"Apa sih motivasi gue masuk kedokteran dulu?"
Seungyoun menarik kursi plastik berwarna hijau di samping Yury yang sedang menelungkupkan kepala di atas meja sambil menguap lebar. Matanya memandang lurus ke arah gelas kopi Yury yang tinggal separuh. "Sebenarnya apa motivasi gue masuk kedokteran sejak jaman baheula?" tanyanya sekali lagi, lebih pada dirinya sendiri.
Hangyul menggeleng. Matanya ikut menatap gelas kopi milik Yury yang isinya tersisa separuh, sementara gelas kopinya sudah tidak berisi. "Sewaktu gue masih kecil, di mata gue jadi dokter itu kayaknya enak. Jalan sambil senyam-senyum pakai jas putih, dandannya rapi, rambutnya klimis, dan jelas katanya sih berduit. Setelah gue menjalani sendiri..."
Yury mengangkat kepalanya dan memandangi gelas kopi Hangyul yang separuhnya terisi ampas kopi hitam pekat dari bubuk kopi dengan kualitas paling standar. "Gimana gue bisa jalan sambil senyum-senyum kalo tiap gue berhadapan sama satu pasien skizofrenia diferentiatif aja tiap hari diketawain mirip mas pangeran katanya?" ujarnya.
Seungyoun menoleh, menatap Yury prihatin. Ia mengulurkan tangannya untuk menepuk punggung teman sejawatnya. "Sabar ya, bro. Mungkin lo emang pangeran. Pangeran yang kudanya lepas, makanya nyasar ke sini," katanya.
"Gimana gue bisa berdandan rapi kalo gue sendiri nggak punya waktu dandan? Jangankan waktu dandan, waktu mandi aja jarang." Hangyul menambahi.
Yury mengangguk samar. Ia meraih gelas kopinya dan menandaskan kopi hitam berkualitas paling standar itu dari gelasnya. "Gimana rambut gue mau klimis kalo duit bakal beli shampo aja malah gue beliin makanan biar hidup gue lebih nikmat?"
"Katanya internship jadi ajang ketemu jodoh, tapi kenapa setiap hari gue malah ketemu cobaan hidup? Boro-boro ketemu jodoh, calon jodoh gue aja udah nempel mulu sama PPDS, bedah pula. Ya walaupun udah putus, kan rasa cintanya tetap ada. Kalo sesama internship atau malah koass sih enteng, ini PPDS udah semester 5. Tinggal 5 semester lagi jadi. Gue mah apaan, remahan rempeyek," Seungyoung berujar panjang kali lebar.
Hangyul menumpukan dagunya di meja sambil mengucek matanya yang terasa sangat berat. "Kayaknya enak banget ya kalo udah PPDS. Koass dikedipin doang udah lemah, apalagi disenyumin plus dikasih tentiran, langsung terjerat. Udah berapa koass yang kejerat sama PPDS."
Yury menggeleng. "Kok jaman gue koass dulu nggak ada residen yang menarik hati sih? Mereka senyum, ya gue balas senyum biasa," balasnya.
"Ya gimana mereka mau kelihatan menarik di mata lo kalo di mata lo cuma Minhee yang menarik. Udah lepasin aja, bro. Saingan lo PPDS Saraf semester 5, yang tinggal 3 semester lagi udah jadi," Seungyoun memberi tanggapan sambil meraih pisang goreng dingin dengan tepung yang bahkan sudah mengeras di atas piring yang ada tepat di depan wajah Hangyul.
Hangyul menunjuk Seungyoun lurus-lurus. "Lo sendiri, udah lupain aja si Yohan. Mantannya residen bedah yang udah setengah jalan. Lo masih bukan apa-apa. Cuma dokter internship, you can't relate. Yohan seleranya PPDS. Di mata pasien, lo emang dokter. Tapi di mata konsulen, lo cuma dokter cilik."
Tawa Yury meledak saat mendengar kalimat terakhir yang dikatakan Hangyul. "Walaupun perawat serumah sakit, pak satpam, sama para pekerja rumah sakit manggil lo dok, tapi konsulen tetap manggil lo dek."
"Hasil 6 tahun belajar tepat waktu adalah dokter cilik di mata konsulen. Udah bukan koass, tapi tetap dokter cilik di mata konsulen. Orang lain panggil lo dok, dan konsulen manggil lo dek. Bahkan PPDS juga manggil lo dek," Hangyul terbahak keras setelahnya, seakan melupakan rasa ngantuknya.
Seungyoun mengunyah pisang gorengnya penuh emosi. "Awas aja. Tunggu gue masuk PPDS dan jadi dokter beneran, bukan dokter cilik lagi."
"Kita bertiga, badan doang bongsor. Di mata konsulen ya tetap kayak anak TK lagi main dokter-dokteran alias dokter cilik. Cuma di mata pasien kita jadi dokter, di mata konsulen ya tetap kayak bocah nyamar jadi dokter," Yury menambahkan sambil meraih tahu isi super keras berisi mie bihun dan potongan wortel-kubis.
KAMU SEDANG MEMBACA
COASS COOPERATE 3.0 [Sequel of CC 2.0]
FanfictionSequel dari Coass Cooperate 2.0 Silakan membaca Coass Cooperate 2.0 apabila merasa bingung dengan plot Coass Cooperate 3.0 Seputar kehidupan para koass selama masa Program Profesi Dokter, bersama segala balada hidup dan asmaranya bersama teman sepen...
![COASS COOPERATE 3.0 [Sequel of CC 2.0]](https://img.wattpad.com/cover/196331077-64-k943864.jpg)