Chapter 9

136 15 0
                                    

Ini benar-benar membingungkanku. Semua rumah dewan tidak bisa menyambungkan Fuin-ku. Fuin shunshin cahaya-ku sudah dihapus di sana!

Rumah Yahiko, rumah Konan, rumah Nagato. SEMUANYA NEGATIF!

APA YANG TERJADI DI DESA?! BREN*SEK! APA YANG SEDANG TERJADI?!

Aku dapat merasakan bulir-bulir keringat dingin mengaliri pipiku, terasa menetes dari daguku dan jatuh ke tanah. Baru kali ini kurasakan ketenangan yang selalu kubanggakan sirna bagai ukiran pasir di tepi pantai.

"Hahahahkau tak akan melupakan kami heh, Yondaime Uzukage-sama?"

Aku menoleh ke belakang. Aku tak percaya.

Semua rombonganku tergeletak. Tergeletak tak berdaya. Rakyatku. Para pendeta. Ninja elit pilihan Konan dan para Jounin pilihan. Semuanya tergeletak bersimbah darah. 6 ninja pedang Kiri berdiri tegak diantara tubuh-tubuh rombonganku yang tak bernyawa. Kisame Hoshigaki berdiri paling depan sambil memanggul Samehada-nya yang telah memperlihatkan sebagian duri-duri perobeknya yang dihiasi darah segar. Di ujung atas pedangnya, aku melihat tubuh kepala Pendeta yang terkulai lemas. Kejam. Mereka semua nampak tersenyum mengejek ke arahku. Mereka nampak senang sudah berhasil memporak-porandakan rombongan adat pernikahanku.

"Hei, bagaimana melepaskan ini!"

Aku melirik ke arah Zabuza yang masih berkutat di segel Fuin-ku. Sementara yang lainnya tertawa. Tertawa penuh kesombongan.

"Sebentar lagi, Zabuza. Karena Samehada-ku sudah tak sabar mencicipi kulit sang Uzukage."

"Beraninya kalian" aku memandang Kisame tajam. Amarahku naik saat dengan tidak etis-nya, benar-benar tak punya hati dan tata karma, pemegang Samehada itu menghempaskan kepala pendeta Uzu ke tanah. Tidak akan kumaafkan!

Sekejap. Aku melesat ke arah mereka.

Sekejap. Aku membuat mereka terhempas ke tanah dengan kecepatan dan shunsinku. Aku akan menamatkan gelar "7 ninja pedang Kiri" saat ini juga!

Serangan cepat dari ayunan pedang Hiramakarei milik Mangetsu Hozuki dan Shibuki milik Jinpachi Munashi berhasil kuhindari dengan sekali lompatan ke belakang. Ledakan besar terjadi akibat efek pedang peledak Shibuki. Aku dapat merasakan dari arah kiri pedang Kushimaru bergerak menuju ke leherku bersama benangnya. Sejenak kulirik ke arah kanan. Ringo yang baru saja bangkit dari serangan cepatku tadi segera mengangkat kedua pedang Kiba-nya dan mempersiapkan serangan petirnya yang melegenda itu. Aku dengan cepat berputar horizontal, menggenggam benang pedang Nuibari, dan menarik sekuat tenaga benang itu ke arahku. Kutambahkan chakra luar biasa para Uzumaki ke arah tanganku; membuat Kushimaru tertarik ke arahku dan dia pasti tahu, topengnya sebentar lagi akan hancur dengan pukulan kemarahanku.

"Tidak secepat itu, Uzukage!"

Ringo berteriak ke arahku dengan nada angkuh. Petir menyambar pedang Kiba-nya dan memantulkan kembali ke langit. Sekejap. Petir itu kembali melesat jatuh dari langit dan menuju ke arahku dengan kecepatan yang mengerikan.

"Raiton: Ikazuchi no Kiba!"

Masih lambat!

Aku segera menarik Kushimaru mendekati sambaran petir itu dan menghilang cepat dengan sunshin cahayaku. Fuin yang sudah kutanam di tempat aku berpijak sebelum menyerang 6 ninja pedang Kiri tadi benar-benar berguna. Aku dapat melihat Kushimaru tumbang seketika dengan tubuh yang berasap. Kutatap wajah kebingungan Ringo. Dia benar-benar tidak menduga jutsu kelas B-nya mampu aku kibuli.

"Benar-benar seorang Kage muda yang luar biasa" Jinin Akebino menyengir ke arahku. Matanya benar-benar menatapku dengan pandangan merendahkan. Dia salah langkah. Aku sudah menanam Fuin di daerah tanah belakangnya. Aku sekejap menghilang dengan sunshin cahaya-ku dan berada di belakangnya dengan tangan yang sudah siap menghantam punggungnya.

Naruto : The Long Journey To Reveal The DarknessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang