"Hee, kamu pulang bareng siapa?"
Minhee terlonjak kaget saat seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya dan bertanya padanya saat ia sedang menunggu Yunseong di depan IGD. Ia hampir saja mengumpat keras kalau tidak langsung mengendalikan keterkejutannya, menyadari kalau ia masih berada di ruang lingkup rumah sakit alias di depan IGD, dan melihat bahwa orang yang menyapanya barusan adalah Yury.
Sialan, apes banget hidup gue. Duh, mama, umpatnya dalam hati.
Yury tersenyum tipis dan melesakkan kedua tangannya di kedua sisi saku celananya. "Lagi nungguin dokter Yunseong, Hee?" tanyanya.
Minhee mengangguk kaku, sebisa mungkin menghindari tatapan Yury. "Iya, kak. Dokter Yunseong masih ada kerjaan sebenarnya, tapi bisa nyempatin antar pulang kok."
Yury mengangguk beberapa kali. Matanya berusaha mempertemukan pandangannya dengan pandangan Minhee, tapi ia menyadari bahwa berkali-kali Minhee berusaha mengelaknya. "Kamu belakangan ini sengaja menghindar ya?" tanyanya pelan.
Minhee mendadak ingin memukul kepalanya dengan tongkat penyihir, kemudian menghilang seperti debu. "Enggak kok, kak. Mungkin kebetulan aja nggak pernah ketemu. Kan aku sendiri lagi di stase Anak, dan kakak juga belakangan mungkin secara nggak sadar ternyata sibuk," jawabnya.
Yury terdiam sejenak. Hingga selang beberapa detik kemudian, ia mengangguk. "Mungkin. Bisa jadi gitu. Stase anak kan stase mayor, kamu pasti sibuk. Dan aku juga kayaknya belakangan ini juga sibuk."
Minhee tidak berani memberi tanggapan. Ia masih menatap lurus ke depan, tanpa berniat membalas tatapan Yury, meski ia sendiri menyadari bahwa Yury sedang menatapnya lekat-lekat.
Yury melesakkan kedua tangannya ke dalam saku celana semakin dalam dan menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. "Soal rekaman pesan suara waktu itu, aku minta maaf," katanya.
Minhee menoleh. Kali ini netranya bertubrukan dengan netra kelam Yury. Namun tak berselang lama, Minhee mengalihkan pandangannya dan menggeleng ricuh.
Harus ngomong apa ini gue? Mati aja deh gue. Dianya nembak, guenya malah pura-pura bego.
"Kalo kamu terganggu setelah dengar isi rekamannya, aku minta maaf. Tapi tolong jangan ada cangg--"
Minhee menggeleng cepat. "Udah aku unduh sih rekaman suaranya, tapi malah kehapus. Mau aku unduh lagi, Wheresappku malah kedaluwarsa akunnya. Jadi harus perbaruan. Eh malah hilang semua riwayat pesannya. Kak Yury ngirim rekaman apa emang?
Semoga manjur, semoga dia agak begoan dikit. Duh, kalo kebaca gue bohong, modar aja deh gue.
Untuk sejenak wajah Yury tampak terkejut. Setidaknya selama beberapa detik, hingga kemudian ia berhasil mengendalikan ekspresi wajahnya dan tersenyum. "Oh, jadi kamu belum sempat dengar?" tanyanya memastikan.
Minhee mengangguk. "Emang apa isinya, kak?" tanyanya, berpura-pura menghilangkan kecurigaan yang mungkin ada.
"Bukan apa-apa kok. Cuma suara ketawanya Hangyul sama Seungyoun. Bukan hal pen---"
"Dokter, bisa tolongin anak saya? Udah dari 2 jam lalu dia mengamuk, dok. Saya udah nyoba ikat, tapi dia malah meronta nggak karuan."
Atensi Minhee dan Yury teralihkan pada sepasang suami istri yang tampak sedang menahan rontaan dan menyeret seorang lelaki dewasa yang terluka di bagian kedua pergelangan kaki dan pergelangan tangannya. Kondisi lelaki itu tidak cukup baik, seperti lumayan lama tidak terkena sinar matahari, terlihat ketakutan dan kesal di saat bersamaan, dan terus memberontak meminta dilepaskan.
Beberapa perawat laki-laki senior langsung membantu sepasang suami istri itu mengurus - mungkin - putra mereka yang terus mengamuk meski ada luka-luka serius di kaki dan tangannya. Dan Yury langsung meninggalkan Minhee masuk ke dalam IGD untuk membantu menangani luka lelaki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
COASS COOPERATE 3.0 [Sequel of CC 2.0]
FanfictionSequel dari Coass Cooperate 2.0 Silakan membaca Coass Cooperate 2.0 apabila merasa bingung dengan plot Coass Cooperate 3.0 Seputar kehidupan para koass selama masa Program Profesi Dokter, bersama segala balada hidup dan asmaranya bersama teman sepen...
![COASS COOPERATE 3.0 [Sequel of CC 2.0]](https://img.wattpad.com/cover/196331077-64-k943864.jpg)