An Introduction As A Start

10.9K 2.2K 2.5K
                                        

Sebenarnya Seungwoo berniat langsung pulang malam ini setelah mengetahui kalau Byungchan lagi-lagi harus disibukkan dengan jadwal malam untuk kesekian kalinya. Interna memang punya banyak kasus yang tiada habisnya, nyaris semua penyakit harus dikonsultasikan ke bagian Interna, jadi Byungchan punya jadwal jaga malam lebih padat daripada residen dari PPDS lain- selain Pediatri yang sama-sama padatnya.

Sialnya malam ini Byungchan kembali jaga malam untuk menggantikan tugas jaga rekan sesama residen Internanya yang harus dirawat karena infeksi saluran kencing. Tapi niatnya untuk langsung pulang seketika tertunda begitu ia melihat sesosok dokter internship berkemeja biru navy sedang berdiri tidak jauh dari mobil silvernya.

Cho Seungyoun, tampak sedang menatap ponselnya gusar sambil sesekali melongokkan kepala seperti menunggu kehadiran seseorang. Lelaki berwajah androgini dengan tubuh indah semampai itu melakukannya berulang kali sambil sesekali menoleh ke kanan-kiri. Inilah yang membuat Seungwoo mengurungkan niatnya untuk langsung pulang dan memilih menghampiri Seungyoun yang semakin lama terlihat semakin gusar, hingga beberapa kali meremat kuat ponsel menyala di tangannya.

Ia baru saja akan berdeham mengagetkan Cho Seungyoun kalau saja dokter intership itu tidak lebih dulu menoleh ke arahnya dan terkejut lebih dulu sampai nyaris menjatuhkan ponselnya.

Seungwoo terkekeh pelan. "Saya bahkan belum ngagetin kamu, tapi kamu udah kaget duluan," katanya ringan. Ia menatap ke setiap lekukan wajah Seungyoun yang terlihat menatapnya gusar.

Seungyoun tidak menanggapinya, melainkan berusaha berjalan melewatinya tanpa mengatakan sepatah katapun. Tapi Seungwoo tidak membiarkan Seungyoun berlalu begitu saja. Residen psikitri itu mencekal lengan kiri Seungyoun erat, hingga menimbulkan ringisan tertahan di bibir tipis Seungyoun.

"Kamu mau ke mana?" tanya Seungwoo. Ia menarik Seungyoun untuk kembali berdiri di posisi semula, tepat di depannya. Matanya yang teduh berusaha menatap ke dalam mata Seungyoun yang tampak menyiratkan kegusaran dan kekesalan di saat bersamaan.

"Mau pulang." Seungyoun menjawab acuh, selagi matanya berusaha menghindari tatapan Seungwoo yang bersifat melumpuhkan. Ia beberapa kali menarik tangannya dari cengkraman Seungwoo, namun bukannya terlepas atau mengendur, Seungwoo justru semakin mempererat cengkraman tangannya. Seungyoun mungkin saat ini sedang bertaruh dengan dirinya sendiri bahwa pergelangan tangannya pasti sudah memerah.

Seungwoo menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Menyadari Seungyoun yang bersikap defensif terhadapnya, ia terpaksa melonggarkan cengkramannya dari pergelangan tangan Seungyoun, tapi tidak benar-benar melepaskannya. "Saya mau bicara sesuatu sama kamu, Youn," katanya.

"Bicara apa? Ya udah, bicara di sini." Seungyoun menanggapi dengan nada yang menunjukkan bahwa ia tidak berkenan untuk bicara bertatap mata intens dengan Seungwoo. Dan sebagai orang yang banyak mempelari mengenai perilaku manusia, Seungwoo jelas bisa memahaminya.

Seungwoo menoleh ke sekitarnya sebentar, sebelum akhirnya kembali menatap ke arah Seungyoun. "Kamu tau cara bersikap sopan saat bicara sama orang yang lebih tua dari kamu?" tanyanya mengintimidasi.

"Dokter tau cara bersikap sopan terhadap orang yang baru dikenal tanpa sembarangan mencium di tempat umum?" Seungyoun membalas tatapan Seungwoo, tepat ke matanya. Terlihat ingin melawan, tapi gentar di saat bersamaan.

Seungwoo menarik napss panjang untuk kedua kalinya, dan mengembuskannya perlahan. "Oke, soal yang terjadi beberapa hari yang lalu, saya minta maaf. Tapi kali ini saya mau bicara sama kamu serius, Youn," katanya mengalah.

"Kalo emang mau bicara, ya udah bicara di sini sekarang. Saya nggak punya banyak waktu karena saya harus pulang buat istirahat juga, dok."

Untuk kedua kalinya, Seungwoo kembali menoleh ke sekitarnya. Ia melihat beberapa perawat dan residen dari PPDS lain sedang menatap ke arah mereka sebelum akhirnya berlalu dengan desas-desus yang mungkin akan dibawa ke departemen mereka masing-masing. "Boleh, kalo kamu mau jadi gosip satu rumah sakit besok paginya. Semua orang di rumah sakit kenal siapa saya dan kalo kamu mau kita bicara di sini, saya harap kamu nggak keberatan kalo besok jadi topik gosip satu rumah sakit."

COASS COOPERATE 3.0 [Sequel of CC 2.0]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang