Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

C. 87

88 11 0
                                        

29 Desember, Sunagakure (Kejadian dimundurkan 1 tanggal dari cerita lalu).

Akasuna no Sasori mengetuk pelan pintu rumah Kunoichi terkuat di Sunagakure. Begitulah yang ia dengar. Beberapa kali mengetuk, pintu dibuka lalu menyembul wajah cantik seorang wanita berusia 30 tahun dengan rambut hijau yang disanggul dan dua helai rambut melingkup pipinya berwarna jingga. Matanya sedikit membulat melihat sosok Sasori yang berdiri di depan rumahnya dengan mata sayu. Mau apa Ketua Anbu Suna itu datang ke rumahnya.

"Ada perlu apa, Sasori si Pasir Merah?!" Tanya Pakura agak sedikit galak.

Alis Sasori sedikit naik sebelah mendengar nada agak membentak dari Kunoichi bertipe Tsundere di depannya. Dia langsung menendang pintu rumah Pakura sehingga si empu rumah termundur ke belakang.

"Hei, apa maumu?!" Tanya Pakura menjadi kesal.

"Aku hanya membawa surat perintah resmi dari Kazekage kita," Sasori menunjukkan gulungan putih berlambang cap resmi Suna "Kau akan diikutsertakan kembali dalam sebuah misi, kau-"

"Aku sudah tidak menjadi Shinobi lagi" Pakura memotong kata-kata Sasori sambil melipat kedua tangannya di bawah dadanya yang besar. Dia hanya memakai tanktop hitam dengan celana panjang berwarna senada. Mata sayu Sasori otomatis melirik sekilas goyangan pelan di dua gunung tersebut akibat gerakan Pakura sebelum kembali lagi memandang wajah Kunoichi itu, tampaknya ini akan membuatnya menunggu

"Setelah apa yang dilakukan Suna saat menjadikanku umpan untuk bekerja sama dengan Kiri, aku sudah tidak mempercayai desa ini lagi."

Sasori memandang teliti wajah Pakura yang memalingkan wajah dari dirinya. Sang Master Kugutsu menghela napas bosan. Wanita memang membuatnya selalu menunggu karena mereka membuat suatu masalah menjadi besar. Ingat, dia benci menunggu.

"Kalau begitu jangan tinggal di desa ini lagikenapa kau masih mau tinggal di sini?"

Pakura menghadapkan wajahnya ke wajah imut pemuda bersurai merah tersebut. Mata mengantuk Sasori seperti mengejek dirinya. Beberapa lama mereka berdiam hingga akhirnya Sasori berdehem pelan karena suasana tadi dirasakannya seperti suasana sedang menunggu.

"Karena aku masih mempunyai murid yang perlu kulatih." Jawab Pakura singkat. Sasori kembali mengangkat alisnya, dia juga mengerti maksud Pakura.

"Maki ya"

"Hmh! Iyajika tidak ada Maki, tentu saja aku akan pergi dari desa ini.

"Kalau begitu aku bunuh Maki dulu ya-"

Grep. Pakura memegang lengan Sasori dengan wajah kesal. Sasori yang sedang melangkah santai keluar rumah menoleh ke arah Pakura dengan wajah tanpa dosa, plus mata mengantuk menyebalkannya.

"Apa?"

"Apanya yang apa?! Kau ingat kata-katamu tadi?"

"Aku akan membunuh Maki-" Syat! Pakura menarik Sasori ke arahnya dan melayangkan pukulan tangan kirinya yang bebas ke wajah pengguna Kugutsu tersebut. Sebelum tinjuan Pakura sampai di hidungnya, Sasori menundukkan kepalanya lalu menarik tubuh Pakura berputar dan memeluknya dari belakang. Wajah Pakura sedikit memerah dan dia memberontak marah.

"Lepaskan!"

"Hm?"

"Lepaskan aku mata sayu sadis! A-akan kubunuh kau!"

"Aku dapat melihat belahan dadamu dari belakang" gumam Sasori dengan nada anak-anak polos, tentu saja membuat kepala Pakura berasap "Aku bisa saja membuatmu pingsan dengan racunku, lalu pergi membunuh Maki agar kau pergi dari desa yang kau benci" mata Pakura terbuka lebar.

Naruto : The Long Journey To Reveal The DarknessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang