Iwagakure, 9 Januari
"Kami pulang..."
Oonoki menganggukkan kepala. Bocah yang dilatihnya dulu dan selalu marah jika dipanggi Calon Uzukage kini berdiri superior di depannya sambil membawa gelar itu di pundaknya. Uzumaki Naruto telah menunjukkan eksistensi luar biasanya sebagai Uzukage, di kekuatan maupun di pikiran. Oonoki tidak terlalu khawatir soal Ramalan Rikudou Sennin atau perjanjian brengsek 5 desa besar yang dikepalai Danzo. Oonoki hanya berpikir, bagaimana membalas kebaikan besar muridnya tersebut.
"Calon Kaa-san, Calon Kaa-san. Calon Kaa-san akan ke sini lagi kan?" Kurotsuchi berlari mendekati Shion dan memegang lengan Sang Ratu dengan wajah cemas. Itu membuatnya terlihat imut. Shion mengelus pelan pucuk kepala Kurotsuchi dengan wajah datar. Semua rombongan yang saat itu ingin berjalan meninggalkan Iwa berhenti dan memandang kejadian tersebut. Naruto tersenyum memandang Kurotsuchi dan istrinya bergantian.
"Ya, tentu saja." Perlahan-lahan wajah boneka non-ekspresif itu tersenyum. Sebuah senyuman yang bahkan Naruto jarang lihat "Kita pasti bertemu lagi sayang..."
Shion memeluk Kurotsuchi dengan erat. Akatsuchi menangis sesenggukan dengan pie apel di mulutnya. Sang ayah hanya meng-geplak kepala anaknya karena makan di situasi yang tidak tepat. Kitsuchi menegakkan kepalanya dan memandang Naruto dengan ucapan terima kasih. Naruto menganggukkan kepala tanda mengerti maksud tatapan Kitsuchi.
Pagi itu, semua rombongan meninggalkan Iwa yang secara resmi bersama Suna menjadi aliansi Uzushiogakure.
Naruto melirik sekilas ke belakang, ke arah Oonoki, Kitsuchi dan kedua anaknya yang melambaikan tangan tanda perpisahan. Di atas gerbang terbang seekor burung tanah liat dengan Deidara di atasnya. Yondaime Uzukage menutup matanya, lalu membuka kelopak matanya dengan iris menatap datar ke depan.
'Bibit keempat berhasil ditanam, tinggal memanennya di Konoha...'
Saat memikirkan Konoha, iris biru itu terlihat menakutkan.
Rombongan itu berhenti di kedai makan yang terdapat di Desa Padi. Saat itu waktu sudah mencapai tengah hari. Karena beberapa anggota rombongan memiliki cidera yang belum sembuh, perjalanan tidak dipaksakan untuk sampai cepat ke Kumo. Yang terpenting adalah keselamatan dan kesehatan anggota rombongan yang masih terluka. Contohnya adalah lengan A yang patah maupun tangan kanan Sara yang buntung dan dibalut kain putih. Saat perjalanan, Naruto beberapa kali menggendong adiknya di punggung walaupun sang adik terus menolaknya sehingga sedikit terjadi kisruh antara dua saudara tersebut. keberanian Sara melawan Sandaime Kazekage dibayar mahal dengan tangan kanannya. Dia benar-benar adik Yondaime Uzukage.
Naruto yang sedang melahap potongan puding terakhirnya memandang Konan di pojokkan kursi. Wajah ketua Divisi Intel Uzu itu terlihat sedih. Sang Uzukage berdiri lalu berjalan mendekati sahabatnya tersebut. Nagato yang sedang berbicara dengan A memandang Naruto dengan pandangan ingin tahu. Dia mengerti, Naruto pasti ingin menghibur Ketua Divisi Intel Uzu tersebut.
"Gomen," Naruto langsung minta maaf saat duduk di sisi kanan Konan "Aku tidak bisa menyelamatkan Yahiko. Bahkan operasi penyelamatan istriku membuat Yahiko-"
"Jangan mengatakan hal tersebut, Yondaime Uzukage-sama..."
Naruto terdiam. Dia memandang lurus ke depan. Konan yang sedang memutar-mutar pipet di gelas minumannya kembali melanjutkan ucapannya,
"Yahiko mati sebagai Shinobi Uzu sejati, begitulah yang ia dan aku yakini..." Konan terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya pelan "Tidak. Lebih tepatnya begitulah yang semua Uzumaki yakini..." Konan menekan ujung atas pipetnya perlahan "...Tidak perlu minta maaf."
Naruto tidak menjawab selama beberapa detik, kemudian sang Uzukage menoleh ke arah sahabatnya dan dia tahu pemandangan yang akan dilihat retina matanya. Konan memainkan pipetnya dengan pelupuk mata yang digenangi air bening tersebut. Naruto tahu perasaan saat ditinggal orang yang dicintai, apalagi seorang wanita. Sang Uzukage tahu beberapa bilah kata yang musti ia ucapkan untuk menyemangati sahabat bersurai birunya tersebut.
"Keluarkanlah, Konan. Tidak apa-apa kau menangis di hadapan sahabat bodohmu yang bergelar Uzukage ini, tetapi harus kau yakini satu hal..." Naruto memandang lurus ke depan, dengan tatapan biru yang sedikit bersinar "Yahiko selalu di hati kita sebagai sahabat dan Komandan terbaik Uzushiogakure..."
Konan menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih dengan nada sesenggukkan "A-arigatou, Yondaime Uzukage-"
"Jangan panggil aku dengan kata itu," Naruto menyodorkan sebuah puding baru yang diberikan Shion dari seberang meja "Panggil Naruto saja, Konan. Walaupun untuk satu hari ini..."
Konan menerima puding itu dengan air mata yang telah mengalir di pipinya. Dia tersenyum lemah kepada Naruto yang membalas senyumannya dengan sunggingan semangat. Dia tahu sosok mata biru di depannya pasti merasakan sakit yang sama dengan sakit yang ia rasakan sekarang. Yahiko adalah sahabat Naruto dari kecil, bahkan Naruto-lah yang pertama kali mengajak Yahiko kecil untuk bermain bersama mereka. Konan tahu, di balik senyuman semangat Naruto, ada perih hati yang sangat dalam bagi Uzukage untuk mengeluarkannya. Naruto tidak mengeluarkannya karena dia adalah seorang pemimpin, yang di mana dituntut untuk tidak menunjukkan kelemahannya dan harus menguatkan teman-temannya ketika mereka sedang dalam keadaan lemah.
"Ya." Kata Konan lalu menyendok pudingnya perlahan.
Perjalanan dilanjutkan. Mereka sudah hampir mencapai perbatasan antara Negara Tanah dan Negara Petir saat matahari sudah hampir terbenam. A yang melihat sebuah penginapan dengan pemandian air panas tiba-tiba mendapatkan ide, sekaligus membuat suasana di rombongan menjadi menyenangkan.
Jujur saja, dia tidak suka aura kesedihan yang dirasakannya di rombongan ini. Bagi A, prinsip suatu Shinobi adalah merelakan apa yang memang sudah ditakdirkan. Begitulah para Ninja, kematian akan terus membayangi mereka saat bertarung atau berperang. A akan membuat semua orang di rombongan tersebut menjadi sedikit 'cerah', bahkan untuk ayahnya yang selalu tidak sabaran untuk kembali ke Kumo tanpa memikirkan anggota rombongan lain yang tidak sesangar dia.
"Bagaimana kalau kita malam ini menginap di penginapan?" A menunjuk penginapan yang berada 20 meter di sisi kanan rombongan dengan tangan kirinya "Aku rasa pemandian air panas cukup bagus untuk memperkuat stamina kita..."
Semua yang di sana memandang arah tunjukkan A dan terlihat berpikir. Tiba-tiba Nagato berjalan di samping A dan menepuk bahu kekar tersebut.
"Aku setuju," kata Nagato dengan wajah yang mencurigakan bagi Naruto "Kita harus menyelam di air bersuhu panas demi kelancaran otot-otot kita, bagaimana kawan-kawan?"
Semuanya setuju, walaupun Raikage ketiga ingin protes karena itu hanya memperlama perjalanan mereka. Raikage pun ditinggal sendiri bersama Naruto saat semua rombongan berjalan ke penginapan tersebut dengan wajah semangat.
"Dasar para anak muda...mereka tidak mengerti arti waktu dan kondisi."
Naruto tersenyum lalu melirik ke arah gurunya tersebut "Ayo Raikage-sama, sekali-kali kau harus menuruti saran anak muda."
Raikage menghela napasnya dan masuk ke penginapan bersama Naruto di sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naruto : The Long Journey To Reveal The Darkness
FanfictionNaiknya Uzumaki Naruto sebagai Yondaime Uzukage membuat Uzushiogakure membuka hubungan dan kerja samanya dengan desa desa lainnya, termasuk sebuah Negara Iblis yang dipimpin seorang Ratu bersifat dingin dan memiliki kemampuan menyegel setan serta me...
