Chapter 4 | Malam Pertama?

411 20 0
                                    

Kata kata brengsek Nagato tentang malam pertama.

Brengsek! Aku hampir menodai cinta suci kami!

Kuangkat tubuhku dan kutatap calon istriku yang-GLEK-hampir kunodai tadi. Mata lentik Shion sayu dan wajah bonekanya memerah menggoda. Datar memerah dan sangat lucu.

Napas kami berdua terengah engah dan terdengar berat. Aku menghembuskan sekuat tenaga dan semua nasihat Tou-san tentang kesopana seorang pemimpin kutanam kuat kuat dikepalaku. Kututup mata dan aku jamin, aku tidak berani menatap wajah Shion sekarang.

Dan kurasa tubuhku dipeluk erat.

"Dasar Uzukage mesum!"

Kubuka mataku dan sebuah derasan perasaan sangat senang menerpa dadaku. Jantungku berdebar kencang. Senyuman bahagia kini benar benar mengembang di bibirku.

"Apa pendapatmu tentang akhir hidupku Ratu?"

"Kau.." Shion semakin erat memelukku "..Kau akan mati muda! Kau akan mati ditanganku karena sifat hentaimu, Naruto!"

Aku tertawa pelan. Oh malam pertama..

Aku tak sabar.

.

.

.

.

.

Aku lebih memilih berjalan menuju rumah daripada melakukan sunshin. Suasana malam yang tenang di Uzu merupakan salah satu daya tarik yang begitu elegan, dengan sinar rembulan yang hangat dan lembut. Shion menolak untuk diantar dan lebih memilih pulang sendiri ke tempat penginapannya. Aku maklumi, mungkin dia agak takut dengan apa yang akan kami lakukan. Aku tak kuasa menahan senyum dan di saat yang tepat, Konan tiba tiba muncul dihadapanku dan langsung sembah sujud dengan gerakan yang sangat amat kaku.

Setelah berkali kali mengatakan kalau kejadian tadi tidak apa apa dan mendengarkan penjelasan Konan soal perintah dari Shion, aku pun mengucapkan terima kasih dan kembali berjalan menuju ke rumah. Bagiku, tidur kembali sangat tidak mungkin. Saat berada di depan rumah tiba tiba suatu keinginan yang besar bergejolak di hatiku. Aku segera sunshin dengan cepat ke tempat favoritku.

Tebing gunung Matari, gunung yang mengelilingi desaku dan membuatnya tersembunyi. Kini aku berdiri di atas tebing kecoklatannya dan melihat keseluruhan desa ini. Dengan gerbang Saiken yang menyala penuh kekuatan. Gerbang Haruki yang dikelilingi kegelapan hutan. Gerbang Fuutari yang tersembunyi di balik gua Uzu, dan tiga gerbang religius serta kuil Uzu yang megah. Desa dengan kemegahan yang sederhana dan kemakmuran yang indah. Sinar fajar menyingsing kemerah merahan menandakan hari ini, tanggal 17 Oktober akan dimulai, sebuah penyatuan cinta suci yang menghidupkan gerbang Saiken-penanda kekuatan Uzu-dan menghubungkan dua garis kekuasaan, seorang Uzukage dan seorang Ratu Iblis.

Namun ada beberapa hal yang tak akan kulupakan. Dan aku memang tidak mau tidur karena hal tersebut. Segera aku pergi ke kantorku dan membuat tanda alaram pertemuan darurat.

.

.

.

.

.

Sepuluh dewan pertemuan Uzu kini berkumpul mengelilingiku dengan tatapan mengantuk. Diantaranya Yahiko-jenderal kebangganku-, serta Nagato yang berdiri di sampingku dengan wajah serius-dia adalah penasihatku-. Semuanya kebingungan dengan alaram darurat yang kubunyikan dan segera aku menjelaskan apa yang dimimpikan Shion. Aku adalah tipe orang yang tidak mau terlalu banyak basa basi, walaupun karakterku memang cenderung tenang.

Naruto : The Long Journey To Reveal The DarknessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang