut-imutkan. Pikiran ninja Suna tersebut sudah lari ke mana-mana, tidak mungkin kan ada adegan Hentai segera berlangsung di sini?! Apalagi genre-nya nanti jadi NTR atau apalah itu, dia tidak dapat membayangkan dirinya memiliki mata iblis lalu membuat Ratu paling disegani di Dunia Shinobi melakukan hal memalukan seperti ini.

"Sh-Shion-sama, anda tidak-" Brukh!

Mata Shion memandang shock ketika Ninja Suna tersebut pingsan tertelungkup di jeruji besinya. Yugito sudah berada di belakang tubuh Ninja Suna tersebut. Sang Jinchuuriki menggoyangkan jari telunjuk kanannya di depan jeruji dengan wajah menegur.

"Anda tidak boleh seperti itu, Shion-sama..." Yugito tersenyum "Tetapi jika hal itu dilakukan demi mendukung suami anda, sah-sah saja."

Shion tersenyum tipis, senyuman yang sangat anggun. Mata bonekanya menatap datar Yugito.

"Yang lainnya?" tanya sang Ratu singkat. Matanya langsung beralih ke arah Naruto yang sedang dicekik Kazekage ketiga.

"Tentu saja akan datang, Shion-sama!"

Mata Ebizou melebar. Saat dirinya kelelahan, para pasukan Suna yang berada di bawah lindungan Kugutsunya diserbu dua pengawal terbaik Yondaime Uzukage. Mereka dikalahkan dalam sekejap. Jarum-jarum es muncul di udara dan menusuk kaki serta tangan para Shinobi desa pasir tersebut. Sebuah gelembung muncul dan meledak di sana.

'Ku-Kuso...itu,' Ebizou menundukkan kepalanya. Dia mengangkat kembali kepalanya ketika mendengar namanya dipanggil.

"Ebizou, semuanya sudah berakhir...pasukan kalian sudah kalah."

Ebizou memandang Tsuchikage ketiga bersama ninja-ninja Iwanya, bahkan Deidara juga, serta A dan seluruh pasukan Uzu-Kumo yang berada di pusat desa, semuanya berkumpul di perbatasan Iwa-Suna. Tujuan mereka jelas...

"Ke-kenapa kau membantu Uzushiogakure, Tsuchikage-sama? Kau melanggar perjanjian 5 desa besar pasca kita menghancurkan Uzu?" tanya Ebizou yang berusaha bangkit dengan kaki bergetar.

Saat Tsuchikage ingin menjawab pertanyaan tersebut, Kitsuchi maju selangkah dan menjawabnya dengan lantang.

"Karena pemimpin Uzu adalah seorang pemimpin yang sebenarnya!" Kitsuchi menepuk pelan dadanya dan menutup matanya perlahan "Dia berhasil mengayomi kami semua dan menuntun kami menuju tujuannya sendiri,"

"DIA BERHASIL MEMBUAT KAMI SEMUA MENJADI PENGIKUT UZUKAGE!" Kitsuchi membuka matanya dan menunjuk Ebizou dengan tatapan tajam.

"Dia telah menunjukkan kami bahwa menjadi seorang pemimpin yang kuat tidak perlu kekuatan, tetapi jiwa yang matang dan bijaksana sudah cukup membuatmu menjadi seorang pemimpin yang arif. Itulah yang membuat kami semua berpihak kepada Uzushiogakure..."

Ebizou sedikit ternganga. Dia melirik ke arah Kazekage yang sedang mencekik Naruto. Ya...Ebizo tahu apa maksud dari perkataan Kitsuchi. Uzumaki Naruto telah berhasil merangkul orang-orang yang pernah membencinya, pernah bertarung dengannya, pernah adu jotos dengannya menjadi sahabat. Uzumaki Naruto telah menunjukkan ke mereka kapasitasnya sebagai seorang pemimpin.

'Berbeda dengan Kazekage yang meloyalkan Ninja Suna dengan otoriter, teror dan ikrar kerasnya...Yondaime Uzukage melakukan hal yang sebaliknya,' Ebizou menyipitkan matanya perlahan melihat wajah kesakitan Naruto karena tercekik oleh Kazekage 'Itulah kenapa dia membantu Pasukan Rebellion menggulingkan Yagura-sama, dia tahu bahwa pemimpin Rebellion Mei Terumi akan menjadi Mizukage selanjutnya. Itulah kenapa dia membantu Kumo dalam menghadapi masalah Hachibi, dia akan mendapatkan dukungan dari desa petir tersebut....dan sekarang,'

Tsuchikage yang satu pikiran dengan Ebizou memandang tajam Kazekage dan Naruto yang sedang berdiri di areal pertarungan mereka.

'Dan sekarang Uzushio akan mendapatkan dukungan dari Iwa karena telah membantu desa kami menahan invasi Suna. Dia memaafkan Kitsuchi karena tahu menjalin kekuatan bersama orang lain lebih penting daripada memutuskan jalinan kekuatan itu. Nak...kau mengingatkanku kepada gurumu yang satunya...' Tsuchikage tersenyum sedih 'Aku teringat Sandaime Hokage-sama. Ajarannya pasti melekat di kepala merahmu itu.'

"Cih..." Ebizou memandang semua ninja Sunagakure. Semuanya sudah tertangkap oleh para ninja Iwa maupun ninja-ninja Uzu. Rasa, Sasori, maupun Pakura belum muncul. Ebizou membuat hipotesis terburuk bahwa ketiganya telah dikalahkan. Satu-satunya jalan adalah mundur kembali ke Suna bersama Sandaime Kazekage sambil membawa Sang Ratu ke desa mereka. Dia mengalihkan pandangannya ke arah jeruji besi Shion dan mata menghitam itu melebar. Gerendel dan kunci gembok kurungan mini Ratu Negeri Iblis sudah dibuka oleh seorang Kunoichi Kumogakure.

"Kuso!" Ebizou melesat cepat menuju kurungan tersebut. Mata Utakata melebar, dia memandang cepat ke arah tujuan Ebizou.

'Apapun yang terjadi, misi utama kami yakni menculik Shion-sama harus berhasil...kalau kemungkinan paling buruk terjadi,' dahi Ebizou mengerut '...Aku akan membunuh Shion-sama di sini!'

Naruto : The Long Journey To Reveal The DarknessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang