Yugito kembali fokus ke dunia nyata dan melompat ke kanan sebanyak dua kali, sementara Chojuro tetap melompat mundur ke belakang. Pakura memandang tajam keduanya.
'Ingin memecah fokus seranganku kah?' Pakura menggerakkan tangan kanannya ke arah Yugito 'Tak masalah!'
Tiga bola api raksasa berbelok ke arah Yugito dan menyerang Jinchuuriki Nibi tersebut. Sementara dua bola raksasa lainnya tetap mengejar Chojuro. Sang pemegang pedang Hiramekarei itu mengibaskan pedangnya dan memutarnya dengan cepat. Disela-sela putaran itu muncul cipratan air yang kelama-lamaan menjadi tembakan air deras yang kuat.
"Suiton: Heitan Taki!" kata Chojuro sambil terus melompat ke belakang dan memutar Hiramekareinya seperti baling-baling kipas angin. Air terus keluar dari putaran itu dan menerjang bola Shakuton Pakura. Memang bola berbahaya itu tidak hilang dan hanya menimbulkan uap air mendidih, tetapi gerakan bola Pakura menjadi lebih lambat.
Di bagian Yugito, Jinchuuriki Nibi itu berdiri tegak di atas tanah dan memandang ke depan. Bola Shakuton Pakura akan mencapai ke tempatnya 10 langkah lagi. Yugito mengepalkan kuat tangan kanannya sampai chakra gelembung berwarna biru muncul di kepalan tangan tersebut. Yugito menggelemetukkan giginya perlahan-lahan.
"Neko Claw!" kata Pakura sambil membuat gerakan mencakar ke arah tiga bola Shakuton tersebut. Tiga bola itu langsung meledak oleh sabetan chakra Nibi yang berwarna biru terang. Pakura menggerakkan segel tangan dan empat bola Shakuton-nya menyatu membentuk bola Shakuton yang besar. Pakura harus menghentikan Yugito sekarang karena Jinchuuriki Nibi itu sangat berbahaya, dia akan-
Mata Pakura melebar. Dia menoleh ke belakang saat sebuah cermin es muncul di belakangnya dan seorang ninja berhawa pembunuh sudah menusuk lima titik chakranya menggunakan senbon. Bola Shakuton Pakura menghilang, sementara dirinya jatuh pingsan ke tanah bersalju.
Bruk! Yugito dan Chojuro dengan napas terengah-engah memandang banyak orang yang muncul di sekeliling cermin es tersebut. Chojuro menghentikan putaran Hiramekarei-nya dan menatap berbinar Haku yang berdiri tegak di depan cermin es-nya. Di samping Haku berjongkok Utakata sambil memeriksa Pakura.
"Kau baik-baik saja nak?" tanya Tsuchikage ketiga. Di belakangnya berdiri Kitsuchi, Akatsuchi, Deidara dan puluhan ninja Iwa lainnya.
"Te-tentu saja Tsuchikage-sama, ka-kalian..." Chojuro tidak dapat melanjutkan omongannya ketika A, anak Raikage ketiga maju selangkah dengan wajah gusar. Tangan kanannya yang patah dibalut perban dan gips.
"Omongannya nanti, mari kita bantu teman, sahabat, dan pemimpin kita..." A memandang matahari yang perlahan-lahan turun dari ketinggian maksimalnya "...Yaitu Yondaime Uzukage-sama."
"Heh," Utakata berdiri pelan dan memandang sekilas pipa gelembungnya "Ayo pergi. Chojuro, tolong bawa wanita berdada besar ini ke perbatasan Iwa-Suna..."
Chojuro menganggukkan kepalanya. Utakata memandang Yugito yang menganggukkan kepala mengerti.
"Ayo bantu Uzukage kita!" kata Utakata sambil meniup pipa gelembungnya perlahan.
Perbatasan Iwa-Suna, 1 Januari
Estetika dan etika adalah dua kata yang tidak tepat untuk keadaan yang sedang dilakoni dua pemimpin terbaik di desanya. Moral, modal, atau amal...hal tersebut tidak mendasari keduanya. Puluhan ninja dari kedua belah pihak sudah bertumbangan, menyisakan pilu dan darah yang menghiasi salju dengan sopan. Estetika dan etika dalam kehancuran, penyesalan maupun kesedihan menjadi dasar kalimat di perbatasan Iwagakura-Sunagakure. Di tengah estetika dan etika berbau gelap tersebut, Sandaime Kazekage dan Yondaime Uzukage sedang berusaha membunuh satu sama lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naruto : The Long Journey To Reveal The Darkness
FanfictionNaiknya Uzumaki Naruto sebagai Yondaime Uzukage membuat Uzushiogakure membuka hubungan dan kerja samanya dengan desa desa lainnya, termasuk sebuah Negara Iblis yang dipimpin seorang Ratu bersifat dingin dan memiliki kemampuan menyegel setan serta me...
