"Gimana di Jepang? Kamu nyampe Kyoto jam berapa?"
Dongpyo merubah posisi berbaringnya menjadi posisi tengkurap, dengan guling bersarung FC Barcelona sebagai penyangga di bawah dadanya. Ia tersenyum lebar hingga nyaris ke telinga saat menerima sebuah panggilan video beberapa detik lalu.
Seorang gadis dengan gaya rambut ekor kuda tampak sedang membuka jendela, kemudian kembali menatap kamera ponselnya. "Di Jepang udah lebih ramai daripada sewaktu aku pindah ke Korea dulu. Aku nyampe di Kyotonya sekitar jam 8 malam, udah beberapa hari yang lalu. Truk pindahan datang besoknya, jadi aku bantuin mama nata rumah lagi. Papa sih langsung kerja."
Dongpyo mengangguk beberapa kali. "Kamu udah nyoba pergi ke supermarket di sana?" tanyanya.
"Buat apa? Mama udah belanja banyak buat ngisi kulkas, kenapa aku harus ke supermarket?" Nanami menaikkan sebelah alisnya dan menatap mantannya dengan dahi berkerut bingung.
Dongpyo mengangkat bahunya. "Aku baca di internet katanya varian KitKat di Jepang lebih banyak daripada di Korea. Siapa tau kamu langsung ke supermarket buat nyari KitKat rasa baru? Kamu kan suka banget makan KitKat."
Nanami tertawa pelan. Gadis itu tampak naik ke tempat tidurnya dan memeluk boneka peach di pangkuannya. "Aku sempat lupa soal itu. Tapi mungkin besok sih aku ke supermarket. Hari ini aku masih ada kerjaan."
"Kamu udah ada kerjaan?" Dongpyo terlihat kaget. Ia langsung mendudukkan tubuhnya yang semula terkurap.
Nanami mengangguk. "Kolega papaku kebetulan kenal sama kepala editing di kantor penerbitan. Katanya mereka butuh penerjemah dari bahasa Jerman ke bahasa Jepang. Kan kebetulan aku juga lulusan Sastra dan Kebudayaan Jerman."
Dongpyo mengangguk beberapa kali. "Jadi kamu kerja di rumah atau pakai ke kantor?" tanyanya lagi.
"Aku kerjanya di rumah. Tugasku cuma nerjemahin dari bahasa Jerman ke bahasa Jepang. Itu juga dikasih deadline, nanti keselarasan isinya aku juga kerja sama bagian editornya. Untuk sementara waktu sih di rumah, nggak tau nanti. Mungkin bakalan ngantor," Nanami menjelaskan.
Dongpyo mengangguk beberapa kali. "Bagus deh kalo kamu udah dapat kerjaan, jadi kamu nggak terlalu gabut hahaha..." candanya.
"Kamu nggak ke rumah sakit hari ini? Kok kelihatannya masih di rumah?" tanya Nanami sambil membenarkan letak helaian rambutnya.
Dongpyo menggeleng dan mengembalikan posisi tubuhnya menjadi tengkurap. "Enggak. Lagi libur seminggu sebelum masuk stase Dermatologi dan Venerologi. Cuma keluar buat bimbingan sebelum masuk stase baru. Belum aktif."
"Stase apa? Derma... apa tadi?" Nanami menaikkan sebelah alisnya.
Dongpyo tertawa pelan mendengarnya. "Dermatologi dan Venerologi. Kulit dan Kelamin. Masuk stase minor, jadi nggak seberat stase sebelumnya."
"Tinggal berapa stase lagi, Pyo?" tanya Nanami sambil meraih toples cemilannya.
Dongpyo berpikir sebentar, kemudian menggeleng sambil menganggkat bahunya. "Nggak ingat tinggal berapa. Ingatnya setelah Anak, Kulit dan Kelamin. Agak legaan aja bentar lagi tinggal minornya aja. Aku juga nggak pernah ngitung udah berapa, biar nggak kerasa lama."
Nanami tidak menjawab. Ponselnya terlihat disandarkan pada sesuatu, sementara pemiliknya tampak sibuk melakukan sesuatu.
"Naamin? Masih di sana?" Dongpyo menggoyang-goyangkan ponselnya, kemudian menyandarkannya di headboard tempat tidurnya.
Nanami terlihat mengangguk, tapi tidak fokus pada panggilan video. "Pyo, udah dulu ya? Aku mau ngelanjutin kerjaanku dulu. Nanti aku telepon lagi. Pai.. pai."
KAMU SEDANG MEMBACA
COASS COOPERATE 3.0 [Sequel of CC 2.0]
FanfictionSequel dari Coass Cooperate 2.0 Silakan membaca Coass Cooperate 2.0 apabila merasa bingung dengan plot Coass Cooperate 3.0 Seputar kehidupan para koass selama masa Program Profesi Dokter, bersama segala balada hidup dan asmaranya bersama teman sepen...
![COASS COOPERATE 3.0 [Sequel of CC 2.0]](https://img.wattpad.com/cover/196331077-64-k943864.jpg)