Sequel dari Coass Cooperate 2.0
Silakan membaca Coass Cooperate 2.0 apabila merasa bingung dengan plot Coass Cooperate 3.0
Seputar kehidupan para koass selama masa Program Profesi Dokter, bersama segala balada hidup dan asmaranya bersama teman sepen...
Oke, lengkaplah sudah suasana pagi di apartemen Wooseok pagi ini sebelum bertugas ke rumah sakit. Apalagi kalau bukan Jinhyuk yang mendadak uring-uringan karena Ddam - kucing peliharaan Wooseok - yang sejak tadi menggelayuti kakinya.
Ralat, bukan sejak tadi. Tapi sejak kemarin malam sejak Jinhyuk memutuskan untuk menginap di apartemen Wooseok. Kucing itu selalu mengekori langkahnya, mendusel manja di antara kedua kakinya, mengeong seakan mengajak Jinhyuk untuk bermain, tiba-tiba naik ke pangkuannya saat ia sedang bermanja ria pada Wooseok, atau melompat ke wajahnya tadi pagi, sehingga begitu Jinhyuk membuka mata, wajah lucu kucing itulah menyambutnya. Bukan wajah rupawan Wooseok.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dan finalnya adalah beberapa saat lalu. Ddam memutari kakinya, mendusel manja di kaki kanannya saat ia hendak menggunakan celananya, hingga Jinhyuk tidak sengaja menginjak ekor kucing betina bernama Ddam itu, menimbulkan protes dan cakaran panjang di tungkai kaki Jinhyuk.
Oke, mulai hari ini, Jinhyuk memutuskan untuk mengibarkan bendera perang terhadap segala jenis kucing yang berada di dekatnya. Temasuk Ddam.
Wooseok menggelengkan kepala dan enggendong kucingnya sambil mengelus kepalanya. "Kamu tuh ngapain sih masih pagi udah ribut sama kucing?" tanyanya heran.
Wooseok menyipitkan matanya. "Ddam nggak nakal ya. Kamu aja yang nggak ngerti bahasa tubuh kucing. Lagian dia emang nggak bandel kok."
Dan Jinhyuk melotot kesal saat kucing itu justru dengan manjanya mendusel nyaman di dada Wooseok sambil mengeong manja.
Jinhyuk mencibir dan mengalihkan pandangannya. "Lagian itu kucing ngapain kamu kasih nama Ddam sih? Kalo manggil udah kayak manggil Midam aja. Kamu kira Midam kucing apa?"
"Ya emang kenapa kalo dinamain Ddam? Midam juga nggak protes kok. Ini kucing kami karena belinya patungan. Lagian kamu nggak bisa lihat, dia mirip Midam."
Jinhyuk menoleh, mengamati kucing di depannya lekat-lekat. "Enggaklah, darimananya mirip Midam? Tetep mirip kucinglah. Dia kan Felis catus, kalo Midam kan Homo sapiens. Bedalah."
"Lagian kamu tuh kenapa sih kesel banget kelihatannya sama Ddam dari kemarin?" Wooseok mengusap lembut puncak kepala Ddam yang bersandar nyaman di dadanya, sambil sesekali memainkan salah satu kaki depan kucing itu.
Tolong ingatkan Jinhyuk untuk tidak merasa iri pada hewan mamalia bernama kucing betina di gendongan Wooseok.
"Kucingmu tuh ngikutin aku terus. Nggak di kaki, tiba-tiba minta pangku, lompat di wajahku. Emang biasanya dia gitu? Kayaknya ini pertama kalinya aku ketemu Ddam, biasanya kucing kan takut sama orang yang pertama kali ditemui."