Kakak💙 (5)
Sang kakak pulang duluan
19.07
Kamu hati-hati jaga malemnya
19.08
Makan malamnya jangan lupa
19.08
Kalo sempat balas ya
19.09
Sang kalo pulang telepon dulu, pagernya kakak kunci
21.08
Eunsang memandang datar pesan terakhir yang dikirimkan kakaknya. Ia hanya diam dan memandangnya berulang kali, tapi belum tergerak sama sekali untuk membalasnya. Setiap melihat nama kakaknya, ada banyak perasaan yang tidak bisa ia jelaskan secara gamblang pada kakaknya. Tentang rasa sayangnya, tentang rasa kecewanya, juga tentang rasa sedihnya. Ia tidak terbiasa mengabaikan kakaknya, jadi ketika ia berusaha mengabaikan kakaknya, ada rasa bersalah yang menyelinap ke dalam hatinya. Tapi ia tidak dapat berbohong bahwa ia pun merasa kecewa bahwa kakaknya bertindak begitu jauh di belakangnya.
Eunsang menggeleng pelan dan memilih membaca riwayat pesan sebelumnya, sehari lalu atau bahkan dua hari lalu. Hanya pesan singkat sederhana. Tidak ada yang istimewa. Kakaknya hanya bertanya dia sedang apa, di mana, sudah makan atau belum, jaga malam atau tidak, sudah makan siang atau belum, sebanyak apa pasiennya, dan bagaimana harinya, dan ia selalu membalasnya terlambat.
Jika Midam mengirim pesan jam 10 siang, maka ia akan membacanya sesaat setelah pesan itu masuk. Tapi membalasnya nanti, beberapa jam kemudian. Sangat terlambat. Ia tahu kalau kakaknya bukan orang yang sedang menunggu, apalagi menunggu sesuatu yang membuatnya khawatir, tapi entahlah, ia tetap melakukannya.
Mungkin ini adalah bentuk refleksi dari kekecewaannya, juga kekesalan yang tidak bisa diungkapkannya. Ia tahu bahwa ia berhutang banyak terhadap kakaknya, tapi ia juga hanya manusia biasanya yang bisa merasakan kesal dan kecewa, bahkan pada orang terdekatnya.
Pintu counter perawat sayap A terbuka dan tampak Eunwoo masuk ke sana sambil membawa beberapa kotak makanan di tangannya. Residen itu tampak tersenyum pada beberapa perawat di sudut lain counter dan memberikan beberapa kotak yang ia bawa ke arahnya, kemudian berjalan mendekati Eunsang yang duduk di sofa panjang dekat galon air.
Ia berdeham pelan, kemudian duduk di samping Eunsang. "Kok ngelamun, dek? Awas kesambet lho malam-malam begini malah ngelamun," katanya sambil meletakkan sekotak Dunkin Donuts ke paha Eunsang.
Eunsang mengerjap beberapa kali dan menoleh ke samping. "Ini apa, dok?" tanyanya bingung.
"Donat. Biar kamu nggak ngantuk jaga malamnya. Itu perawat-perawat udah saya beliin sekalian. Spesialis-spesialis yang nggak pulang juga udah saya beliin. Itu khusus buat kamu." Eunwoo tersenyum dan menunjuk kotak di pangkuan Eunsang dengan ujung dagunya.
Eunsang tersentum tipis dan mengangguk. "Makasih, dok," lirihnya.
"Kamu lagi mikirin sesuatu? Ada yang ganggu pikiran kamu?" Eunwoo bertanya, sesaat setelah menyadari ada roomchat yang masih terbuka di ponsel Eunsang. "Pacar kamu ya?"
Eunsang menggeleng sambil membuka kotak di pangkuannya. "Enggak kok. Kakak saya. Saya nggak punya pacar," jawabnya.
Eunwoo mengangguk mengerti dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. "Dibales dong, dek, pesannya. Kasihan kakakmu. Pasti udah nungguin. Kalo kamu emang sibuk, bilang aja sibuk. Dia pasti ngerti kok. Jangan didiemin gitu, nanti kakakmu kepikiran," katanya.
Eunsang memandang ponselnya sebentar. Kakaknya sedang online. Pasti sudah melihat tanda kalau pesannya sudah dibaca, tapi tidak kunjung dibalas padahal ia juga sedang online. Tapi beberapa detik kemudian, Eunsang mengeluarkan chatnya dan beralih mengunci layar ponselnya. Ia akan membalasnya nanti, beberapa jam setelah ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
COASS COOPERATE 3.0 [Sequel of CC 2.0]
FanfictionSequel dari Coass Cooperate 2.0 Silakan membaca Coass Cooperate 2.0 apabila merasa bingung dengan plot Coass Cooperate 3.0 Seputar kehidupan para koass selama masa Program Profesi Dokter, bersama segala balada hidup dan asmaranya bersama teman sepen...
![COASS COOPERATE 3.0 [Sequel of CC 2.0]](https://img.wattpad.com/cover/196331077-64-k943864.jpg)