Chapter 123 • Ketiga

84 8 0
                                        

"Tiang yang ketiga," gumam Ibu Naruto. Perutnya sudah sangat besar sekarang. Shion memandang Sandaime Uzukage berdiri tegak di atas tiang ketiga dan menganggukkan kepala saat Miroku membisikannya dengan lembut.

"Ramalan itu disebutkan. Kebenaran belum diketahui. Tapi, genggam ini di tanganmu dan majulah bertempur tanpa ampun."

"Kau tidak memberitahu bahwa itu pesan darimu, anata?" tanya Kuri dengan nada penasaran. Uzukage ketiga menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Dia mengeluarkan scroll dan menggerakkan handseal begitu cepatnya.

"Aku yakin Naruto pasti tahu bahwa tiang ketiga yang ditemuinya di masa depan adalah pesanku, Kuri-chan." Sebuah gada berduri keluar dari scroll tersebut diikuti kepulan asap putih. Sandaime Uzukage memandang gada-nya dan menghujamkan bagian ujung gada ke tanah. Dia menggerakkan segel Uma dan peti bersama tiang ketiga masuk ke dalam tanah. Miroku sedikit bingung dengan tindakan yang dilakukan Uzukage ketiga.

"Anda tidak memasukkan senjata anda, Uzukage-sama?"

Sandaime Uzukage menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Miroku.

"Belum waktunya, karena aku yakin diriku masih hidup ketika melihat Naruto tumbuh besar menjadi seorang pemimpin. Aku akan mengajarinya ilmu kepemimpinan walaupun dia membenci hal tersebut. Aku akan menunjukkannya arti seorang pemimpin yang rela mengorbani haknya, bahkan karena hal tersebut dia membenciku...aku akan tetap melakukannya!" mata Sandaime Uzukage terlihat sangat tajam "Aku akan menjadikannya pemimpin terbaik Uzu, bahkan ketika Uzu hancur...aku yakin dia dapat membangkitkan Uzu kembali walau dengan pengorbanan keringat dan darah!"

Mata Shion berkaca-kaca, dia pernah dengar sedikit curhat dari Naruto bahwa menjadi Uzukage bukanlah cita-citanya. Naruto sendiri mengatakan bahwa dia tidak menyukai pekerjaan Uzukage ini di usia mudanya, Naruto hanya ingin merasakan masa muda seperti ninja-ninja muda yang melakukan jalan ninja mereka dengan penuh kesenangan, bukan memikirkan hal-hal berbau politik yang menyusahkan.

Halaman kantor Kage tersedot kembali oleh sesuatu dan Shion kini berdiri di Makam para Uzumaki. Ketiga orang tadi, Sandaime Uzukage-Ibunya-Ibu Naruto, berdiri di depan makam Shodaime Uzukage dan Nidaime Uzukage. Ayah Naruto menggerakkan segel tangan kembali dan memunculkan batu nisan ketiga di samping batu nisan Nidaime.

"Jika aku meninggal, maka aku akan dikuburkan di situ." Uzukage ketiga menghela napas pelan "Jadi di sini kita akan memberikan petunjuk kepada Naruto, Miroku-hime?"

Miroku menganggukkan kepalanya.

Tiga nisan itu secara berturut-turut bertuliskan,

"Demi Saiken yang bercahaya dan Haruki yang dikelilingi hutan, atas nama segel yang kuat, hidupkan tanda kekuatan kita."

"Bacalah yang pertama, lalu pikirkan tentang Fuutari. Kemudian bacalah yang ketiga."

"Putuskan ketiga lainnya, lihat dari atas, kau akan melihat itu di tengah, jangan di Kuil suci, ambil kekuatan Uzukage."

"Baiklah," Sandaime Uzukage menutup matanya perlahan "Aku harap kau akan menemukan senjata kami ketika Uzu benar-benar hancur, anakku..." Miroku dan Kuri memandang sendu ke ketiga nisan tersebut.

"Tetapi tetaplah menjadi pemimpin yang tenang dan bijak, jangan tersulut oleh emosi sesaat."

Makam itu pun tersedot sesuatu dan Shion berdiri di suatu ruangan yang sangat gelap. Di sana bisa ia lihat Ibunya sedang berdiri di hadapan Tiga tetua Negeri Iblis. Ketiganya memakai tudung kepala dan memiliki suara yang menyeramkan. Shion selalu bergidik ketika berhubungan dengan para tetua dan apakah tiga tetua horror di zaman ibunya sama dengan tetua horror di zamannya? Saat mendengar suara serak menakutkan dari tetua tengah, Shion pun yakin bahwa ketiganya kemungkinan besar tetua yang sama.

"Kenapa kau ingin bertemu kami, Miroku?" tanya tetua yang di tengah dengan nada mencekam. Kedua tangannya disatukan di atas meja dan Shion dapat melihat kulit pucat kusam seperti mayat itu tersembul dari lengan bajunya yang panjang.

"Aku ingin kalian memberikan ini kepada Shion," Miroku meletakkan sebuah gulungan ninja di depannya "Scroll ini berisi informasi tentang Jutsu Pembangkit Negeri Iblis. Aku ingin kalian mengjari Shion ketika ia sudah besar nanti?"

Shion tersentak kaget. Dia tahu nama Jutsu itu dan dia diajari langsung oleh tiga tetua Iblis tentang jutsu yang katanya terlarang tersebut.

"Kenapa bukan kau saja yang mengajarinya, Miroku?" tetua paling kanan bertanya dengan kecepatan bicara sedikit lambat. Dia menegakkan tubuhnya di kursi tersebut sehingga memperlihatkan sedikit mata nyalang yang menyeramkan "Dan bukankah Jutsu Pembangkit Negeri Iblis adalah Kinjutsu (Jutsu Terlarang)?"

"Ya, jika seseorang menggunakan jutsu ini untuk membangkitkan manusia, maka dia harus membayarnya dengan nyawanya sendiri kepada Shinigami. Istilah singkatnya pertukaran." Tetua paling kiri berbicara tegas sambil menopang dagunya di atas meja menggunakan telapak tangan kanannya. Sekilas terlihat mata putih tanpa pupil itu berkilat sadis "Kau mau anakmu mengorbankan nyawanya untuk siapa, Miroku?"

Shion memandang ibunya. Akhirnya dia tahu bahwa ibunya-lah yang memberikan amanat kepada tiga tetua Iblis untuk mengajarinya jutsu yang menyambangi batas antara kehidupan dan kematian tersebut.

"Tidak pada siapa-siapa. Akan tetapi, jika suatu hari nanti banyak manusia yang mengorbankan nyawa mereka demi menyelamatkan Shion, maka Shion bisa memilih..." Miroku mengangkat kepalanya tegak. dia yakin aka perkataannya "...Dia bisa memilih untuk membangkitkan nyawa-nyawa tersebut atau tidak. Jika dia memilih, aku yakin pilihan selanjutnya akan diberikan kepada seseorang yang mencintainya..."

Mata Shion membulat. Jantungnya berdegup sedikit kencang mendengar kata-kata penuh keyakinan dari ibunya.

"...Orang yang mencintainya bisa membiarkannya menggunakan jutsu itu atau menghentikannya!"

Terdiam dan hening dalam cekaman suasana yang menakutkan, tiga tetua Iblis saling berpandangan. Mereka sepertinya berat memutuskan untuk mengambil amanat Miroku. Namun tetua kedua segera menganggukkan kepala dan memberi tatapan kepada dua tetua lainnya. Tanpa sepatah kata, ketiga tetua secara mengejutkan saling menganggukka kepala. Mereka sepertinya setuju.

"Kami tidak akan menanyakan kenapa bukan kau yang mengajarinya Miroku, akan tetapi kami yakin kepada semua perkataanmu..." Tetua paling tengah menjetikkan jarinya dan sebuah asap kegelapan muncul dari lantai di sekitat gulungan dan menyelubungi scroll tersebut. saat asap kehitaman itu hilang, scroll tersebut ikutan hilang.

"Kau dan Ratu Negeri Iblis Shakuri adalah wanita-wanita berharga bagi Negeri kita." Kata tetua yang tengah dengan nada serak yang mejadi sedikit lembut. Suara khas wanita. Tiba-tiba muncul portal lagi dan ruangan itu tersedot ke dalam portal tersebut.

Shion kini berdiri di suatu tempat yang juga sangat gelap. Dia kebingungan kenapa langit begitu terlihat mencekam. Bulan bahkan tertutupi awan tebal di atasnya sehingga yang terlihat hanya siluet-siluet gundukan tanah yang aneh. Saat sebuah petir menyambar, gundukan tanah itu ternyata adalah gundukan pasukan Negeri Iblis yang tak bernyawa. Mata Shion melebar. Dia mundur ke belakang hingga kakinya menyentuh kepala seorang pasukan Negeri Iblis yang tergeletak di tanah. Shion terjatuh dengan dada berdebar. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Hahaha, aku hampir membunuh semua pasukanmu Miko bodoh," bulan kembali memancarkan sinar pantulannya dari matahari ke bumi. Shion dapat melihat sosok bersinar kegelapan 50 meter di depannya. Pupil Shion bergetar pelan.

'Itu Moryo sang Iblis!' batin Shion shock.

Naruto : The Long Journey To Reveal The DarknessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang