Eunsang mengerjap beberapa kali saat ia keluar dari kamarnya dan masuk ke ruang keluarga untuk mengambil bantal lehernya yang tertinggal di sana setelah 3 jam ia tertidur dan terbangun karena teringat kalau bantal lehernya masih di sana. Hal yang membuatnya terkejut saat memasuki ruang keluarga adalah lampu ruangan itu yang masih menyala, padahal biasanya selalu dimatikan saat memasuki waktu istirahat. Tapi ketika ia masuk ke sana, lampunya masih menyala dan kakaknya tampak sedang duduk beralaskan bantal duduk, kepalanya diletakkan di atas lipatan sikunya di atas meja, sementara di depannya menyala sebuah laptop dan sekitarnya penuh dengan buku-buku Orthopedi, juga kertas-kertas yang Eunsang tidak tahu apa itu.
Kemarin malam, kakaknya tidak pulang setelah dijemput Wooseok. Entah apa yang mereka lakukan, Eunsang tidak terlalu ambil pusing dan ia baru melihat kakaknya tadi pagi sedang menyuapi ayah mereka sendirian di kamar ayah mereka. Lalu ia tidak bertemu lagi. Midam berada di rumah sakit sepanjang hari dan ia sendiri hanya pergi untuk bimbingan, kemudian kembali ke rumah tanpa sempat bertemu Midam.
Tapi malam ini ia kembali melihat kakaknya setelah yang terakhir kalinya tadi pagi. Masih dengan laptop yang menyala dan buku-buku yang berserakan, kakaknya tampak sedang tertidur dengan kepala berada di atas meja, di antara buku-buku tebalnya dan kertas-kertasnya yang memusingkan. Juga dengan sebuah earphone yang terpasang di kedua telinganya.
Eunsang menggeleng pelan dan meraih kabel earphone untuk melepaskannya dari telinga Midam, kemudian mematikan musik yang berasal dari ponselnya kakaknya. "Udah tau kalo pakai beginian jangan sampai ketiduran, tetep aja bandel," gumamnya.
Ia beralih menata buku-buku berserakan di sekitar kakaknya, menutupnya dengan hati-hati tanpa menghilangkan tiap pembatas buku yang menjadi pedoman Midam untuk belajar. Ia meraih kertas-kertas yang telah dicoret-coret dengan bolpoin warna untuk menandai bagian per bagian dari anatomi dan fisiologi tulang, menumpuknya rapi di atas buku-buku ortopedi yang sebelumnya telah ia rapikan.
Hingga atensinya teralihkan pada buku Konsep Kamar Operasi dan Instrumentasi Bedah Orthopedi di bawah lipatan siku Midam yang luput dari penglihatannya sebelumnya. Dengan perlahan ia menyentuh lipatan siku Midam, menggerakkannya sepelan mungkin hingga Midam tidak tidak menyadari apapun, dan meraih buku itu agar tidak mengganggu tidur kakaknya. Tapi saat buku itu berada di genggamannya, beberapa kertas tampak jatuh dari bagian tengah buku dan Eunsang memungutnya.
Kertas pertama terlihat seperti kertas notes biasa berkertas polos dengan tulisan bolpoin merah berisi rincian belanja bulanan untuk bulan ini, juga buku-buku dan instrumen orthopedi yang harus dibeli oleh Midam. Untuk satu produk susu dan selai, Midam menulis 2 opsi dengan harga yang berbeda, serta kelebihan dan kekurangannya. Kemudian mencoret salah satu opsinya dan mencentang opsi yang lain.
Kertas kedua terlihat seperti kertas buku harian yang lebih tebal dan bergambang awan-awan lucu yang tampak ceria. Di sana tertulis rincian sisa tabungan ayah dan ibu mereka, rincian sisa tabungan Midam, biaya berobat ayah mereka, biaya PPDS Midam, rincian uang pemasukan yang masuk tiap bulannya berasal dari gaji Midam sebagai editor dan penerjemah freelance untuk sebuah kantor penerbitan, biaya keperluan Eunsang, biaya program profesi Eunsang, dan uang yang masuk ke rekening Eunsang setiap bulannya. Dan semua berasal dari satu sumber pemasukan, Midam. Hanya Midam.
Eunsang meremat kertas itu perlahan dan menatap kakaknya yang tampak tertidur di depan laptop yang menyala. Ada pekerjaan dari kantor penerbitan, tapi Midam juga harus belajar untuk PPDS-nya. Mungkin pekerjaan itu agak terganggu karena tugas Midam di rumah sakit juga tidak kalah padatnya, makanya kakaknya itu selalu mempertaruhkan waktu yang dimilikinya. Seharusnya ia tidur di malam hari, tapi ia justru bekerja.
"Berapa jam kakak tidur sehari? Terlalu sering begadang kan nggak sehat, kak," lirihnya. Ia memasukkan kembali kertas-kertas itu ke dalam buku, dan meletakkan buku itu di atas tumpukan buku yang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
COASS COOPERATE 3.0 [Sequel of CC 2.0]
Fiksi PenggemarSequel dari Coass Cooperate 2.0 Silakan membaca Coass Cooperate 2.0 apabila merasa bingung dengan plot Coass Cooperate 3.0 Seputar kehidupan para koass selama masa Program Profesi Dokter, bersama segala balada hidup dan asmaranya bersama teman sepen...
![COASS COOPERATE 3.0 [Sequel of CC 2.0]](https://img.wattpad.com/cover/196331077-64-k943864.jpg)