Chapter 6

142 15 0
                                    

Uzushiogakure, 17 Oktober

Naruto POV

Setelah beberapa pemberkatan dari para pendeta Kuil Uzu, dan beberapa tetua desa, dan juga setelah Sara melempar bunga pernikahan yang jatuh ke tangan Yahiko, aku kini duduk di meja istimewa bersama 5 Kage lainnya. Acara selanjutnya adalah hiburan. Para penari dan penyanyi terbaik Uzu sudah tampil di atas panggung. Para rakyat Uzu benar-benar terlihat gembira. Aku dapat melihat Yahiko yang dari tadi duduk di tangga depan Istana Uzu sambil menatap bunganya dengan tatapan aneh. Entah apa yang dipikirkan Jenderal terbaikku tersebut. Aku harap Konan menyadari bahwa Yahiko mungkin sudah tidak sabar dengan yang namanya 'Malam Pertama'.

"Kenapa setelah pemberkatan kau langsung duduk bersama kami, Uzukage-sama. Bukankah lebih baik kau menemani istrimu kembali ke Hotelnya?"

Suara Danzo menyadarkanku. Kutatap orang tua berperban itu. Nada suaranya terdengar aneh. Aku mungkin akan menceritakan sedikit tentang adat para Uzumaki.

"Kami, setelah menikah, tidak diperbolehkan mendekati istri atau suami kami selama dua hari. Hal ini didasarkan cerita Kokuji, Dewa para Uzu yang tidak mau mendekati para istrinya selama dua hari demi menjaga pernikahannya dari birahi nafsu yang salah, dan tetap menjunjung kesucian istrinya dari nafsu setan dan menjadikannya sebagai nafsu suci."

"Nafsu suci? Aku baru sekali mendengarnya. Terdengar agak,"

"Itu adalah adat yang telah ditetapkan oleh para Pendeta dan Tetua Uzu sejak desa ini pertama kali didirikan."

Jujur saja, aku kesal mendengar si perban tua ini berbicara dengan nada yang santai, tanpa beban. Tapi aku lebih kesal mendengar nada suaranya yang seolah-olah menganggap adat kami ini aneh. Kudengar Raikage ketiga berdehem pelan. Aku menoleh ke arahnya dan dia nampaknya ingin berbicara.

"Aku setuju dengan Yondaime Uzukage-sama, walaupun prinsipku bahwa setelah menikah itu halal, tetapi dengan adanya adat tersebut, ini membuktikan bahwa para Uzumaki adalah orang-orang terhormat." Raikage menenggak minuman di atas meja. Aku dapat melihat anggur merah itu menetes dari dagunya.

"Lalu Uzukage-sama, bagaimana masalah pengiriman beras itu?"

Aku menaikkan alisku. Raikage langsung memberikan topik ekonomi, cukup biasa untuk situasi para pemimpin di mana salah satu pemimpinnya sedang berbahagia.

"Tidak masalah," Aku berusaha menjawabnya dengan pelan "Para Shinobi akan tetap terjamin makannya."

"Menurutku desa kami harus ditambahkan pasokan," suara dingin dan datar itu membuat bulu tanganku sedikit meremang, Sandaime Kazekage-danna akhirnya berbicara "Kalian tahu kan bagaimana tanah desa kami?"

"Cih, ini lah para orang muda. Coba kalian tanya pada Yondaime Mizukage-sama, lihat mereka, tanah berair yang subur-"

"Maaf Tsuchikage-sama, kami terlalu banyak air daripada daratan, anggapanmu berbeda tentang Kirigakure."

"Jangan salah Yondaime Mizukage-sama, aku pernah ke desamu bersama Shodaime-sama dan dia menunjukkan betapa makmurnya Kirigakure."

"Yang dulu, berbeda dengan yang sekarang."

Akhirnya aku mendengar perdebatan antara Tsuchikage dan Mizukage tentang Kirigakure. Sementara Danzo, dengan ekor mataku dapat terlihat jelas sedang memikirkan sesuatu. Kau tak bisa mengelabui pengamatanku Danzo. Psikologi mimik wajahmu cukup terlihat jelas di mataku.

"Apa kalian pernah mendengar tentang sebuah tanaman yang bisa memaksimalkan kerja tanah?"

Raikage membuka pembicaraan. Semua memandang ke arahnya, kecuali Danzo. Aku pun terus mengawasi Hokage keempat itu, cih, rasanya menyebut Hokage sebagai dirinya agak sedikit absurd, aneh. Danzo menoleh ke Raikage dan dia nampaknya ingin masuk ke pembicaraan.

Naruto : The Long Journey To Reveal The DarknessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang