Shion POV
"Jadi, kau adalah Uzukage keempat yang terkenal itu?"
"Hm, ya. Ada apa Ratu. Kau tertarik oleh ketampananku?"
"Menjijikkan. Kita baru pertama bertemu, dan tidak mungkin aku jatuh cinta kepada seorang pemuda yang nanti akan menjadi perjaka tua."
"Nani'?! Kau meramalku? Kau tadi meramalku kan?!"
Aku tidak dapat menahan wajah datarku. Rasanya ingin tertawa keras-keras di depan Uzukage bodoh itu. Uzumaki Naruto, Uzukage keempat Uzushiogakure. Penuh wibawa, tenang, sopan, ahli dalam mengendalikan situasi bawahannya, sangat cocok menjadi pemimpin ideal di usianya yang relatif muda. Tetapi siapa sangka Uzukage yang disegani 5 desa besar dan disebut-sebut sebagai prodigy Uzumaki, sang pengantar era emas Uzushiogakure, memiliki sifat kekanak-kanakan, agak bodoh di depan wanita, dan aku yakin, pasti MESUM!
"Heh. Aku terkejut saja. Kau memang masih muda. Untuk di usiamu, kau sudah diberikan beban seberat ini sebagai pemimpin. Seharusnya untuk pria seusiamu adalah waktunya untuk bersenang-senang dengan teman-teman prianya dan mengintip para wanita mandi."
"Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Kami para Uzumaki, apalagi aku sebagai pemimpin di sana, sudah dibekali tata karma tinggi dan sopan yang menjaga sikap dan moral kami dari hal-hal yang buruk."
"Aku tak percaya."
"Kau juga kan?"
Aku sedikit terkejut mendengarnya mengatakan kalimat tersebut. Kutatap wajah itu. Aku benar-benar terkejut. Dia tersenyum kepadaku. Bukan senyuman bodoh atau angkuh, ataupun mengejek. Tetapi senyuman yang menyejukkan, yang aku yakini, bisa membuat wanita di manapun dan siapapun akan berteriak gila.
Sebuah senyuman penuh pengertian, hangat, dan menenangkan. Senyuman manis yang benar-benar membuat jantungku berdetak kencang.
"Kau juga Ratu, di usiamu yang semuda ini, kau telah memegang Negeri Iblis di genggaman tanganmu. Kau memimpin orang-orang kelam di negeri seram ini dengan segala arahanmu. Gerakan Negeri ini ada di keputusanmu. Apa yang kau pikirkan dan arahkan, maka akan juga menggerakkan Negeri ini. Bukankah kau memegang tanggung jawab yang besar di pundakmu. Heh" dia menatap ke arah depan. Aku mengikuti arah pandangan mata safirnya. Kami berdua sedang menatap rembulan malam yang perlahan-lahan terlihat dari balik awan.
"Untuk gadis seusiamu, seharusnya kau bergosip ria bersama teman-teman wanitamu ataupun berbelanja benda-benda tidak penting untuk kesenanganmu, bukankah begitu"
Aku menoleh ke arahnya. Jujur saja, mendengar pendapatnya tentang sifat wanita membuatku kesal. Aku ingin menyanggah omongannya soal para wanita, karena tidak semua wanita melakukan hal yang telah dikatakan oleh Uzukage muda itu.
Aku tidak bisa menahan napasku yang begitu berat. Aku juga dapat merasakan napasnya di dekat hidungku. Entah kenapa , sengaja atau tidak, Uzukage hentai dan bodoh ini mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan mata safir birunya yang penuh cahaya semangat dan diseimbangkan dengan ketenangan yang menghanyutkan menatapku tanpa perasaan bersalah.
"Bukankah begitu, Shion-sama?"
Sekelebat aku dapat melihat mata itu lagi. Tapi di tempat dan waktu yang berbeda.
Aku tahu satu hal dari pandangan sekilas itu.
Mata itu, senyuman penuh kesejukan itu, dan napas harum yang menerpa hidungku dengan lembut, akan kurasakan kembali saat dia memegang tanganku sebagai seorang Suami.
.
.
.
.
.
Gelap. Dan kurasakan tubuhku dilempar. Apa yang terjadi?
Apakah aku tadi tertidur? Kepalaku pusing. Tubuhku sakit. Aku dapat mendengar suara-suara aneh seperti ledakan dan teriakan ketakutan. Suara keras yang penuh keputusasaan.
"Sudah bangun, Ratu? Seharusnya kau tidak tidur saat rakyat suamimu akan punah un, haha"
"Diam Deidara. Cara berbicaramu yang selalu diakhiri un itu membuatku muak. Sama seperti menunggu pembantaian para rambut merah itu. Bahkan 5 desa besar tidak bisa menggunakan waktu secara efisien untuk menghabisi para Uzumaki bodoh itu."
"Kau juga rambut merah, Sasori-danna un."
"Sudah kubilang jangan berbicara dengan akhiran aneh itu. Apa orang Iwa mempunyai istilah itu di kamus mereka."
"Danna, kau mau kuledakkan bersama desa pasir menyedihkanmu itu un?!"
"Heheh, coba saja. Aku juga ingin memotongmu dengan cakar-cakar bonekaku"
Aku tidak mengerti pembicaraan mereka. Kepalaku benar-benar terasa pusing. Sangat amat pusing. Aku tidak mampu membuka mataku, dan rasanya kegelapan menelanku kembali.
Naruto
Di mana kau anata?
Naruto POV
Sudah hampir mendekati 45 menit, dan aku tidak bisa menemukan fuin shunshin cahayaku di desa yang berfungsi, atau bisa dikatakan masih ada. Jika aku berlama di sini, maka akan semakin memboroskan waktu dan membuat kerugian memontum yang besar. Aku pun memutuskan untuk pergi ke desa dengan cara biasa, yakni berlari. Berlari sekuat tenaga, walaupun rasa sakit di saraf-saraf akan membunuhku, aku tidak peduli.
Hayaide, masih bisa menolongku sebentar lagi?"
"Tentu saja aku bisa, Yondaime Uzukage. Tetapi apa keputusanmu?"
"Aku akan menggunakan kecepatan ini untuk berlari menuju desa. Sunshinku, hampir semuanya kemungkinan dihilangkan."
"Hm? Aneh, jadi"
"Ya Hayaide, ada pengkhianat di Uzu."
"Apa kau yakin dengan keadaanmu. Jika kau memaksakan stamina dan chakramu untuk merealisasikan kecepatanku di tubuhmu yang terpengaruh akibat racun itu, kau bisa memutuskan jaringan saraf di tubuhmu,"
Aku tidak ingin berbicara, kutunggu Hayaide menghabiskan omongannya.
"Dan jika itu terjadi, kau bisa mati Yondaime Uzukage."
"Lebih baik aku mati, daripada hidup diantara mayat rakyatku, Cepat. Dan juga"
Yah, harus kukatakan dengan pasti ke Cheetah ini "Aku tak sanggup jika Shion tidak berdiri di sampingku, Hayaide"
"Jadi, semangat itu berdiri di atas tanggung jawab seorang pemimpin kepada rakyatnya dan cinta buta seorang suami kepada istrinya heh?"
Kau benar, Sumi-Kyo ke-7. Kau benar.
"Tepat seperti yang kau katakan." Aku tersenyum. Hayaide hanya mengangguk di dalam pikiranku dan dia siap, begitu pula diriku. Harus siap dengan segala konsekuensi akibat pemaksaan ini.
"Baiklah Hayaide, mohon bantuan-"
Tunggu dulu! Inia-ada yang datang! Aku dapat merasakan dua chakra bergerak cepat ke areal ini. Kekuatan chakra yang tidak biasa. Kekuatan chakra yang sepertinya, meiliki jenis dan kesetaraan yang hampir sepertiku. Chakra yang menandakan dia adalah seorang pemimpin juga. Aku dapat mendengar dua pasang kaki menghentakkan tubuhnya ke tanah di samping kiriku.
"Kau bisa melihatnya, Raikage. Dalam keadaan diracuni, Kage muda ini masih bisa membuat 7 ninja brutal Kirigakure tak berdaya."
"Haah, itulah kenapa aku menganggap orang-orang Kirigakure sangat amat lemah. Tetapi, dengan begini, cerita pertarunganmu belum selesai kan, Yondaime Uzukage-sama. Kami ingin sedikit bermain-main denganmu. Bukan begitu, Sandaime Kazekage-danna?"
Sandaime Raikage?!
Dan sang pengendali pasir besi, monster dingin dari Suna
Dia menatapku dengan tatapan dinginnya yang menusuk, yang membuat hatiku bergetar.
Dari sekian banyak orang, aku paling berharap untuk tidak melawannya.
Satu-satunya Kage yang kusegani selain ayahku, Sandaime Kazekage-danna. Aku teringat kata-katanya sebelum dia meninggalkan acara pernikahanku, dan tampaknya pertarungan melawan dirinya menjadi nyata di hadapanku!

KAMU SEDANG MEMBACA
Naruto : The Long Journey To Reveal The Darkness
Fiksi PenggemarNaiknya Uzumaki Naruto sebagai Yondaime Uzukage membuat Uzushiogakure membuka hubungan dan kerja samanya dengan desa desa lainnya, termasuk sebuah Negara Iblis yang dipimpin seorang Ratu bersifat dingin dan memiliki kemampuan menyegel setan serta me...