Sequel dari Coass Cooperate 2.0
Silakan membaca Coass Cooperate 2.0 apabila merasa bingung dengan plot Coass Cooperate 3.0
Seputar kehidupan para koass selama masa Program Profesi Dokter, bersama segala balada hidup dan asmaranya bersama teman sepen...
Minkyu yang tadinya sibuk mempelajari beberapa hal mengenai struktur otak dan onkologi dengan ditemani secangkir kopi langsung menoleh ke arah pintu begitu ia mendengar suara pintu kamarnya dibuka perlahan dan diikuti suara mamanya. Ia lantas meletakkan bolpoinnya dan memutar kursinya menjadi menghadap ke arah pintu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mamanya tersenyum dan masuk ke dalam kamarnya sambil membenarkan pakaian bagian lengannya yang menganggu gerakannya. "Lagi belajar apa, Nak?" tanyanya perhatian.
Minkyu menunjuk ke arah meja belajarnya dengan ujung dagunya. "Belajar sedikit soal onkologi sama struktur otak, ma. Tumben mama ke sini. Ada apa?" sahutnya.
"Nggak papa. Mama cuma pengen lihat kamu lagi ngapain soe-sore gini," Sang mama menjawab sambil mendudukan dirinya di ujung tempat tidur Minkyu. Ia menatap satu persatu tumpukan buku, lapton, tablet, dan alat tulis di meja belajar Minkyu, kemudian beralih menatap beberapa sticky notes yang tertempel di dinding. "Biasanya kamu belajar malam. Kok jam segini udah belajar? Ini masih sore lho," katanya.
Minkyu mengangguk sekilas dan memutar kursinya untuk menghadap mamanya, memunggungi meja belajarnya. "Nanti malam mau ke rumah Wonjin, ma. Kayaknya mau nginap sampai besok pagi, baru setelah bimbingan stase psikiatri, balik ke rumah. Udah agak lama aku nggak nginap di rumahnya Wonjin. Aku kepikiran dia kenapa-napa," jelasnya.
Mamanya mengangguk dan mengalihkan pandangan pada beberapa lettering super kreatif bergambar anatomi paru-paru, ginjal, dan jantung lengkap dengan penjelasannya di setiap bagian pentingnya. "Gambar-gambar itu yang buat..."
"Junho yang buat dulu." Minkyu menoleh ke samping dan melihat hasil gambar Junho beberapa tahun silam. Gambar-gambar kreatif tentang anatomi jantung, paru-paru, dan ginjal yang penuh warna dan memiliki penjelasan paling sederhana hingga mudah dimengerti. "Dia yang buat dulu waktu masih preklinik, katanya biar sainganku sama Eunsang lebih berwarna, nggak kayak persaingan militer yang abu-abu. Dia juga gambarin buat Eunsang sama Yohan, tapi beda."
Mamanya mengangguk. "Kyu, mama tau kalo jarak waktu kamu buat ambil PPDS masih lama, tapi mama pengen nanya sama kamu, minatmu di mana? PPDS apa yang kamu mau?"
Minkyu kembali menoleh untuk menatap tumpukan buku di belakangnya, juga beberapa gambar yang tadinya ia perhatikan dengan seksama. Beberapa detik, hingga kemudian ia kembali menatap mamanya. "Mungkin bedah, ma. Tapi kalo ambil bedah, kemungkinan agak lama soalnya ada sekitar 10 semester yang harus ditempuh, itupun kalo nggak ada halangan waktu residenannya. Aku sebenarnya mempertimbangkan dua, antara neurologi atau bedah. Tapi aku lebih interest sama bedah. Aku punya pandangan ke bedah waktu aku beberapa diskusi bareng dokter Minhyun."
"Dokter konsultan yang nangani pacarmu itu?" Mamanya bertanya lagi.
Minkyu mengangguk sambil menyandarkan dadanya pada sandaran kursi belajarnya. "Sebenarnya waktu kuliah dulu aku pernah mikir beberapa kali antara orthopedi atau pediatri, tapi berubah waktu masuk masa skripsi. Sempat mikir antara patologi anatomi atau radiologi. Tapi sewaktu sering diajak diskusi bareng dokter Minhyun, jadi ada keinginan ambil bedah. Wonjin juga rencananya mau ambil bedah buat PPDS. Ya antara bedah atau neurologilah."