Chapter 112

61 8 0
                                        


Mata Naruto membulat. Pipi kanannya telah ditampar oleh kakaknya. Naruto tidak menyangka Kushina melakukan hal tersebut kepadanya. Terlihat jelas tanda kemerahan bekas tamparan Kushina di pipi putih anak kedua Sandaime Uzukage tersebut.

"Keh..." Naruto mengatupkan kedua rahangnya dengan kuat lalu memandang kakaknya penuh emosi. Ketika dia ingin protes, retinanya menangkap sang kakak menangis dengan bulir-bulir jernih air mata yang jatuh ke pipi. Naruto terdiam dengan wajah terperangah kebingungan.

"Bukan hanya kau yang menahan perasaan marah itu, Naruto...hiks, hiks," air mata mengalir lancar di kedua pipi Kushina, menghiasi wajah cantiknya yang terlihat sedih "Nee-san juga merasakan kemarahan di hati Nee-san, ke-kenapa Tou-san lebih mementingkan pertemuan dengan Daimyo dibandingkan pemakaman Kaa-san...hiks, tetapi asal kau tahu, asal kau tahu Naruto...pertemuan dengan Daimyo sangat penting karena membahas pengakuan Uzu sebagai salah satu desa yang akan masuk jajaran desa-desa besar di Dunia Shinobi. Pengakuan dari Daimyo Negara Api akan membuat 4 Daimyo lainnya setuju bahwa Uzu tidak boleh diserang 5 desa besar sebagai 5 desa terkuat," Kushina menutup matanya dan dahinya berkerut ke bawah "Kau tidak melihat wajah Tou-san saat beliau meninggalkan Tanah Makam..."

Tenggorokan Naruto serasa kering. Dia memandang hampa ke arah kakaknya.

"Wajah beliau saat meninggalkan Makam persis seperti wajah Nee-san sekarang...menangis dengan linangan air mata yang begitu banyaknya hiks...hiks..."

Naruto jatuh terduduk. Kedua tangannya bergetar.

Naruto tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti...

Apa yang harus dilakukan seorang pemimpin desa? Sebegitu besarnya kah pengorbanan seorang pemimpin kepada rakyat-rakyatnya hingga berusaha menepis perasaan pribadinya? Sehingga menepis hak pribadinya?

Naruto menundukkan kepalanya. Tangan Kushina mengelus lembut kepala jabrik merah itu dengan tatapan kasih sayang. Kushina menarik sedikit ingus yang berada di lubang hidungnya dan berbicara dengan nada bergetar.

"Tou-san kita adalah pemimpin yang terbaik Naruto...untuk keluarga dan rakyat Uzu. Beliau bukan hanya kepala keluarga bagi kita, tetapi kepala keluarga bagi semua rakyat Uzushiogakure."

Safir Naruto membulat. Kedua telapak tangannya yang menempel di tanah perlahan-lahan meremas tanah tersebut dengan kuat. Urat-urat bahkan terlihat di tangan anak kedua Sandaime Uzukage tersebut.

'Ini bukan salah Tou-san...'

Mata Naruto menajam. Sebuah tatapan mengerikan yang penuh amarah.

'Ini adalah salah gelar 'Uzukage' itu sendiri...karena Tou-san menjadi seorang Uzukage, maka beliau harus mengorbankan haknya sendiri demi orang banyak...aku...'

Naruto menggigit bibir bawahnya.

Aku tak akan menjadi seorang Uzukage!


                                                                                                         ~~~~


Setelah pemakaman tersebut, beberapa warga Uzu terlihat menjauhi Naruto dengan wajah tak nyaman. Anak-anak yang biasa bermain bersama Naruto di Taman Uzu terlihat menjauh. Beberapa berbisik dengan tatapan melirik ke arah anak Sandaime Uzukage tersebut.

Naruto sendirian di ayunan Taman Uzu sambil menggoyangkan pelan ayunan tersebut dengan kedua kakinya. Saat itu matahari sedang terbenam. Cahaya senja sore membuat rambut kemerahan Naruto terlihat agak jingga.

Naruto : The Long Journey To Reveal The DarknessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang