Chapter 139 | Shionku (2)

164 13 1
                                        

"Aku akan baca surat ini dengan suara keras..." Raikage memandnag agak lama ke arah muridnya. Naruto menganggukkan kepala. Iris biru sang Uzukage terlihat tenang, walaupun Raikage ketiga sebagai orang yang telah melatih Naruto tahu bahwa muridnya sedikit tidak sabaran menanggapi isi surat tersebut.

"Yang terhormat Sandaime Raikage-sama..." Raikage mengangkat alis kanannya, dia melanjutkan bacaannya dengan suara yang keras serta berat.

"Saya sebagai Yondaime Hokage cukup kecewa dengan keputusan anda yang sepertinya memihak kepada Uzushiogakure. Boleh saya memberitahukan analisis Konoha pasca tergulingnya sekutu kita yakni Yagura-sama dari pemerintahan di Kiri? Yondaime Uzukage telah bangkit dari kematiannya dan berhasil menempuh apa yang ingin ia tempuh. Mengalahkan Yagura, menghasut anda sebagai pemimpin ketiga Kumo, lalu saya dengar bahwa Uzukage muda itu akan membuat kekacauan di Iwa. Jika nanti saya mendapatkan berita bahwa Iwagakure dan Sunagakure memihak kepada Kumo yang berpihak kepada Uzushiogakure dan Uzukage mereka...itu tidak penting lagi," Raikage sedikit mendengus pelan. Dia tidak suka kalimat-kalimat di surat tersebut.

"Konoha membatalkan perjanjian 5 desa besar dan siap menyatakan perang dengan 4 desa besar bersama Uzushiogakure. Tetapi kami akan tetap menunggu konfirmasi dari anda dan berita terbaru tentang Iwa serta Suna, tetapi jika anda membaca surat ini satu meja bersama murid tersayang anda..." Raikage berhenti sejenak. Shion melirik sekilas ke arah suaminya. Naruto duduk tenang dengan dagu yang ditopang tangan kanannya di pinggiran kursi. Sang Uzukage secara setia mendengarkan suara Raikage membaca surat tersebut.

"...Katakan kepadanya bahwa Yondaime Hokage tidak akan membunuh Yondaime Uzukage atau membunuh istrinya. Yondaime Hokage bersama Konoha akan membunuh dua pasangan itu, dalam waktu yang bersamaan! KEPARAT, APA-APAAN HOKAGE INI, DIA TERLIHAT-"

"Tenang Raikage-sama," mata Naruto menajam "...Sensei."

Raikage meletakkan gulungan surat itu di meja dengan gerakan kesal. A sedikit menelan ludahnya karena tidak percaya Shimura Danzo mengirimi mereka surat seperti itu. A mendekatkan wajahnya untuk membaca tulisan kanji di sudut kiri gulungan. Seperti ada catatan tambahan dari Danzo kepada ayahnya.

Aku akan menyelesaikan tugas yang tidak kau selesaikan bersama Sandaime Kazekage dan 7 Ninja Kiri itu, Raikage-sama.

A menggeram pelan. Danzo benar-benar berani. Ini bukan lagi keberanian, Shimura Danzo telah menghina ayahnya sebagai seorang pemimpin desa dan mengajak Kumo untuk berperang melawan Konoha!

"Apa Danzo mengirimi surat yang sama ke Iwa, Suna, dan juga Kiri?" tanya Naruto cepat kepada Mabui. Mabui sedikit tersentak dengan pertanyaan Naruto. Semua mata memandang ke arah pemimpin Uzu tersebut. Shion memegang erat kain gaunnya. Entah kenapa situasinya menjadi semakin rumit.

"Apa maksudmu-"

"Ya, Uzukage-sama." Mabui berkata tegas memotong pertanyaan A "Saya mendapat kabar dari Ao-san sebagai pihak Kirigakure bahwa mereka mendapatkan surat 'tantangan' dari Danzo kepada Kiri...itu pula yang terjadi pada Suna dan Iwa. Ketika anda semua belum sampai di Kumo, kami mendapat kabar bahwa Hokage Konoha dengan beraninya menantang dua desa besar tersebut melalui surat ini. Isi surat hampir sama dengan sedikit konteks yang berbeda. Intinya, Yondaime Hokage menantang Kumo, Kiri, Iwa dan Suna untuk menyerang Konoha bersama Uzu sebagai sekutu baru 4 desa tersebut..."

Haku memandang cepat sang Uzukage. Bibit sedang diserang hama kah?

Tidak ada kata fix kali ini. Naruto mengetukkan jari telunjuknya di meja secara teratur. Selalu menjadi ciri khas seorang Uzukage keempat jika dia sedang berpikir keras.

"Kenapa kau bisa menanyakan hal tersebut, Naruto?" tanya Raikage dengan nada penasaran. Naruto berhenti mengetukkan jari telunjuknya di meja dan memandang kebingungan sang guru.

"Hm? Menanyakan apa Raikage-sama?"

"Menanyakan kepada Mabui apakah Danzo mengirim surat penghinaan ini ke 3 desa besar lainnya. Kenapa kau menanyakan hal tersebut, bahkan jawaban Mabui sepertinya kena dengan pertanyaan yang kau lontarkan..."

Naruto kembali mengetuk jari telunjuknya di meja bertekstur licin tersebut. Shion memandang wajah suaminya yang terlihat berpikir, entah kenapa iris biru itu terlihat menerawang dengan pancaran gelisah.

"Jika Danzo mengirim 4 surat penghinaan itu kepada 4 desa secara berani, maka bisa kita simpulkan bahwa Danzo dengan berani mengajak 4 desa besar menyerang Konoha tanpa basa-basi. Simpulan lanjutannya bisa dikatakan bahwa Danzo sangat yakin dengan pertahanan Konoha yang mampu menahan gempuran 4 desa besar tersebut."

"Maksudmu Danzo ingin 4 desa besar menyerang Konoha?"

Naruto menganggukkan kepala mendengar pertanyaan cerdas Raikage "Ya, bersama Uzu tentunya."

"Kalau begitu mari kita hubungi 3 desa lainnya dan serang si tua berperban itu!" kata A dengan nada gusar. Dia menggeplak Bee yang mulai nge-rap bertemakan A marah ciee.

"Tunggu A!" Raikage bersandar di kursinya, menimbulkan suara decitan pelan, lalu memandang langit-langit ruang pertemuan tersebut dengan pandangan bertanya "Berani sekali orang seperti Danzo mempersilahkan 4 desa besar menyerang desanya secara langsung. Rasanya itu...ah!" Raikage ketiga segera duduk tegak dan memandang semangat muridnya. Naruto menganggukkan kepala.

"Coba kita hubungkan dengan kejadian-kejadian terakhir yang kita alami. Kumo, Kiri, Iwa, Suna dan Uzu sedang berada dalam kerugian besar setelah bentrok dahsyat di Iwa dalam misi penyelamatan Shion-sama. Danzo yang mengetahui hal ini memanfaatkan momen tersebut dan mengajak 4 desa besar bersama Uzu untuk menyerangnya saat tenaga ninja di 5 desa tersebut sedang berada dalam kondisi kritis, ditambah kita asumsikan bahwa ada 'sesuatu' di Konoha yang membuat Danzo yakin bahwa pertahanan desanya sangat kuat."

Naruto menganggukkan kepala. Gurunya terlihat sedikit bersemangat karena bisa mengerti arah pemikiran Danzo dalam memancing perang besar lainnya.

"Danzo ingin menghabisi 4 desa besar yang terpicu hinaan itu di Konoha dengan 'sesuatu' di desa tersebut. Ingat, bahwa amunisi, tenaga, dan ninja-ninja 5 desa tadi sedang kritis akibat pertarungan besar yang kita lakukan di Iwa, makanya Danzo percaya diri bahwa Konoha mampu mengalahkan serangan kelima desa tersebut, apalagi ditambah dengan 'sesuatu' di Konoha yang tidak kita ketahui..." Raikage menatap tajam Naruto "Apa aku benar, muridku?"

"80 persen benar..." Naruto berhenti mengetukkan jari telunjuknya di meja dan mengelus pelan pucuk istrinya. Jelas saja, Shion merasa bersalah karena demi dirinya 5 desa saling bertarung dan membunuh. Sang Ratu hanya bisa menundukkan kepala dengan wajah sedih. Sang Ratu tidak mau menunjukkan wajah penuh ekspresinya itu kepada semua orang. Hanya Naruto-lah yang tahu bahwa boneka hidup seperti dirinya masih bisa berekspresi seperti manusia normal. Boneka hidup hanya julukan, dan Shion memang berusaha mempertahankan julukan tersebut karena terkenal sebagai Ratu Negeri Iblis Tanpa Perasaan.

Naruto : The Long Journey To Reveal The DarknessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang