"Dam, mau pulang bareng gue?"
Midam yang semula berdiri di dekat pintu keluar bagian belakang rumah sakit lantas menoleh ke arah Yunseong yang tiba-tiba berdiri di sampingnya saat ia sedang berniat memesan ojek online. Ia lantas menggeleng. "Nggak usah, Seong. Gue pesen ojek online aja. Lagian nggak enak sama Minhee kalo gue pulang bareng lo," jawabnya.
Yunseong melirik jam tangannya sekilas. "Minhee kebagian jaga lagi hari ini, jadi gue nggak ngantar dia pulang kok. Ayo, pulang bareng gue aja daripada lo sendirian nunggu di sini."
"Serius nggak papa kalo gue pulang bareng lo?" Midam menatap Yunseong tidak yakin, berusaha menyakinkan dirinya, juga Yunseong.
Yunseong mengangguk dan meraih satu tangan Midam. "Jangan mikir kejauhan, Dam. Kita udah temenan lama dan kita udah sama-sama gede. Santai aja kalo mau pulang sama gue, kayak lo pulang bareng Wooseok atau yang lainnya."
Midam mengangguk dan mengekor langkah di belakang Yunseong, sambil sesekali menatap ponselnya. Pesan singkatnya belum dibalas dan seringkali dibalas sangat terlambat belakangan ini. Kadang-kadang ini membuatnya kesal, tapi terkadang ia juga merasa bahwa ini adalah sebuah balasan terhadap apa yang telah dilakukannya dalam diam.
Yunseong memasang sabuk pengamannya tepat setelah Midam masuk dan duduk di jok sampingnya, kemudian menutup pintu. "Kenapa, Dam? Kok kayak lagi nungguin sesuatu?" tanyanya curiga.
Midam menggeleng dan bergerak memasang sabuk pengaman ke tubuhnya. "Enggak kok, Seong. Bukan apa-apa," jawabnya lirih.
"Serius bukan apa-apa? Kalo ada yang mau diambil atau ada yang ketinggalan, bilang aja. Gue tungguin di sini, Dam," Yunseong kembali memastikan.
Untuk kesekian kalinya, Midam menggeleng. "Nggak papa kok. Jalan aja, Seong. Nggak ada barang yang ketinggalan kok. Poli juga udah dikunci sama dokter Seongwoo."
Tidak ingin mengorek Midam terlalu dalam dan membuat residen orthopedi itu merasa tidak nyaman, Yunseong lantas hanya diam dan melajukan mobilnya perlahan meninggalkan kawasan rumah sakit. Untungnya hari ini ia tidak terlalu banyak pasien dan tidak terlalu memiliki banyak pekerjaan, jadi ia bisa pulang ke apartemennya. Meski ia berharap bisa mengantar Minhee hari ini, nyatanya Minhee mendapat jadwal jaga malamnya lagi, sehingga ia harus pulang sendiri.
Yunseong menyalakan musik di dalam mobil dengan volume rendah. Ia ingat bahwa Midam tergila-gila pada Westife - sama halnya dengan Wooseok - jadi ia memutuskan memutar musik-musik milik Westlife untuk sedikit mengurangi senyap di dalam mobilnya.
Beberapa menit berlalu, Yunseong melirik sebentar ke arah Midam, tepat saat ia mengurangi kecepatannya mendekati traffic light yang tampak berwarna merah, hingga membuat mobilnya terhenti.
Midam tampak memandang ke luar jendela tanpa bergeming apapun, bahkan ia juga tidak mengomentari jalanan malam ini yang tampak lebih sepi daripada biasanya, padahal biasanya Midam akan mengomentari jalanan yang terlalu ramai dan mengaitkannya dengan banyaknya kecelakaan lalu lintas, sehingga membuat pekerjaan dokter orthopedi menjadi sedikit lebih banyak daripada biasanya.
Yunseong menarik napas pelan dan mengembuskannya perlahan. "Dam, lagi banyak pikiran ya?" tanyanya.
Midam menoleh dan menggeleng. "Enggak kok," jawabnya. Ia tampak meremat ponsel dalam genggamannya, menunjukkan sebuah roomchat yang masih terbuka.
"Pesannya belum dibalas sama Eunsang?" Yunseong bertanya lagi setelah melihat nama siapa yang tertulis di roomchat ponsel Midam.
Midam mengangguk samar, kelewat samar hingga nyaris tidak terlihat. "Lo tau dari mana kalo pesan gue belum dibalas sama Eunsang?"
KAMU SEDANG MEMBACA
COASS COOPERATE 3.0 [Sequel of CC 2.0]
Fiksi PenggemarSequel dari Coass Cooperate 2.0 Silakan membaca Coass Cooperate 2.0 apabila merasa bingung dengan plot Coass Cooperate 3.0 Seputar kehidupan para koass selama masa Program Profesi Dokter, bersama segala balada hidup dan asmaranya bersama teman sepen...
![COASS COOPERATE 3.0 [Sequel of CC 2.0]](https://img.wattpad.com/cover/196331077-64-k943864.jpg)