Chapter 156

28 3 0
                                    

"JANGAN SERAHKAN DIRIMU NAK!" Raikage langsung berdiri dengan wajah gusar "Menyerahkan dirimu kepada Konoha?! Kepada Danzo?! Jika kau lakukan itu maka kau pasti akan dipenggal di sana!"


"Ayahku benar, Uzukage-sama...jika kau menerima mentah-mentah ancaman bodoh Danzo, maka kau gagal sebagai seorang pemimpin."


Naruto terdiam mendengarkan saran A dan gurunya, Sandaime Raikage. Dia tidak mengucapkan sepatah kata. Raikage terus merentetnya dengan banyak pertanyaan, begitu pula Tsunade, bahkan Jiraiya. Saat Raikage menggebrak meja dan bertanya,


"KENAPA KAU DARI TADI DIAM, YONDAIME UZUKAGE?! Mari kita beralih ke rencana awalmu soal membentuk tim kecil. Bagaimana Naruto? Bagaimana membentuknya?"


Naruto menutup matanya perlahan.


"Maaf Uzukage-sama, tetapi jika anda menyerahkan diri hanya karena ancaman sepele," Kakashi terdiam sebentar "Apa gunanya anda telah mempelajari Rasengan dan Chidori?"


Naruto memandang Kakashi dengan senyuman penuh keyakinan lalu berucap dengan nada pelan "Karena aku berpikir bahwa Ninjutsu juga tidak terlalu buruk kok..."


"Maksudmu apa Uzukage-sama! Kami telah berjuang sampai ke sini hanya untuk meminta bantuanmu. Kau tak terpengaruh ultimatum bodoh itu kan?!" Tsunade tahu bahwa menunjuk seorang Uzukage sangat tidak sopan, tetapi dia juga kesal dengan pemimpin muda Uzu tersebut. Guratan kekhawatiran jelas tercetak di wajah tampan Naruto. Tsunade hanya khawatir Naruto mengambil resiko terburuk.


"Maaf Tsunade-san, aku-"


"Naruto-sama, dengan segala hormat sebagai gurumu, jika kau menyerahkan diri maka semua yang kau lakukan demi mempertahankan cinta sucimu dengan Sang Ratu akan sia-sia," kali ini Jiraiya yang memberikan nasihat dengan sopan. Raikage menggelemetukkan giginya melihat Naruto masih sempat menampilkan senyuman penuh ketenangannya. Shion hanya memandang datar sang suami, entah kenapa di balik wajah tenang itu, Naruto terlihat menyembunyikan kecemasan yang sangat mendalam.


"JANGAN MMEBUAT LELUCON GARING NAK!" Raikage menghempaskan kedua telapak tangannya ke meja "Kau bukan pahlawan naif yang lebay atau karakter sok keren lainnya yang mengambil tindakan berkorban saat tahu itu jebakan. Apa yang kau khawatirkan?"


Naruto berdiri dari kursinya lalu memandang datar jendela kantor Raikage yang telah diperbaiki pasca dirinya menabrak kaca tersebut saat menggunakan kekuatan Hika untuk terbang. Naruto teringat masa-masa sulitnya ketika melakukan perjalanan ke Kiri, menuju Kumo, melawan Hanzo sang Salamander hingga bertarung hidup-mati melawan Sandaime Kazekage...


Mata Naruto menajam. Dia harus memutuskan ultimatum ini dengan bijaksana!


"Maaf Raikage-sama, juga pihak Konoha. Rencana pembentukan tim kecil kita dibatalkan dulu hari ini, dua hari lagi atau di tanggal 23 Januari, kita akan mengadakan rapat lagi sekaligus mendengarkan keputusan finalku. Aku mohon izin dan bantuannya, Raikage-sama..." Naruto menundukkan kepalanya sedikit menjadi lebih sopan. Semuanya memandang Naruto penuh kebingungan. Tsunade langsung berdiri dan memandang sang Uzukage dengan wajah tegang.


"Kau tak mempertimbangkan ultimatum bodoh itu kan, Naruto-sama?"


"Antara nyawaku sendiri dan nyawa orang banyak, itulah yang membuatku mempertimbangkannya," Naruto kembali memandang jendela kantor Raikage yang meperlihatkan view awan-awan gunung "Jika seorang prodigy sepertiku tidak memikirkan aspek secara makro, maka prodigy itu akan sia-sia Tsunade-san..."


Naruto menoleh ke arah gurunya yang masih tak percaya Naruto memikirkan ultimatum tersebut. Sang Uzukage menyengir tipis.


"Tolong ya, Raikage-sama."


Sang Uzukage mengelus beberapa detik pucuk kepala Shion dan berjalan meninggalkan ruang pertemuan dengan langkah tegap. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun kepada istrinya. Semua yang ada di ruangan tersebut memandang ke arah jendela dan memikirkan apakah Danzo benar-benar berani merealisasikan ancamannya.


Shion memandang punggung suaminya yang menghilang di balik pintu. Wajahnya begitu datar, seperti boneka hidup tanpa emosi. Naruto sendiri melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah tegap, juga tatapan yang begitu dingin.


Malamnya Naruto duduk bersandar di atas cabang sebuah pohon dengan jaket hitam terlampir di bahu kanannya. Safir birunya memandang bulan yang terlihat memasuki tahap first quarter . Bintang-bintang berkelap-kelip di sekitar bulan dan memperlihatkan adikuasa Maha Agung Tuhan.


"Jadi, bagaimana keputusan anda?"



Naruto : The Long Journey To Reveal The DarknessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang