Sequel dari Coass Cooperate 2.0
Silakan membaca Coass Cooperate 2.0 apabila merasa bingung dengan plot Coass Cooperate 3.0
Seputar kehidupan para koass selama masa Program Profesi Dokter, bersama segala balada hidup dan asmaranya bersama teman sepen...
Midam tidak tahu apa motivasi Cha Eunwoo datang ke rumahnya jam 9 malam setelah ia makan malam, mengobrol sebentar dengan papanya, dan mengantar papanya ke kamar. Ia baru saja akan naik ke kamarnya di lantai dua kalau saja bel rumahnya tidak berbunyi dan sekarang di sinilah ia, duduk menemani Cha Eunwoo di ruang tamu. Ini sudah malam untuk sekedar bertamu ke rumah seseorang yang bahkan baru dikenal, tapi Cha Eunwoo seperti datang ke sini seakan tidak masalah datang bertamu jam 9 malam. Hell, besok Midam harus pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali dan ia yakin Eunwoo memiliki rutinitas yang tidak jauh berbeda dengannya. Tapi kenapa dokter satu ini malah bertamu ke rumahnya?
Ternyata selain mudah oleng dan menabrak sesuatu, Eunwoo rupanya tipe orang yang senang bertamu tanpa memerhatikan apa yang akan dilakukan tuan rumahnya. Midam yakin kalau dokter satu ini bisa melihat wajahnya yang lelah, matanya yang mengantuk, dan ia yang sudah menggunakan setelan piyama untuk tidur. Jadi bagaimana bisa ia menemani Eunwoo duduk di ruang tamu dengan Eunwoo yang masih menggunakan kemeja bermotif garis-garis dengan warna hitam dan abu-abu, sedangkan ia sudah mengenakan setelan piyama?
Kepala pusing. Apa sih yang sedang salah dengan kinerja otak di dalam kepala Cha Eunwoo? Kenapa pula ia selalu dihadapkan dengan tingkah aneh bin ajaib orang di depannya ini? Benar-benar tidak ada bedanya dengan Jinhyuk, hanya saja dengan takaran yang lebih bisa ditoleransi.
"Jadi gimana?" Eunwoo tiba-tiba menoleh dan menatapnya dengan tatapan kebingungan, yang justru membuatnya ikut bingung tentang apapun hal yang sedang membingungkan Eunwoo.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Midam menggeleng. "Apanya yang gimana?" Ia malah balas bertanya.
"Gimana keadaan Junho?" tanyanya, memperbaiki pertanyaannya yang sebelumnya terdengar begitu abu-abu.
Ekspresi di wajah Midam berubah datar. Sekarang ia benar-benar mengira ada yang tidak beres di dalam kepala Eunwoo. "Kenapa tanya aku? Tanya sama Eunsang, kan dia yang bantu ngurusin Junho. Bukan aku. Harusnya kamu tanyanya sama Eunsang, jangan sama aku. Salah alamat."
Eunwoo memutar matanya pelan. "Aku tanyanya satu, kamu jawabnya lima. Tinggal jawab kalo kamu nggak tau, gitu aja. Jangan dipanjangin," balasnya.
Midam menggeleng beberapa kali. Badannya yang capek, matanya yang ngantuk, dan malam yang semakin larut, membuatnya ingin menendang atau mengusir Eunwoo dari rumahnya. Benar-benar menjengkelkan berbicara dengan manusia yang satu ini. Lebih menjengkelkan daripada berbicara dengan Jinhyuk. Tapi ia masih cukup manusiawi untuk tidak menendang atau mengusir Eunwoo dari rumahnya dengan keadaan cowok itu yang kebingungan dan seperti ingin mengataan sesuatu, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Midam beralih membuka toples biskuit serena di meja dan mengulurkannya pada Eunwoo, yang membuatnya justru semakin ingin menendang Eunwoo keluar rumah karena responnya hanya sekedar menatap toples biskuit itu, kemudian kembali menutupnya padahal Midam sudah membuka dan berniat menyuguhkan biskuit itu kepadanya.