Hujan.
Hanzo sudah seringkali mendengar kata itu dan seringkali melihat salah satu fenomena normal alam itu. Tapi apa bisa dikatakan normal jika suatu daerah terus diliputi air hujan? Hanzo hanya menganggap daerah yang dikuasainya terus bersedih akibat Perang Dunia Shinobi Ketiga. Amegakure hanyalah desa kecil tak bersalah, tetapi akibat daerah strategis untuk areal perang yang dikelilingi 3 desa besar, jadilah Ame menjadi bulan-bulanan perang terkutuk tersebut.
"Hanzo-sama, kami berhasil melacak keberadaan para pemberontak itu!"
Hanzo menatap datar ninja-nya yang memberikan laporan dengan nada gugup. Sang Salamander membenarkan penutup mulutnya dan memberikan instruksi kepada para ninjanya untuk segera bergerak.
"Tangkap para pengendali rantai itu!" kata Hanzo dingin, yang diiringi teriakan "Hai'" kompak dari ninja-ninja Amegakure. Mereka melesat keluar dari kediaman Danzo yang tertutup. Danzo memejamkan matanya dan telinganya terus menangkap suara tik tik tik yang deras di atap kediamannya.
Hujan.
Hanzo sangat bosan dengan langit gelap yang menuruni air alam tersebut.
.
.
.
16 Desember, Iwagakure
Shion POV
Malam tanggal 16 Desember kembali menghampiriku. Seperti biasa, aku berbaring miring ke kanan menghadap jendela kamar untuk menikmati rembulan Iwa yang lembut. Salju turun perlahan-lahan di sana, mengisyaratkan bahwa di luar sangat dingin. Tetapi aku yahingin keluar dari tempat hangat ini. Bukan alasan egosime atau istilah kemauan wanita yang berlebihan. Aku benar-benar sendu menunggu di desa berbasis kekuatan batu ini.
Walaupun Tsuchikage sudah menjamin keselamatan, kesejahteraan dan kebersihanku-yang bisa kukatakan lebih baik daripada di Kiri-, tetapi tetap saja hatiku masih menunggu penyelamatan dari dirinya. Aku tak tenang berada di sini. Kehangatan yang diberikan Tsuchikage tidak setara dengan tatapan-tatapan membunuh dari orang-orang di sekitarnya. Para petinggi Iwa nampaknya tidak setuju Oonoki-jiji, begitulah dia ingin dipanggil walaupun aku lebih suka memanggilnya Tsuchikage, memberikan fasilitas nyaman kepadaku bak tamu hotel. Aku adalah tawanan perang. Aku adalah salah satu item dari hidupnya Gerbang Saiken yang diramalkan pendiri Ninshu Rikudou Sennin. Aku adalah sosok wanita yang perlu dihilangkan dari dunia ini.
Aku merasa bahwa diriku tidak aman di desa ini.
Turunnya salju membuat kaca jendela kamar itu berkabut. Aku segera ingin memejamkan mataku dan berharap besok ada berita bahwa seorang pemuda bodoh bersurai merah dengan mata biru menyerang Iwa untuk mendapatkan istrinya kembali. Aku tersenyum membayangkan hal tersebut. Tiba-tiba ingatanku mengalir kepada ucapan Tsuchikage ketiga kemarin. Ucapan yang mengejutkan. Ucapan yang membuatku berpikir seribu kali untuk berdiam diri di desa ini.
"Menikahlah lagi"
"Dengan anakku, Kitsuchi. Dia duda dan kau janda,"
"Menikahlah dengan anakku Shion, maka kau akan selamat
"Ya, kau akan selamat!"
Ini adalah keputusan berat. Artian selamat dari Tsuchikage bisa mengandung banyak makna. Aku takutnya, jika aku tidak menikah dengan anaknya, maka Tsuchikage akan mengekskusiku langsung di sini. Jika identitas Naruto diketahui, maka rencana para Kage 5 desa besar untuk membunuh suamiku gagal. Pilihannya sekarang adalah membunuhku, karena sekarang aku-lah yang berada di genggaman mereka.
Baiklah Shiontidurlah. Aku terlentang dan menatap langit-langit kamar ini.
Uzumaki Narutoapa yang sedang kau lakukan? Apa yang sedang kau rencanakan, suami Ratu Negeri Iblis?

KAMU SEDANG MEMBACA
Naruto : The Long Journey To Reveal The Darkness
Fiksi PenggemarNaiknya Uzumaki Naruto sebagai Yondaime Uzukage membuat Uzushiogakure membuka hubungan dan kerja samanya dengan desa desa lainnya, termasuk sebuah Negara Iblis yang dipimpin seorang Ratu bersifat dingin dan memiliki kemampuan menyegel setan serta me...